CATATAN KECIL ATAS BERITA PERTEMUAN SYAIKH AL-HUWAINI DENGAN SYAIKH AL-‘ABBAD



CATATAN KECIL ATAS BERITA PERTEMUAN SYAIKH AL-HUWAINI DENGAN SYAIKH AL-‘ABBAD

Oleh : al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Segala puji hanyalah milik Allah Pengatur semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga dan sahabat beliau.

Amma Ba’d : Syaikh Abû Ishâq al-Huwainî telah mengunjungi diriku pada hari Jum’at, 23/8/1438 setelah ashar. Salah satu sahabat beliau menuliskan tentang isi pertemuan yang terjadi diantara kita. Dan berikut ini adalah beberapa catatan atas tulisannya :

  1. Dia (penulis) menyebut diriku sebagai ahli hadits Madinah. Hal ini tidak benar, karena realitanya saya hanyalah salah seorang penuntut ilmu di Madinah.

Catatan penerjemah : Subhânallâh, beginilah akhlaq dan sifat seorang ‘âlim robbânî. Begitu begitu sangat tawadhu’ sehingga menolak disebut sebagai ahli hadits Madinah, padahal realitanya beliau termasuk ulama ahli hadits dan ulama senior di zaman ini yang masih hidup. Semoga Allah memanjangkan usia beliau di atas ketaatan, memberkahi usia, waktu dan amal beliau, dan menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan umat Islam.

  1. Dia menyebutkan bahwa Syaikh al-Albânî rahimahullâhu saat perjalanan haji 1438 H, mengendarai mobil (hanya) denganku dan Syaikh Muhammad al-‘Abûdî saja (hanya bertiga, pent.). Padahal sebenarnya, kami berkendara bersama beliau dalam perjalanan ini (berlima, pent.) yaitu saya, Syaikh al-‘Abûdî, Syaikh ‘Umar bin Muhammad Fallâtah rahimahullâhu dan orang keempat yang yang lupa namanya.
  2. Dia menyebutkan bahwa Syaikh ‘Athiyah Muhammad Sâlim rahimahullâhu adalah sahabat kelas saya di Universitas Islam Madinah dan Riyadh. Sebenarnya, saya bersahabat dengan Syaikh ‘Athiyah saat mengambil studi di Riyadh, dan beliau setahun atau dua tahun lebih dulu dariku. Saya juga menjadi rekan beliau saat mengajar (menjadi dosen) di Universitas Islam Madinah.
  3. Dia menyebutkan bahwa Syaikh Hammâd al-Anshôrî rahimahullâhu adalah termasuk salah satu guruku yang senior. Ini tidak tepat, karena saya tidak pernah belajar kepada Syaikh Hammâd. Namun saya menemani beliau mengajar di Universitas Islam Madinah (rekan seprofesi dosen, pent.). Guruku yang kelima adalah syaikh ‘Abdullâh bin Shâlih al-Khulaifî rahimahullâhu.
  4. Dia menyebutkan bahwa keengganan saya dengan ditranskripnya kajian-kajian syarah (penjelasan hadits) saya di Masjid Nabawi sehingga menjadi buku adalah karena belum memungkinkan (karena ketiadaan waktu) untuk membacanya setelah ditranskrip. Lalu dia menyebutkan perkataan saya : “Mau tidak mau saya hanya bisa memberikan syarah saja”. Padahal sebenarnya, waktu lapang yang mungkin bisa kugunakan untuk membaca (mengoreksi transkrip), saya pergunakan secara khusus -mau tidak mau- untuk mempersiapkan pelajaran (kajian) dan selainnya yang mana saya memerlukan untuk menuliskannya.
  5. Dia menyebutkan tentangku mengenai perbandingan antara Alfiyah al-‘Irâqî dengan Alfiyah as-Suyuthî bahwa Alfiyah al-‘Irâqî di dalamnya banyak faidah. Sesungguhnya, kedua buku Alfiyah ini banyak faidah di dalamnya, akan tetapi keistimewaan Alfiyah al-‘Irâqî ini terletak pada pendahuluannya dan penjelasan (syarah)-nya yang banyak.
  6. Dia menyebutkan -setelah makalah saya tentang rujuknya al-Hâfizh an-Nawawî dan al-Hâfizh Ibnu Hajar kepada madzhab ahlis sunnah dipublikasikan- bahwa saya mengatakan : “sedangkan an-Nawawi sendiri, mayoritas pendapat beliau di dalam masalah aqidah lebih jelas daripada Ibnu Hajar.” Kenyataannya, bahwa an-Nawawi sebelum beliau rujuk ke madzhab Ahlis Sunnah, beliau lebih jelas di dalam menetapkan madzhab Asy’ariyah ketimbang Ibnu Hajar. Namun setelah keduanya (an-Nawawi dan al-Asqolani) rujuk ke madzhab Ahlis Sunnah, an-Nawawi lebih jelas di dalam menetapkan aqidah Ahlis Sunnah.
  7. Dia menyebutkan bahwa saya mengatakan : “Ibnu Hajar, beliau menulis buku Fathul Bari lalu menghafalkannya.” Realitanya, beliau tidaklah menghafalkan buku beliau tersebut hingga beliau selesai menulisnya. Bahkan setiap kali beliau selesai dari malzamah-nya, beliau menyebarkannya kepada para penuntut ilmu agar bisa diambil manfaatnya. Mereka mengambil manfaat dari buku ini di seluruh tahun penulisannya. [Al-Hâfizh Ibnu Hajar menulis Fathul Bari selama 25 tahun -seperempat abad- dari tahun 817 – 842 H.]
  8. Beliau menyebutkan rasa takjubku kepada karya al-Hâfizh Ibnu Hajar, Fathul Bârî, lantaran di dalamnya penuh dengan keluasan ilmu sedangkan saat itu belum ada sarana penukilan seperti saat ini. Padahal alasan sebenarnya yang menyebabkan saya takjub, adalah seorang yang meneliti Fathul Bârî, niscaya ia akan melihat betapa banyaknya nukilan-nukilan di dalamnya dari berbagai macam buku yang sangat berlimpah, yang mana faidah ini tidaklah akan bisa tercapai melainkan dengan upaya yang ekstra dan dengan sanga bersusah payah. Ini adalah keutamaan dari Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, dan Allah-lah pemiliki keutamaan yang besar.
  9. Dia menyebutkan tentangku bahwa setelah menjelaskan (syarah) hadits Shahih Bukhari, maka saya kembali mempelajari sanad-sanadnya agar bisa mengeluarkan kesimpulan (hukum)-nya. Padahal realitanya, saya (saat mensyarah hadits) memaparkan rijâlul isnad (para perawi sanad)-nya dari mulai bawah sampai ke atas untuk mengenalkannya kepada orang yang perlu untuk mempelajarinya (mengenalnya), mulai dari penjelasan tentang perawi yang muhmal (yaitu perawi yang rancu lantaran memiliki nama yang sama, pent.), penjelasan nama perawi yang dikenal dengan kuniyah (gelar) atau laqob (julukan)-nya, dan yang semisalnya.
  10. Dia tidak menyebutkan nama ma’had yang saya belajar di dalamnya saat di Riyadh pada tahun 1380, yaitu Ma’had ar-Riyadh al-‘Ilmî.
  11. Apa yang disebutkannya tentang Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullâhu. Sebenarnya saya tidak pernah belajar kepada beliau, namun beliaulah yang memilih saya untuk mengajar di Universitas Islam Madinah tepat pada tahun Universitas didirikan.
  12. Dia menyebutkan perkataan saya tentang Ahmad Shiddiq al-Ghumari bahwa dia memiliki buku berjudul Ihyâul Maqbûr. Judul lengkap buku yang buruk ini adalah : Ihyâ’ul Maqbur min Adillati Istihbâbi Binâ’il Masâjid wal Qobâb ‘alal Qubûr (Menghidupkan Ajaran Yang Terpendam tentang Dalil-Dalil Disunnahkannya Membangun Masjid dan Kubah di atas Kuburan). Judul bukunya ini sudah bertentangan dengan sabda Rasulullah ﷺ ketika menjelang wafat beliau, yaitu saat ruh beliau ditarik, beliau melaknat Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan para nabi dan orang shalih mereka sebagai masjid. Orang sesat ini tidak cukup hanya mengatakan bolehnya perbuatan buruk ini, namun dia melampau batas dengan menyatakannya sunnah!! Semoga Allah melindungi kita dari kehinaan.
  1. Apa yang ia sebutkan tentang Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sebenarnya banyak disebutkan di dalam al-Qur’an penyebutan nama Ibrahim yang disebut bersamaan dengan Ishaq dan Ya’qub, kemudian disebutkan setelah itu Ismail beserta nabi yang lainnya. Bisa jadi sebab dari hal ini karena seluruh nabi berasal dari keturunan Ishaq, sedangkan Ismail tidak ada satupun keturunannya yang menjadi nabi kecuali Nabi kita Muhammad ﷺ.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga dan sahabat beliau

 

Catatan : Penjelasan Syaikh al-‘Abbâd di atas sebagai koreksi atas isi artikel yang telah kami terjemahkan di link berikut : http://abusalma.net/2017/06/08/pertemuan-syaikh-al-abbad-dengan-syaikh-al-huwaini/ sekaligus sebagai penambah faidah dan pengaya ilmu.

Dialihbahasakan oleh Abu Salmâ Muhammad (@abinyasalma)

Sumber : http://al-abbaad.com/articles/831173

Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada guru kami, al-Ustadz Arif Fathul Ulum yang memberitahukan link di atas.


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

%d bloggers like this: