Bagi Yang Mempersempit Salafiyah

 May, 26 - 2010   7 comments   Salafiyah

Al-‘Allâmah ‘Abdullâh al-Muthlaq, anggota Hai`ah Kibâr al-Ulamâ` (Lembaga Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi, berkata di dalam ceramah beliau yang berjudul al-Fitan : Asbâbuhâ wa ‘Ilâjuhâ (Sya’ban 1424 H) :

“Wahai (saudara-saudara) yang saya sayangi. Mereka inilah kaum yang mempersempit makna salafiyah, yang senantiasa mendahulukan prasangka, tidak mau menerima taubat orang, tidak mau berdiskusi  dengan orang lain dan tidak menyebarkan kebaikan. Mereka ini (pada hakikatnya) lebih banyak mencederai (memberikan madharat) kepada salafiyah ketimbang memperbaikinya.

Sesungguhnya jika Anda memperhatikan kepada para ulama di Saudi, betapa banyaknya mereka? Namun mereka menghendaki hanya tiga atau empat ulama saja (yang dianggap salafiyah). Sisanya? Hah? (Mereka anggap) Bukanlah golongan salaf?!! Ini adalah musibah yang besar wahai saudara-saudara sekalian…

Sesungguhnya, jika Anda mengamati para ulama di negeri Islam saat ini. Anda dapati bahwa para ulama ini menurut mereka adalah kaum yang menyimpang…

Sesungguhnya, jika Anda melihat kepada para ulama umat yang telah berkhidmat untuk agama, seperti  Ibnu Hajar, an-Nawawî, Ibnu Qudâmah penulis kitab al-Mughnî dan buku-buku lainnya yang bermanfaat, Ibnu ‘Aqîl dan Ibnul Jauzî. Anda dapati bahwa para ulama ini menurut mereka, adalah para penyusun karya tulis yang mereka keluarkan dari salafiyah. Pasalnya mereka dapati di dalam buku-buku mereka ini hal-hal yang keliru…

Merekalah yang mempersempit makna salafiyah dan sejatinya yang memperburuk keadaan umat, wahai saudaraku sekalian…

Oleh karena itu, perhatikanlah Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâhu, Syaikh Muhammad (Shâlih) al-Utsaimîn dan Mufti (Kerajaan) saat ini (yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Âlu Syaikh). Bagaimanakah cara mereka berinteraksi dengan orang lain! Bagaimana baiknya akhlak mereka? Bagaimana mereka menghadapi para penuntut ilmu dan memuliakan para ulama!

Namun, adakah manhaj ini ada pada mereka?! Tidak! Mereka tidak akan rela kecuali hanya kepada sejumlah kecil para penuntut ilmu yang dapat dihitung jumlahnya (dengan jari). Mereka senantiasa menyibukkan diri di majelis-majelisnya memakan daging para ulama (baca : mencela dan mencerca kehormatan ulama).

Acap kali, mereka membawa ucapan para ulama kepada yang bukan konteksnya, dan acapkali mereka melakukan kedustaan kepada mereka. Tidak ada di dalam kamus mereka kata taubat, dan mereka tidak mau menerima taubatnya seseorang (yang menurut mereka telah menyimpang). Mereka telah mempersempit agama ini, dan mereka merasa senang dengan keluarnya manusia dari salafiyah. Mereka tidak senang menerima udzur (alasan) orang lain dan memasukkan mereka ke dalam ahlus sunnah.

Lihatlah musibah ini wahai saudaraku! Sekiranya umat ini diuji dengannya, bisa jadi salafiyah itu hanya terbatas pada lokasi tertentu di Jazirah ini. Lihatlah wahai saudaraku, kepada kelembutan perangai syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz dan Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimîn, bagaimana mereka berdua memberikan fatwa kepada para pemuda negeri Islam di kala mereka tengah berselisih pendapat, baik di Eropa, Amerika, Afrika, Jepang, Indonesia dan Australia. Siapakah yang mereka ridhai untuk memberikan hukum? Siapa yang mereka ridhai? Anda dapati bahwa mereka menerima (keputusan)  syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz dan Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimîn, serta (ulama) Fulan dan Fulan.

Namun, adakah mereka meridhai masyaikh mereka? Hah? Tidak, demi Alloh mereka tidak meridhainya. Mereka tidak mau menerimanya. Sesungguhnya cara yang ditempuh oleh orang-orang ini –semoga Alloh memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada mereka- adalah mempersempit makna salafiyah dan menyebabkan manusia lari menjauh darinya. Mereka jadikan salafiyah dalam pengertian yang sempit lagi terbatas (hanya bagi mereka saja), dan perbuatan mereka didominasi dengan tidakan pengkafiran (takfîr) manusia, tafsîq (menuduh fasik), mengoleksi kesalahan orang lain, serta merusak citra dan mencela kehormatan orang lain…

Sumber : http://www.liveislam.com/archi/1424/shaban.htm


Related articles

 Comments 7 comments

  • sahabat says:

    thanks, rachdie !

    m e n c e r a h k a n

  • masih belum jelas yang dimaksud dengan “menyempitkan makna salafiyah” itu apa..

  • Assalamu’alaikum akhi rachdie ..

    apakah artikel ini berkaitan dengan perpecahan di tubuh saudara kita yang belajar di Yaman ..??

  • abuwaldi says:

    assallamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh..

    ana izin kopas akhy..

    jazzkallah khoir

  • Abu Hafshoh says:

    Syukron..
    Hal itu pula yang terjadi di tempat kami (subang)…Terjadi perpecahan antara ikhwan di satu “lingkungan” hanya karena sebagian ikhwan yang mengikuti kajian di ‘lingkungan tersebut” ikut pula mengaji pada ustadz yang dalam prasangka mereka “tidak bermanhaj salaf”…

  • abu ihsan says:

    assallamu’alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh..
    kenapa di indonesia jg terpecah…di mana para ustadznya majalah asysyariah dan teman2 nya tidak saling link denga majalah As-sunnah dan teman2nya baik di dunia maya maupun dunia nyata..

  • Silakan berikan tanggapan...

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: