SYAIKH RABÎ’ AL-MADHKHALÎ MENOLAK MENEMUI SYAIKH YAHYÂ AL-HAJÛRÎ

 Feb, 19 - 2014   no comments   Adab & Fikih Islami

Telah sampai tulisan berikut ini kepada saya :

“Kami ucapkan syukur terima kasih kepada Fadhilah asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, karena beliau TIDAK MAU MENERIMA seorang yang makhdzul (yang terkalahkan/ tidak mendapat pertolongan) al-Mutaqallib (tersungkur) YAHYA AL-HAJURI, yang telah berupaya untuk mengunjungi beliau (asy-Syaikh Rabi’) pada malam Selasa 11 Rabi’uts Tsani 1435 H selepas shalat ‘Isya’.

Asy-Syaikh Rabi’ TIDAK MAU menerima Yahya al-Hajuri

Kami sampaikan pula, bahwa ada pernyataan asy-Syaikh (Rabi’) yang kami menjaga dari menyebarkannya, sampai tiba waktunya (yang tepat).

Kami – para pengampu situs ini – katakan kepada al-Hajuri

Terlebih dahulu bertaubatlah kamu kepada Allah, dan perbaikilah apa yang telah kamu rusak, kemudian setelah itu baru kamu minta izin untuk menziarah para ‘ulama Ahlus Sunnah.

Hendaknya kamu “mendatangi rumah dari pintunya”

http://miratsul-anbiya.net/2014/02/11/asy-syaikh-rabi-menolak-al-hajuri/

 

KOMENTAR :

Saya sangat heran dengan pengampu situs tersebut, bagaimana mereka bisa bergembira karena penolakah Syaikh Rabî’ terhadap Syaikh Yahyâ untuk menemuinya. Seakan-akan, mereka tidak menghendaki Syaikh Yahyâ untuk memperoleh kebaikan dan petunjuk… seakan-akan mereka bergembira dengan keadaan Syaikh Yahyâ yang bisa mereka cela, maki, umpat, hujat dan jelek-jelekkan. Ini adalah sifat sangat buruk, yang tidak menghendaki seorang muslim mendapatkan kebaikan, sebagaimana pula yang mereka lakukan terhadap mantan rekan mereka dari Makassar.

Dan sungguh, apa yang Syaikh Rabî’ -wafaqohullâhu ilal haq- lakukan, menyelisihi apa yang beliau sampaikan tatkala membantah Syaikh Fauzî al-Bahrainî di dalam risalahnya yang berjudul “Kasyfu Akâdzîb wa Tahrîfât wa Khiyânât Fauzî al-Bahranî”, beliau berkata :

أقول مسألة نصيحة أهل البدع والجلوس معهم للنصح ؛ فأنا لا أذهب إلى بيوتهم ومجالسهم، فإذا جاءني أحد منهم إلى بيتي ناصحته وبينتُ له الحق، وهذا ليس بعيب. فقد كان المنافقون يحضرون مجالس النبي -صلى الله عليه وسلم-، فيناصحهم، ويبين لهم الإسلام والحق.

وهذا الشيخ ابن باز – رحمه الله- يأتيه أهل البدع وأهل التحزب إلى مجلسه، فيناصحهم، ويبين لهم الحق، وهذا المفتي وهيئة كبار العلماء يأتيهم أهل البدع في رابطة العالم الإسلامي وفي مجالسهم أيضاً وينصحونهم فيما أعتقد، ولا أعرف أحداً من العلماء قال لي: أنت تجالس أهل البدع، ولا أحد رد عليَّ من العلماء في هذا الأمر، فهذا من كيسك المشحون بالأكاذيب

 

“Saya (Syaikh Rabî’) katakan, permasalahan menasehati ahli bid’ah dan duduk bersama mereka dalam rangka untuk menasehati, maka saya pribadi tidak mau pergi mendatangi rumah dan tempat pertemuan mereka. Namun, apabila salah seorang dari ahli bid’ah MENDATANGI RUMAHKU, maka kunasehati dan kujelaskan padanya kebenaran. Dan ini bukanlah suatu hal yang tercela. Dahulu kaum munafik menghadiri majlis-majlis Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan beliau pun menasehati mereka dan menjelaskan Islam dan kebenaran kepada mereka.

Dan ini, Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâhu, ahlu bid’ah dan hizbi mendatangi majlis beliau dan beliau menasehatinya dan menerangkan kebenaran kepada mereka. Demikian pula Mufti dan Lembaga Ulama Senior (Hai’ah Kibâril ‘Ulamâ`) yang didatangi ahli bid’ah di Râbithah al-‘Âlam al-Islâmî dan majlis-majlis mereka, dan mereka pun menasehatinya sebagaimana yang saya yakini. Saya tidak mengetahui ada seorang ulama pun yang mengatakan kepadaku, “Anda bermajlis dengan ahli bid’ah”, dan tidak ada seorang pun dari para ulama yang membantahku di dalam perkara ini.”

Jika demikian ini pendapat Syaikh Rabî’ terhadap ahli bid’ah yang mengunjungi rumahnya? Lantas bagaimana dengan sesama ahlus sunnah –yang ushul dan aqidah nya masih didominasi ahlis sunnah- seperti Syaikh Yahyâ al-Hajûrî, kenapa beliau tidak mau menerimanya?? Tidakkah sikap beliau ini menyelisihi keyakinan beliau sebelumnya? Bahkan menyelisihi Syaikh Ibnu Baz, Mufti dan Ha’iah Kibâril ‘Ulamâ’… bahkan menyelisihi Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang menerima didatangi oleh kaum munafikin?!?!

Dan alangkah ironis sekali, murid-murid beliau dan para du’at dari madrasah beliau pun bergembira dengan hal ini…Seakan-akan, salafiyah dan kebenaran adalah monopoli bagi mereka. Mereka tidak mau kebaikan ini tersebar untuk selainnya, namun hanya untuk mereka sendiri saja… Wallohul Musta’ân!!!


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: