PERTEMUAN SYAIKH AL-ABBAD DENGAN SYAIKH AL-HUWAINI



MEMETIK FAIDAH DARI PERTEMUAN ANTARA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL-ABBÂD DENGAN SYAIKH ABU ISHAQ AL-HUWAINI

 

Syaikh Khalid bin ‘Abdurrahman al-‘Arabî berkata :

Segala puji hanyalah milik Allâh Pengatur Alam Semesta. Sholawat dan Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah dan penghulu para rasul, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma Ba’du

Di waktu Ashar pada hari Jum’at, tanggal 21 Sya’ban 1438 H, bertempat di kota Madinah Nabawi ﷺ, telah berkumpul dua orang ulama ahli hadits, yaitu ahli hadits Mesir Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dan ahli hadits Madinah Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbâd -semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya dan memberkahi mereka, serta menjadikan ilmu mereka bermanfaat.

Pertemuan ini adalah pertemuan yang sangat menggembirakan, sarat akan ilmu dan faidah serta penuh dengan etika yang mulia dari kedua ulama yang mulia ini, beserta seluruh hadirin yang turut serta dalam pertemuan ini.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh anak-anak dan cucu-cucu Syaikh al-‘Abbâd, disamping itu juga dihadiri oleh anak-anak dan murid Syaikh al-Huwaini, diantaranya adalah saudara saya, Syaikh Ahmad Dibân.

Syaikh al-‘Abbad benar-benar memuliakan kami di rumah beliau dengan keramahtamahan, penyambutan dan penghormatan terhadap tamu-tamu beliau, semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan.

Siapa Ulama rujukan di zaman ini?

Di awal pertemuan, Syaikh al-Huwaini bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd tentang siapa saja ulama kontemporer yang paling menonjol?

Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Diantara ulama kontemporer yang paling kami anggap ada tiga, yaitu Ibnu Bâz, Ibnu ‘Utsaimîn dan al-Albânî -semoga Allah merahmati mereka semua-. Kami menganggap mereka sebagai marja’ (acuan) bagi setiap penuntut ilmu. Mereka sangat mencintai antara satu dengan lainnya, semoga Allah menjadikan mereka dan ilmu mereka bermanfaat bagi seantero dunia.”

Perjumpaan dengan Syaikh al-Albani

Syaikh al-Huwaini bertanya : “Apakah Anda pernah berjumpa dengan Syaikh al-Albânî?”

Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Iya, ketika beliau masih menjadi dosen di Universitas Islam Madinah.”

Kemudian Syaikh al-‘Abbâd berkata : “Al-Albânî, tidak ada seorang pun yang bisa menyamai beliau, bahkan tidak ada seorangpun di zaman ini yang bisa mendekati (keilmuan) beliau dalam bidang ilmu hadits. Adapun al-‘Allâmah Ibnu Bâz, maka beliau adalah pakarnya fatwa yang menghimpun antara fiqh (pemahaman) dengan atsar (riwayat). Beliau adalah public figure yang Allah jadikan melalui perantaraannya mampu mengurusi urusan orang banyak.”

Syaikh al-‘Abbâd juga menceritakan bahwa beliau pada tahun 1383 H pernah melakukan safar bersama Syaikh al-Albânî dalam rangka berhaji sebagai delegasi. Universitas Islam Madinah biasa mengutus sejumlah pelajar dan pengajar (untuk mengajar) di perkemahan haji. Syaikh al-Albânî saat itu bepergian dengan mengendarai mobil bersama Syaikh al-‘Abbâd dan Syaikh Muhammad al’Abûdi, pulang pergi. Saat itu sedang musim dingin yang sangat dingin sekali.

Ulama Mesir yang pernah dijumpai Syaikh al-‘Abbad

Syaikh al-Huwaini bertanya : “Siapa ulama Mesir yang paling menonjol yang pernah Anda jumpai, atau Anda pernah belajar kepadanya?”

Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Saya pernah belajar kepada Syaikh Muhammad Khalîl Hirrâs. Selain itu, Syaikh ‘Abdurrazzâq ‘Afîfî juga termasuk guru saya dalam bidang aqidah dan ushûl fiqh. Syaikh ‘Athiyah Sâlim adalah sahabat kelas saya di Universitas Islam Madinah dan Riyadh.”

Kemudian Syaikh al-‘Abbâd menyebutkan bahwa diantara guru yang paling spesial bagi beliau ada 5 ulama yang mulia, yaitu : Ibnu Bâz, ‘Abdurrazzâq ‘Afîfî, ‘Abdurrahman al-‘Afriqî, Hammâd al-Anshôrî dan Muhammad al-Amîn asy-Syinqithî -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini : “Apakah Anda pernah bersua dengan Syaikh al-Mu’allimî (al-Yamanî) dan Syaikh Ahmad Syâkir (al-Mishrî)?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Saya belum pernah bersua dengan Syaikh al-Mu’allimî maupun Syaikh Ahmad Syâkir.”

Ulama Ahli Hadits Syam

Syaikh al-Huwaini : “Apakah Anda pernah berhubungan dengan ulama ahli hadits Syam?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, dengan Syaikh ‘Abdul Qâdir al-Arnâ`uth. Saya bertemu dengan beliau sebanyak empat kali. Adapun Syaikh Syu’aib (al-Arnâ`uth), saya belum pernah bertemu dengannya.”

Syaikh ‘Abdul Qâdir diantara ulama ahli hadits yang memuliakan Syaikh al-Albânî rahimahullâhu.

Syaikh al-Huwaini : “Apakah Anda pernah bertemu dengan Syaikh Ahmad Ma’bad”?

Syaikh al-‘Abbâd : “Saya pernah bertemu dengannya sekali saja.”

Alasan Karya Tulis Syaikh al-Abbad yang sedikit

Kemudian Syaikh al-Huwaini bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd tentang penyebab minimnya tulisan-tulisan beliau padahal beliau banyak memberikan penjelasan (syarah) terhadap kutubus sittah (Kitab Induk Hadits yang enam, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan an-Nasâ’I, Sunan Abi Dâwud, Sunan at-Tirmidzî dan Sunah Ibnu Mâjah) di masjid Nabawi. Kenapa tidak ditranskrip lalu dicetak?

Syaikh al-‘Abbâd menjawab dengan penuh tawadhu’ (rendah hati) : “Saya tidak ingin pelajaranku dicetak sampai saya benar-benar menelaahnya dan mengeceknya. Namun saya belum ada waktu, jadi mau tidak mau, saya hanya bisa memberikan syarah saja.”

Lalu Syaikh al-Huwaini pun mengusulkan kepada Syaikh al-’Abbâd -semoga Allah memberi taufiq kepada mereka berdua- agar sekiranya ada salah satu pelajar yang bisa mentranskrip syarah (penjelasan) Syaikh al-‘Abbâd, lalu membukukannya dan mengoreksikan kepada Syaikh, agar manfaatnya bisa lebih meluas, karena buku-buku syarah (penjelasan hadits) amatlah penting bagi para penuntut ilmu.

Pertanyaan Ilmiah tentang buku-buku hadits dan ulamanya

Antara Alfiyah As-Suyuthi dan Al-Iraqi

Syaikh al-Huwaini : “Manakah yang lebih utama menurut Anda, Alfiyah karya as-Suyuthî ataukah Alfiyah karya al-‘Irâqî?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Masing-masing memiliki keistimewaan. Alfiyah karya al-‘Irâqî banyak faidah di dalamnya, sedangkan Alfiyah karya as-Suyuthi lebih ringan dan di dalamnya banyak berisi tambahan.”

Antara al-Iraqi dan al-Asqolani

Syaikh al-Huwainî : “Manakah yang lebih mumpuni di dalam karya tulis (dalam bidang hadits), apakah al-Hâfizh al-‘Irâqî ataukah muridnya, al-Hâfizh Ibnu Hajar?

Syaikh al-‘Abbâd : “Demi Allah, masing-masing memiliki kebaikan. Akan tetapi Ibnu Hajar -semoga Allah menjadikan karya beliau, Fathul Bâri, memiliki manfaat yang besar-, saya menamai buku beliau dengan Kitabul Ilmi. Baru-baru ini saya menulis sebuah makalah berjudul, “Salâmatu an-Nawawî wa Ibnu Hajar min ‘Aqîdatil Mutakallimîn” [Terbebasnya an-Nawawi dan Ibnu Hajar dari Aqidah Ahli Kalam (Scholastic)]

Makalah beliau ini bisa diunduh di link berikut : http://al-abbaad.com/articles/932078

“Sedangkan an-Nawawi sendiri, mayoritas pendapat beliau di dalam masalah aqidah lebih jelas daripada Ibnu Hajar.”

Antara al-Asqolani dan al-Aini

Syaikh al-Huwaini : “Manakah yang lebih unggul antara Fathul Bâri (Syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar) dengan ‘Umdatul Qôrî (Syarah Shahih al-Bukhari karya Badrudin al-’Aini)?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Ibnu Hajar, beliau menulis buku lalu menghafalkannya. Setiap kali beliau selesai dari malzamah (majelis hafalan)-nya, baru beliau sebarkan.”

Syaikh al-Huwainî mengomentari : “Iya, as-Sakhôwî di dalam al-Jawâhir wad Duror (fî Tarjamati Syaikhil Islâm Ibni Hajar) [Buku biografi Ibnu Hajar yang ditulis Syamsuddîn as-Sakhôwî, pent.] menyebutkan bahwa al-Hâfizh Ibnu Hajar setiap kali selesai dari malzamah, barulah beliau sebarkan kepada murid-muridnya. Maka dengan demikian, buku beliau menjadi sumber referensi yang terkoreksi.”

Syaikh al-Huwaini juga menyebutkan bahwa isi dan metode penulisan al-‘Ainî pada sepertiga bagian akhir buku tidak seperti awalnya, berbeda dengan Fathul Bârî yang isi dan metode penulisannya konsisten dari awal sampai akhir buku.

Syaikh al-‘Abbâd mengomentari bahwa betapa beliau merasa takjub dengan al-Hafizh, bagaimana bisa beliau menghimpun ilmu ini seluruhnya tanpa adanya sarana kutipan seperti saat ini (yaitu seperti Maktabah Syamilah dan semisalnya, pent.)

Syaikh al-Huwanî : ‘iya, sebagaimana yang Anda sebutkan. Padahal beliau dulunya adalah hakim utama, melancong dengan penguasa dan puteri-puteri beliau wafat di kala beliau masih hidup. Apa gerangan rahasianya wahai Syaikh yang mulia menurut pendapat Anda? Apakah ini kembali kepada kedisplinan waktu?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, beliau bisa menjaga waktu dan penuh keberkahan.”

Antara as-Sakhowi dan as-Suyuthi

Syaikh al-Huwaini : “Mana yang lebih unggul antara buku karya as-Sakhowî yang berjudul Fathul Mughîts (bisyarhi Alfiyah al-Hadîts) dengan buku karya as-Suyuthî yang berjudul Tadrîbu ar-Râwî (fî Syarhi Taqrîbun Nawawî)?

Syaikh al-‘Abbâd : “Buku karya as-Suyuthî lebih mudah.”

Syaikh al-Huwainî : “Iya, dan kitab as-Sakhowî lebih kaya dengan faidah, namun sebagaimana penjelasan Anda, isinya tidaklah mudah (dipelajari).”

Antara al-Maqdisi dan al-Mizzi

Lalu Syaikh al-Huwainî menginformasikan bahwa Kitab al-Kamâl (fî Asmâ`ir Rijâl) karya ‘Abdul Ghanî al-Maqdisî telah dicetak di Kuwait bulan kemarin. Kemudian Syaikh al-‘Abbad mengomentari : “Saya punya, namun Tahdzîbul Kamâl (karya al-Mizzî) lebih sempurna daripada al-Kamâl itu sendiri.”

Belajar Sanad Hadits

Syaikh al-Huwainî : “Syaikh yang mulia, apakah Anda mempelajari sanad-sanad al-Bukharî dengan studi terperinci?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, apabila saya selesai dari menjelaskan hadits, saya kembali mempelajari sanad-sanadnya, agar saya bisa mengeluarkan kesimpulan (hukumnya).”

Tahun Kelahiran Syaikh al-Abbad dan al-Huwaini

Syaikh al-Huwainî lalu menanyakan tahun kelahiran Syaikh al-‘Abbâd : “Tahun berapa Anda dilahirkan?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Sepekan dari sekarang ini, yaitu saya dilahirkan tahun 1353 H tepatnya pada malam Ahad tanggal 3 Ramadhan, tahun wafatnya al-Mubârokfûrî (Beliau adalah ahli hadits India, penulis buku Tuhfatul Ahwadzî syarh Jâmi’ at-Tirmidzî) dan setelah wafatnya asy-Syaukânî seabad lebih 3 tahun (yaitu asy-Syaukanî wafat tahun 1255 H.)”

Syaikh al-Huwainî : “Semoga Allah menjadikan Anda sebagai pengganti beliau.”

Lalu Syaikh al-Huwainî ditanya tentang tahun kelahirannya, dan syaikh menjawab tahun 1375 H [22 tahun lebih mudah dari Syaikh al-‘Abbâd, pent.].

Pekerjaan Resmi Syaikh al-‘Abbad

Syaikh al-Huwainî bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd mengenai pekerjaan resminya, dan Syaikh pun menjawab : “Saya pertama kali mengajar pada tahun 1379 H di Ma’had Buraidah al-‘Ilmi. Lalu pada tahun 1380 pindah ke Riyadh, lalu 1381 mengajar di Universitas Islam Madinah sampai saat ini.”

Syaikh al-Huwainî : “Apakah anda menjumpai Syaikh Muhammad bin Ibrahîm (Âlu Syaikh, mantan mufti umum KSA) saat studi?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah belajar kepada beliau. Akan tetapi beliaulah yang mengangkat saya (sebagai dosen) di Universitas Islam Madinah, dan beliau saat itu sebagai rektornya dan memerintahkan saya untuk mengajar bersama Syaikh Ibnu Bâz. Syaikh Ibnu Bâz datang di awal bulan sebagai wakil rektor, dan saya datang pada bulan berikutnya sebagai dosen. Allah memberikan kehormatan bagi saya untuk bisa menemani Syaikh Ibnu Bâz selama 15 tahun lamanya.

Syaikh al-Huwainî : “Apakah anda pernah berjumpa dengan Syaikh (‘Abdurrahman bin Nâshir) as-Sa’dî?

Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah belajar kepada beliau dan belum pernah berjumpa dengannya. Beliau tinggal di Qashim sedangkan saya di Zalfa. Kalau Syaikh Ibnu Ghudayyan dan Ibnu Qu’ûd, saya pernah bertemu dengan mereka. Saya kenal dengan mereka dan merekapun kenal dengan saya.”

Mengambil dan Memberi ijazah dan sanad hadits

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda memiliki sanad dan ijazah buku-buku hadits yang sudah dikenal?

Syaikh al-‘Abbâd : “Saya tidak mengambil ijazah maupun sanad, tidak pula memberikannya”

Beliau lalu menceritakan tentang Syaikh al-Basyîr al-Ibrâhîmî, bahwa suatu ketika beliau berada di Madinah, kemudian ada seorang pria menawarkan padanya untuk memberikan ijazah sehingga menyebabkan Syaikh al-Ibrâhîmî tertawa. Beliau lalu mengatakan suatu kalimat yang membuatku takjub dan kuambil ucapannya tersebut, yaitu beliau berkata kepada pria tersebut : “Anda tidak pernah bersusah payah di dalam belajar sedangkan saya tidak perlu bersusah payah di dalam talaqqi (mengambil ijazah dan sanad dari orang yang tidak pantas).”

Syaikh al-Huwainî lalu mengomentari bahwa tergesa-gesa di dalam membaca (hadits) dan adanya sejumlah pelajar yang jarang hadir (di majelis ilmu) lalu mengambil ijazah, maka ini bukanlah hal yang aneh buat beliau.

Berjumpa dengan musuh-musuh dakwah dan sunnah

Berjumpa dengan Kakak Beradik al-Ghumari

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah berjumpa dengan kakak beradik al-Ghumarî (yaitu Ahmad bin Shiddiq al-Ghumârî dan ‘Abdullâh bin Shiddiq al-Ghumârî, keduanya adalah tokoh fanatikus madzhab, pent.).

Syaikh al-‘Abbâd : “Ya, saya pernah berjumpa dengan ‘Abdullâh al-Ghumârî. Saya pernah berkata kepadanya bahwa saya heran dengan kakak anda, Ahmad al-Ghumârî.”

Syaikh al-Huwainî : “Apa karena Ahmad al-Ghumârî yang paling alim dari mereka?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Bahkan, dia yang paling buruk dari mereka. Karena orang ini (Ahmad al-Ghumârî) mengumpulkan keyakinan Jahmiyah, dan dia memiliki hal-hal yang aneh seperti misalnya dia menshahihkan hadits : Saya adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Selain itu juga ucapannya yang keras terhadap Imam adz-Dzahabî dan tuduhannya bahwa beliau berpemahaman Nâshibi serta membenci keluarga Nabi ﷺ. Dia juga memiliki buku berjudul Ihyâ’ul Maqbûr (min Adillati Jawâzi Binâ’il Masâjid wal Qobâb ‘alal Qubûr, buku yang berisi legitimasi untuk membangun kubah dan masjid di atas kuburan) yang nyeleneh.”

Syaikh al-Huwainî : “Ahmad al-Ghumârî ini lebih luas penelaahannya.”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, tidak diragukan bahwa dia memang banyak menelaah.”

Berjumpa dengan al-Kautsari

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah bertemu (Muhammad Zahid) al-Kautsari (salah satu ulama Jahmiyah kontemporer yang fanatik dengan madzhab Hanafi)?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah bertemua dengan dia. Dan saya bersyukur kepada Allah karena saya tidak pernah bertemu dengannya.”

Lalu syaikh al-‘Abbâd menceritakan bahwa antara Ahmad al-Ghumârî dan al-Kautsarî sendiri terdapat permusuhan.

Berjumpa dengan Abu Ghuddah

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah bertemu Syaikh ‘Abdul Fattâh Abû Ghuddah (tokoh IM yang berpemahaman Asy’ari Shufi tulen)? Karena beliau tinggal di Riyadh.”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, saya pernah bertemu dengan dia dalam perdebatan.”

Sebab Penamaan al-Huwaini

Lalu syaikh al-‘Abbâd bertanya kepada Syaikh al-Huwainî tentang sebab penamaan dirinya dengan al-Huwainî. Syaikh Abu Ishâq menjawab : “Ini adalah nisbat kepada kampung saya, Huwain.”

Syaikh al-‘Abbâd : “Apakah itu nisbat kepada al-Wajhul Bahrî (wilayah Delta di Sungai Nil) ataukah nisbat kepada kabilah?”

Syaikh al-Huwainî : “Nisbat kepada wilayah”.

Syaikh al-‘Abbâd : “Apakah dekat dengan Damanhur (kota di pertengahan barat Delta sungai Nil)”. Syaikh bertanya karena beliau pernah bertanya kepada Syaikh ‘Abdul Fattâh al-Qodhî rahimahullâhu tentang negara asalnya, dan dia menyampaikan bahwa asalnya adalah Damanhur.

Akhir Kunjungan

Di akhir pertemuan, Syaikh al-‘Abbâd berkata kepada Syaikh al-Huwainî : “Anda adalah orang terbaik di dalam kunjungan ini.” Lantas Syaikh al-Huwainî menjawab : “Kebaikan Andalah yang lebih dahulu”.

Kemudian dua putera Syaikh al-Huwainî, yaitu Hâtim dan Haytsam saat menyalami Syaikh al-‘Abbâd, Syaikh al-Huwainî berkata : “Ini Hâtim, putera tertuaku.”

Syaikh al-‘Abbâd menukas : “Kalau begitu Anda Abu Hâtim”

Syaikh al-Huwainî berkata : “Abu Ishâq adalah kuniyah saya dan saya senang dengan kuniyah ini dari semenjak saya masih muda.”

Lalu Syaikh al-‘Abbâd dengan cerdasnya menyampaikan bahwa  mayoritas nabi itu berasal dari keturunan Ishâq. Adapun Nabi kita ﷺ berasal dari keturunan Nabi Ismâ’îl, karena itulah di dalam al-Qur’an seringkali nama Ishâq disebut bergandengan dengan nama Ibrâhîm dan Ya’qûb, sedangkan nama Ismâ’îl disebutkan bersendirian dari para nabi.

Semoga Allah membalas dua syaikh kami yang mulia ini dengan balasan yang paling baik. Kami memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung agar menganugerahkan kepada kita semua ilmu dan bermanfaat dan amal yang shalih.

Inilah akhir dari doa kami, segala puji dan sanjungan hanyalah milik Allah, pengatur alam semesta.

Ditulis oleh : Khalid bin Muhammad al-‘Arabî.

@khaled_alaraby

Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad (@abinyasalma) atas permintaan guru kami, al-Ustâdz al-Fâdhil Mubarak Bâmu’allim hafizhahullâhu Ta’âlâ.

 

*****

■ فوائد ولطائف من لقاء الشيخين الجليلين الشيخ المحدث عبد المحسن العباد والشيخ المحدث أبي إسحاق الحويني

– الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد :

عصر اليوم الجمعة الثاني والعشرون من شهر شعبان لعام 1438 هـ

و في مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم اجتمع عالمان محدثان ، محدث مصر الشيخ أبو إسحاق الحويني ومحدث المدينة  : الشيخ عبد المحسن العباد  وفقهم الله وبارك فيهم ونفع بعلمهم .

– وقد كان اللقاء حافلا ماتعا مليئا بالعلم والفائدة محفوفا بالأدب الجم من كلا العالمين الجليلين ومن جميع الحضور الموفقين . وكان اللقاء بحضور بعض أبناء وأحفاد الشيخ العباد وبعض أبناء وطلاب الشيخ الحويني ومنهم أخي الشيخ أحمد ديبان

وقد أكرمنا الشيخ العباد في منزله بحفاوة استقباله وكريم ضيافته جزاه الله خيرا .

في أول اللقاء سأل الشيخ الحويني شيخنا العباد من أبرز العلماء المعاصرين ؟

فقال الشيخ العباد : من علماء العصر الذين نعتبرهم ثلاثة : ابن باز وابن عثيمين والألباني رحمهم الله ونعتبرهم مرجعا لأي طالب علم وكان بينهم محبة شديدة ونفع الله بهم وبعلمهم في الآفاق .

ثم سأل الشيخ الحويني: هل إلتقيتم بالشيخ الألباني؟

– فقال الشيخ العباد نعم  لما كان مدرسا في الجامعة الإسلامية وقال الشيخ العباد : الألباني لا أحد يساويه ولا أحد يقاربه في عصرنا في علم الحديث والعلامة ابن باز كان رجل فتوى جمع بين الفقه والأثر وكان رجل عامة قضى الله على يديه شؤون خلق كثير

ثم ذكر الشيخ العباد أنه سنة 1383هـ

سافر مع الشيخ الألباني إلى الحج

في وفد أرسلتهم الجامعةالإسلامية  طلابا ومدرسين في مخيم وكان الشيخ الألباني معه سيارة يسوق بي أنا والشيخ محمد العبودي ذهبنا إلى مكة ورجعنا وكان في ذلك الوقت البرد شديدا

ثم سأل الشيخ الحويني من أبرز العلماء المصريين الذين لقيتهم أو درست عليهم؟

-فقال الشيخ العباد درست على يد الشيخ محمد خليل هراس

والشيخ عبد الرزاق عفيفي رحمه الله من شيوخ شيخنا العباد في العقيدة وفي أصول الفقه .

وزاملني الشيخ عطية سالم في الجامعة بالمدينة وفي الرياض .

– ثم ذكر الشيخ العباد أن من المشايخ الذين لهم ميزة عنده ممن درسوه خمسة علماء أجلاء : ابن باز وعبد الرزاق عفيفي والشيخ عبدالرحمن الافريقي والشيخ حماد الأنصاري ، والشيخ محمد الامين الشنقيطي -عليهم رحمة الله .

-ثم سأل الشيخ أبو إسحاق هل التقيتم بالشيخ المعلمي أو الشيخ أحمد شاكر؟

فقال الشيخ العباد : لم التقي الشيخ المعلمي ولا الشيخ أحمد شاكر.

– سأل الشيخ الحويني هل لك علاقات بعلماء الشام المحدثين ؟

فقال الشيخ العباد نعم : الشيخ عبد القادر الأرنؤوط لقيته أربع مرات والشيخ شعيب لم ألقاه

وكان الشيخ عبد القادر ممن يجل الشيخ الألباني  -رحمه الله.

– ثم سأل الحويني هل لقيت الشيخ أحمد معبد ؟

 فأجاب العباد  : لقيته مرة واحدة .

– ثم سأل الشيخ الحويني الشيخ العباد عن سبب قلة تصانيفه رغم شروحه العظيمة للكتب الستة في المسجد النبوي ؟ فلماذا لا تفرغ وتطبع؟

فقال الشيخ العباد في تواضع جم : أنا لا أريد أن يطبع شيء لي حتى أطلع عليه لأقره وليس لدي وقت وإنما أشرح الذي لا بد منه .

-ثم اقترح شيخنا الحويني وفقه الله على شيخنا العباد -وفقه الله – ما لو فرغ أحد الطلبة شروح الشيخ ثم نسخها واطلع الشيخ عليها لكي يعم نفعها لأن كتب الشروح مهمة لطلاب العلم .

-ثم سأل شيخنا الحويني ما الأفضل عند فضيلتكم ألفية السيوطي أم ألفية العراقي ؟

فقال الشيخ العباد : لكل ميزة وألفية العراقي فيها فوائد

وألفية السيوطي سلسة وفيها زيادات .

– وسأل الحويني عن أيهما أقعد في الصنعة الحافظ العراقي أم تلميذه الحافظ ابن حجر ؟

فأجاب العباد والله كلهم فيهم خير لكن ابن حجر نفع الله بكتابه الفتح نفعا عظيما وأنا أسميه كتاب العلم

وقد كتبت مؤخرا مقالا بعنوان : سلامة النووي وابن حجر من عقيدة المتكلمين . ” والمقال في الرابط التالي :

http://al-abbaad.com/articles/932078

والنووي في غالب كلامه في العقيدة كلامه أوضح من ابن حجر

– ثم سأل الشيخ الحويني المفاضلة بين فتح الباري وعمدة القاري ؟

فقال الشيخ العباد : ابن حجر ألف الكتاب وحفظه عنده وكان كلما انتهى من ملزمة وزعها فقال الشيخ الحويني : نعم ذكر السخاوي في الجواهر والدرر أن الحافظ ابن حجر كلما انتهت الملزمة وزعها على الطلبة فهو بهذا المعنى كتاب منقح مراجع .

وذكر الشيخ الحويني أن نفس وكتابة العيني في ثلث العمدة الأخير ليس كأوله بخلاف الفتح فهو على نفس ومتانة واحدة من أول الكتاب إلى آخره .

وذكر الشيخ العباد أنه يتعجب من الحافظ كيف جمع هذا العلم كله دون وجود وسائل النقل كالان فقال الشيخ الحويني : نعم كما ذكرتم كان قاضي القضاة وفي المحكمة ويسافر مع السلطان وبناته ماتوا في حياته لكن ما السر يا فضيلة الشيخ في رأيكم هل هذا يرجع لتنظيم الوقت ؟ قال الشيخ العباد : نعم نعم حفظ الوقت والبركة .

– ثم سأل الحويني عن المفاضلة بين كتاب السخاوي وكتاب السيوطي فتح المغيث وتدريب الراوي ؟

فذكر الشيخ العباد أن كتاب السيوطي أسهل فقال الشيخ الحويني نعم وكتاب السخاوي غزير الفوائد لكنه كما تفضلتم ليس بالسهل .

– ثم ذكر الشيخ الحويني أن كتاب الكمال لعبد الغني المقدسي طبع في الكويت الشهر الماضي فقال الشيخ العباد : عندي أن تهذيب الكمال أكمل من الكمال .

– ثم سأل الشيخ الحويني الشيخ العباد فضيلتكم هل درستم أسانيد البخاري دراسة مستفيضة ؟ فقال الشيخ العباد : نعم إذا أنهيت شرح حديث أرجع لدراسة الأسانيد لكي أخرج بخلاصة .

– ثم سأل الشيخ الحويني عن سنة مولد الشيخ العباد ؟ متى ؁ مولدك ؟ فقال الشيخ بعد أسبوع من الان ولدت عام ١٣٥٣ ليلة الاحد الثالث من رمضان  في ؁ موت المباركفوري بعد موت الشوكاني بقرن وثلاث سنين فقال الشيخ الحويني جعلك الله خلفا له .

 ثم سئل الشيخ الحويني عن سنة ميلاده فقال ١٣٧٥ هـ

– سأل الشيخ الحويني الشيخ العباد عن أعماله الوظيفية فقال : أنا اول ما درست ؁ 1379هـ في معهد بريدة العلمي ثم ١٣٨٠ هـ لي في الرياض ثم ١٣٨١هـ في الجامعة الاسلامية حتى يومنا هذا

– سأل الحويني هل أدركتم الدراسة عند الشيخ محمد بن ابراهيم ؟

فقال الشيخ :  لا ما درست عليه لكن هو الذي رشحني للجامعة وكان رئيسها وأمر بتدريسي مع الشيخ ابن باز

جاء الشيخ ابن باز في أول الشهر وهو نائب الرئيس وأنا جئت آخر الشهر مدرسا وأكرمني الله بصحبته ١٥ سنة

– ثم سأل الحويني هل التقيتم بالشيخ السعدي ؟

فقال الشيخ العباد : لا ما درست عليه ولا رأيته و كان في القصيم وأنا في الزلفي .

والشيخ ابن غديان وبن قعود التقيتهم وأعرفهم ويعرفوني

– ثم سأل الشيخ الحويني هل لكم أسانيد في الكتب المعروفة وإجازات ؟

فقال الشيخ العباد أنا لا آخذ إجازات وأسانيد ولا أعطي.

ثم ذكر عن الشيخ البشير الإبراهيمي أنه كان في المدينة فعرض عليه رجل أن يعطيه اجازة فضحك الشيخ وقال كلمة أعجبتني وأخذت بها قال له : أنت ما أتعبت نفسك في التعليم وأنا ما أتعبت نفسي في التلقي

– ثم ذكر شيخنا الحويني أن السرعة في القراءة وعدم حضور بعض الطلبة ثم يأخذ إجازة أن هذا شيء لا يعجبه .

-ثم سأل الحويني هل لقيت أحدا من الغماريين ؟ فقال الشيخ العباد :

نعم لقيت عبدالله الغماري قلت له أنا اتعجب من أخيكم أحمد قال الشيخ الحويني لأنه أعلمهم ؟ قال بل أسوأهم لأنه جمع التجهم وعنده أشياء غريبة منها تصحيحه لحديث أنا مدينة العلم و علي بابها ومنها كلامه الشديد في الإمام الذهبي ورميه له بالنصب وكره آل البيت وله كتاب إحياء المقبور وهذا عجيب . ثم ذكر الشيخ الحويني أن أحمد كان واسع الاطلاع فقال الشيخ العباد : نعم لا شك هو كثير الاطلاع .

-ثم سأل الحويني هل لقيتم الكوثري؟ فقال لا ما لقيته وأحمد الله أني ما لقيته وذكر أن بين أحمد الغماري والكوثري عداوة

– ثم سأل الحويني هل لقيتم الشيخ عبد الفتاح أبو غدة لأنه عاش في الرياض ؟ فقال نعم لقيته لقاءا عارضا .

– وسأل الشيخ العباد الشيخ الحويني عن سبب تسمية الحويني فقال الشيخ نسبة لبلدتي حوين فقال الشيخ هل هي من الوجه البحري أو القبلي ؟ قال الشيخ الوجه البحري ثم سأل الشيخ العباد هل هي قريبة من دمنهور ؟ وذكر أنه سأل الشيخ عبد الفتاح القاضي رحمه الله عن بلده فأخبره أنه دمنهور .

– وفي آخر اللقاء قال الشيخ العباد للشيخ الحويني  : أنتم أحسنتم إلينا بهذه الزيارة ؟ فقال الشيخ إحسانك سابق ثم سلم حاتم وهيثم ابنا الشيخ على الشيخ العباد فقال حاتم ابني الأكبر فقال الشيخ العباد يعني أنت أبو حاتم فقال الشيخ أبو إسحاق كنية لي أحببتها منذ كنت صغيرا . وذكر الشيخ العباد لطيفة أن أكثر الأنبياء من نسل إسحاق ، وأن نبينا صلى الله عليه وسلم من ولد إسماعيل ولذلك في القران غالبا ما يقرن إسحاق بإبراهيم ويعقوب ، ويفرد إسماعيل بغيرهم من الأنبياء .

جزى الله الشيخين الفاضلين خير الجزاء ونسأل الله باسمه الأعظم أن يرزقنا جميعا العلم النافع والعمل الصالح

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .

وكتبه

خالد بن محمد العربي .

@khaled_alaraby


Related articles

 Comments 2 comments

Silakan berikan tanggapan...

%d bloggers like this: