RESENSI BUKU Ithâful ‘Ibâd

 Feb, 29 - 2008   6 comments   Resensi

MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU

Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd

 

 

covewr.jpgHari Kamis kemarin (28/02/2007), saya sempat singgah di toko buku Islam “Progressif” Jl. KHM Mansyur untuk melihat-lihat informasi buku baru. Lalu pandangan mata saya tertarik dengan sebuah judul buku yang cukup tebal dan hard-cover, berjudul “Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi” yang ditulis oleh al-Ustadz ‘Abduh Zulfidar Akaha, yang diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar. Saya kemudian mengambil buku tersebut dan membuka-buka halamannya. Wah, ternyata buku ini adalah jawaban dan bantahan terhadap buku Ustadz Luqman Ba’abduh, “Menebar Dusta Membela Teroris Khowarij.”

Lho, apa hubungannya Resensi buku “Ithâful ‘Ibâd” ini dengan buku Ustadz ‘Abduh Zulfidar di atas? Sebenarnya, saya tergelitik dengan satu bab khusus di dalam buku al-Ustadz ‘Abduh ZA –wafaqohullâhu wa iyyanâ– berkenaan tentang Untuk Siapakah Buku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah ditujukan. Di dalam bab ini, al-Ustadz ‘Abduh meragukan keabsahan pernyataan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad sebagai penulis buku (kutayib) Rifqon, yang menjelaskan bahwa buku beliau tersebut (yaitu Rifqon Ahlas Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah) tidak ditujukan untuk Ikhwanul Muslimin, orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb, harokiyyin, orang yang sibuk dengan Fiqhul Wâqi’, mencela penguasa kaum muslimin dan orang yang merendahkan para ulama. Sebagaimana termaktub dalam buku “Ithâful ‘Ibâdhal. 61.

Berikut ini adalah ucapan Syaikh dan scan image dari kitab aslinya :

rifqon1.jpg rifqon2.jpg

و الكتاب الذي كتبتة أخيراَ….لا علاقة للذين ذكرتهم في مدارك النظر بهذا الذي هو :رفقاَ أهل السنة بأهل السنة لا يعني الإخوان المسلمين , ولا يعني المفتونين بسيد قطب و غيرهم من الحركيين, و لا يعني أيظاً المفتونين بفقه الواقع و النيل من الحكام و كذلك التزهيد في العلماء لا يعني هؤلاء لا من قريب و لا من بعيد و إنما يعني أهل السنة فقط حيث يحصل بينهم الإختلاف فينشغل بعضهم ببعض تجريحاَ و هجراَ و ذماً

Buku yang aku tulis terakhir ini yaitu Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah ada korelasinya dengan yang telah aku sebutkan di dalam Madârikun Nazhar. Risalahku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah dimaksudkan untuk Ikhwanul Muslimin tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb dan selainnya dari para harokiyyin. Tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan fiqhul waqi’, para pencela penguasa dan orang-orang yang merendahkan para ulama, tidak dimaksudkan untuk mereka semua baik yang dekat maupun jauh. Sesungguhnya, risalahku ini aku peruntukkan untuk Ahlus Sunnah saja!!! Mereka yang berada di atas jalan Ahlus Sunnah yang tengah terjadi di tengah mereka ini sekarang perselisihan dan sibuknya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr (mengisolir) dan mencela. [Ithâful ‘Ibâd” hal. 60-61.]

 

Ustadz ‘Abduh meragukan penukilan di atas, beliau mungkin kesulitan di dalam melacak sumber penukilan tersebut, disebabkan karena mungkin buku ini belum begitu menyebar di toko buku berbahasa Arab di Indonesia. Beliau juga kesulitan mencari informasi buku ini dari situs di internet, apalagi setahu saya, situs yang mencuplik buku ini, yaitu misrsalafi, sudah tidak online lagi, dimana dari situs inilah, ustadz Ba’abduh (atau muridnya, al-Akh Alfian) menukilnya. Ustadz ‘Abduh juga mempertanyakan realitas buku “Ithâful ‘Ibâd” ini berikut penulisnya, sehingga ketika beliau belum mendapatkan otentisitas penukilan ucapan Syaikh ‘Abdul Muhsin di atas, beliau terkesan meragukan penukilan tersebut

Untuk itulah, di dalam artikel (baca : resensi) singkat ini, saya ingin berbagi informasi, dan tidak bermaksud membantah ustadz ‘Abduh maupun Ba’abduh, biarlah mereka berdua yang menyelesaikan polemik ini di kancah perdebatan ilmiah, walau saya kurang mengapresiasi ustadz Luqman Ba’abduh yang enggan diajak berdiskusi secara langsung oleh ustadz ‘Abduh. Seharusnya seorang salafy yang ilmiah, dia siap untuk diajak berdiskusi secara ilmiah dan terbuka secara langsung, sebagaimana guru kami, al-Ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat dan Ustadz Abu Qotadah hafizhahumâllâhu, yang siap dan bersedia diajak diskusi secara langsung, ketika beliau berdua diundanng oleh PERSIS Jabar. [Lihat al-Masa’il jilid VIII, pendahuluan yang cukup panjang dari al-Ustadz ‘Abdul Hakim, yang mengklarifikasi tuduhan dari majalah PERSIS Jawa Barat pasca diskusi].

Demikian pula dengan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Ubaikân hafizhahullâhu yang berani dan menantang balik tokoh takfiriyun untuk berdiskusi dan berdebat, sebagaimana dalam asy-Syarqul Awsâth (25/5/2005), dalam wawancara yang cukup panjang dengan Syaikh al-‘Ubaikân. Diantara yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Ubaikân adalah : “Saya katakan, mereka yang membenarkan al-Qâ’ida dan ideologi takfirnya, mereka ini adalah orang yang dangkal dan pendek pemahamannya. Saya telah menantang untuk berdialog dengan orang-orang seperti mereka ini dengan media apapun. Saya telah duduk dan berdebat dengan para pendukung mereka baik di rumahku maupun di masjid. Saya, al-‘Ubaikân, siap menerima ajakan debat bahkan dengan Bin Lâdin sekalipun.” (Harian asy-Syarqul Ausâth, 25 Mei 2005. Lihat : http://www.asharq-e.com/news.asp?section=3&id=85)

Syaikh ‘Alî Hasan pun beberapa kali duduk berdialog dengan lawan-lawan beliau, yang sebagiannya bahkan terekam di TV. Beliau pernah berdialog dengan Syaikh Muhammad Abū Ruhayyim, Hasan as-Saqqof, Demikian pula dengan Syaikh Salîm al-Hilâlî, Syaikh ‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis, Syaikh Muhammad Sa’id Ruslân, dll. Mereka semua tidak segan untuk berdiskusi dalam rangka menunjukkan al-Haq… Untuk itulah, saya mengharap supaya al-Ustadz Luqman Ba’abduh bersedia untuk diajak diskusi dan menjelaskan al-Haq, agar tidak semakin menyebar fitnah bahwa al-Ustadz adalah orang yang ‘pengecut’ –na’ūdzubillâhi– semoga tidak demikian…

 

Resensi Singkat Buku

cover2.jpg

Judul buku : Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân

Koreksi & Taqrîzh : Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd al-Badr

Penerbit : Dârul Imâm Ahmad – Mesir

Cetakan : Pertama, 1426 H – 2005 M

Buku ini sebenarnya saya peroleh pada pertengahan tahun 2006, hadiah dari seorang teman yang pulang haji, yaitu saudara saya yang mulia, teman seperjuangan di dalam dakwah, al-Akh Abu Furqon Amali –Jazzahullâhu khoyrol jazâ`

Buku ini berjumlah 192 halaman yang terdiri dari sejumlah bab yang berkaitan dengan fawaid (faidah-faidah) hadits yang disampaikan oleh al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr di Masjid Nabawi pada kajian Syarh Sunan Abî Dâwud. Yang menyusun buku ini adalah seorang thâlibul ‘ilmi yang senantiasa menghadiri kajian Syaikh di Masjid Nabawi, yaitu Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân. Disebutkan dalam pendahuluan buku ini, yang diberi kata pengantar oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri, bahwa Syaikh al-‘Umaisân tidak pernah meninggalkan kajian yang disampaikan Syaikh al-‘Abbâd selama 5 tahun kecuali hanya 5 kali saja.

Berikut ini adalah taqrîzh (rekomendasi/kata pengantar) Syaikh al-‘Abbâd di dalam buku Ithâful ‘Ibâd :

sroh.jpg

 

Segala puji hanyalah milik Allôh semata. Semoga Allôh senantiasa melimpahkah sholawat dan salam-Nya kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’d :

Saya telah menelaah (buku yang berisi) faidah-faidah yang berkaitan dengan hadits beserta seluk beluk ilmu-nya dan para perawinya (Rijâlul hadîts) yang dikumpulkan oleh al-Akh asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân dari pelajaranku di Masjid Nabawi tentang Syarh Sunan Abî Dâwud. Beliau adalah seorang mulâzim (yang senantiasa menghadiri pelajaran) dan beliau menyebutkan bahwa beliau tidak pernah ketinggalan pelajaran melainkan hanya lima kali saja dari rentang waktu yang panjang selama hampir 5 tahun. Sungguh baik apa yang telah beliau lakukan, semoga Allôh mengganjarnya dan memberkahi hasil upaya beliau ini.

Saya tidak melarang penyebaran buku ini dalam rangka untuk memperluas manfaat di dalamnya. Saya memohon kepada Allôh agar memberikan taufik-Nya kepadaku dan beliau serta seluruh penuntut ilmu agar memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, sesungguhnya, Allôh adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Semoga Allôh senantiasa melimpahkah sholawat dan salam-Nya kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang berusaha mengikuti mereka dengan lebih baik.

Ditulis oleh

Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd al-Badr

14-10-1425 H.

Dari rekomedasi Syaikh di atas, jelas bahwa buku ini ditelaah dan direkomendasikan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd sendiri. Sehingga, apa yang dipaparkan di dalamnya, adalah atas sepengetahuan dan seizin Syaikh, serta tidak ada celah untuk meragukan dan mempertanyakannya.

Sedikit berbagi informasi pula, buku ini berisi dengan faidah-faidah haditsiyah yang sarat akan manfaat dan ilmiyah. Seakan-akan, Syaikh al-‘Umaisân mengekstrakkan bagi pembaca buku ini, faidah-faidah hadits yang disampaikan al-‘Allâmah al-‘Abbâd selama 5 tahun, terangkum dalam buku ini.

 

Sekilas tentang Bab-Bab dalam Buku ini

Buku ini diawali dengan bab “Fadhlu Ahlil Hadîts wa ‘Uluwwi Makânnatihim” (Keutamaan Ahli Hadits dan Kedudukan Mereka yang Mulia), kemudian dilanjutkan dengan Fadhlu Ma’rifati ‘Ilmir Rijâl (Ketamaan Mengetahui Ilmu Perawi). Dalam bab ini, dinukil ucapan emas al-Imam Ibnu al-Madini yang mengatakan :

Tafaqquh (mempelajari) makna-makna hadits adalah separuh daripada ilmu, dan mempelajari para perawi (rijâl) hadits adalah separuh ilmu.” [hal. 14]

Bab berikutnya adalah al-Jarh wat Ta’dîl bihaqqin Laysa minal Ghîbah al-Muharromah fî Syai`in (Jarh (mencela/mencacat perawi) dan ta’dîl (memuji) secara benar tidaklah termasuk sedikitpun dari menggunjing yang diharamkan). Di sini, dipaparkan kriteria ghîbah yang diperbolehkan, dimana jarh wa ta’dîl merupakan ghîbah yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan apabila untuk membela kemurnian agama.

Bab selanjutnya adalah Dhowâbith fî Ma’rifatir Rijâl (Kriteria di dalam mengenal perawi). Dalam hal ini dicontohkan dan dijelaskan bagaimana cara membedakan Hammâdain (dua Hammâd, yaitu Hammâd bin Salamah dan Hammâd bin Zaid) dan Sufyanain (dua Sufyân, yaitu Sufyân bin ‘Uyainah dan Sufyân ats-Tsaurî).

Dan seterusnya, silakan baca daftar isi buku ini dengan mengklik di sini.

 

Beberapa Faidah Penting Dari Buku Ini

Berikut ini adalah beberapa faidah penting dari buku ini, yang mungkin dapat bermanfaat, terutama bagi al-Ustadz ‘Abduh ZA dan al-Ustadz Luqmân Ba’abduh.

Tentang Buku Madarikun Nazhar

Syaikh hafizhahullahu ditanya : “Apakah benar dikatakan bahwa anda tidak membaca (buku Madarikun Nazhar) melainkan hanya muqoddimahnya saja dan anda tidak setuju dengan penulisnya (Syaikh ‘Abdul Malik) di dalam kritikannya terhadap beberapa orang yang ia kritik, apa tanggapan anda?”

قرأت الكتاب من أوله إلى آخره مرتين وأنا لا يمكن أن أكتب كتابة عن كتاب إلا وقد اطلعت عليه من أوله إلى آخره.

Syaikh menjawab : “Aku telah membaca buku ini dari awal sampai akhir sebanyak dua kali. Dan aku tidak mungkin menulis sebuah pengantar terhadap sebuah buku melainkan aku menelaahnya dari awal sampai akhir.” [hal. 61]

 

Buku-buku yang dipuji dan dianjurkan oleh Syaikh

1. ‘Ilmur Rijâl dan Hadits

  • Buku Riyâdhul Mustathôbah karya al-‘Âmirî al-Yamanî. Kata Syaikh, buku yang sangat bagus sekali, dan diantara bagusnya buku ini adalah, penulis menyebutkan sahabat beserta anak-anaknya disertai keterangan akan ibunya.

  • Tahdzîbul Kamâl karya al-Mizzî, yang diringkas oleh Ibnu Hajar dalam Tahdzîbut Tahdzîb lalu diringkas lagi dengan judul Taqrîbut Tahdzîb dan adz-Dzahabî dalam Tahdzîbit Tahdzîbil Kamal.

  • Buku Mîzanul I’tidâl karya adz-Dzahabî. Syaikh menjelaskan keistimewaanna secara panjang lebar.

  • Buku “Ujalatul Imlaa` karya an-Naaji, buku yang sangat bermanfaat sekali. Nama aslinya adalah al-Hafizh Burhanudin an-Naaji.

  • Buku-buku karya Ibnu Rojab al-Hanbali yarhamuhullahu dalam bidang hadits.

  • Musnad ad-Darimi dan Sunan ad-Darimi, keduanya ini pada hakikatnya adalah satu buku yang sama.

  • Buku Tahdzibu as-Sunan karya Ibnul Qoyyim rahimahullahu.

  • Buku al-Lu`lu` wal Marjaan fiima ittafaqo ‘alaihi asy-Syaikhoon karya Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, buku yang sangat bagus. Sanad-sanadnya dihilangkan agar ringkas dan jumlah haditsnya adalah 1906.

2. ‘Aqidah

  • Buku Tathhîru al-I’tiqôd karya ash-Shon’âni dan Syarh ash-Shudūr fi Tahrîmi Raf’il Qubūri karya asy-Syaukâni.

Syaikh ‘Abdul Muhsin berkata :

“Keduanya adalah dua buku yang mulia. Aku banyak mengambil faidah dari keduanya terutama di dalam bantahanku terhadap Hasan al-Maliki.

  • Buku al-Ushulu ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Ibnu ‘Abdil Wahhab.

3. Bantahan

  • Buku at-Tankîl fir Raddi ‘alal Kautsârî karya al-Mu’âlimi al-Yamani, kitab yang baik dan di dalamnya sarat akan faidah.

  • Buku Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu yang berjudul Dahru Iftiro`ât Ahli az-Zaigh wal Irtiyâb ‘an Da’wati al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, buku yang lurus, sangat bermanfaat sekali.

  • Buku Syaikh ‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis di dalam membantah Hasan al-Maliki, buku yang ringkas namun bermanfaat.

  • Buku Madârikun Nazhar fis Siyâsah.

4. Fikih

  • Kitab fikih yang paling luas pembahasannya adalah al-Mughnî karya Ibnu Qudamah, al-Majmū’ karya an-Nawawi dan al-Istidkzâr karya Ibnu ‘Abdil Barr.

  • Buku Ahkâmul Janâ`iz wa Bida’uha karya Syaikh al-Albânî rahimahullâhu, Syaikh ‘Abdul Muhsin berkata tentangnya, “Aku tidak tahu ada buku yang lebih memadai daripada Ahkâmul Janâ`iz dan buku ini adalah yang paling utama yang pernah ditulis.”

  • Buku I’lâmul Muwaqqi’în, buku agung yang Syaikh menasehatkan para pelajar untuk mempelajarinya dan mengambil faidah darinya. Buku ini mencakup hukum-hukukm syar’i dan penjelasan akan hikmah-hikmahnya.

5. Tafsir

  • Buku Tafsîr Ibnu Katsir, merupakan buku tafsir yang paling bermanfaat, Syaikh menasehatkan para pelajar supaya mempelajarinya.

  • Buku Tafsir as-Sa’di, buku yang ringan cocok bagi para pelajar pemula dan ulama sekalipun. [hal. 58-62]

Tentang Buku Sayyid Quthb

Syaikh ditanya tentang buku-buku Sayyid Quthb, apakah beliau menasehatkannya untuk dibaca? Syaikh menjawab :

Aku menasehatkan untuk membaca buku-buku yang isinya benar-benar selamat, adapun contoh dari buku-buku ini –yaitu buku-buku karya Sayid Quthb-, keselamatan di dalamnya tidaklah jelas. Aku katakan, umur itu pendek maka hendaknya disibukkan dengan hal-hal yang lebih jelas keselamatannya, seperti buku-buku salaf.”

Kemudian syaikh ditanya lagi tentang bagaimana dengan menukil dari buku ini? Syaikh menjawab :

Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mencukupkan dari selainnya, sepatutnya menukil hanya dari buku-buku yang selamat.” [hal. 64-65]

Muhammad Surūr dan bukunya Manhajul Anbiyâ’

Syaikh ditanya tentang Muhammad Surur bin Zainal ‘Abidin di bukunya Manhajul Anbiyâ’ fîd Da’wati ilallôhi, apakah beliau nasehatkan untuk membacanya? Syaikh menjawab :

Aku tidak menasehatkan untuk membaca sedikitpun dari tulisan orang ini. Aku telah menelaah ucapannya yang jelek di dalam majalahnya “as-Sunnah” yang ia jadikan sebagai mimbar untuk memerangi ahlus sunnah dan mencela Ulama besar kerajaan dengan celaan yang keji.” [hal. 65]

Tentang buku Ihyâ’ Ulūmuddîn

Syaikh ditanya tentang buku Ihya` ‘Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghozali, apakah beliau nasehatkan untuk ditelaah dan dibaca? Syaikh menjawab :

Aku tidak menasehatkan untuk membacanya dikarenakan di dalamnya ada perkara yang baik dan ada yang buruk. Di dalamnya ada perkataan yang bagus dan ada perkataan yang jelek. Seorang manusia hendaknya membaca buku yang isinya benar-benar selamat (dari kesalahan dan kebatilan). Terkadang seseorang membaca buku ini kemudian merasuk sesuatu (yang buruk) pada sanubarinya, atau ia menganggap baik sesuatu yang sebenarnya buruk.” [hal. 65]

Pendapat Syaikh tentang menerima periwayatan Ahli Bid’ah

Syaikh berkata,

“periwayatan dari ahli bid’ah memiliki perincian, yaitu ada dua segi : Pertama, apabila dia seorang yang menyeru kepada bid’ahnya, maka tidak diriwayatkan darinya sedikitpun tanpa terkecuali. Kedua, apabila ia adalah orang yang terancukan dengan bid’ah namun ia tidak menyeru kepada bid’ahnya tersebut, yang demikian inilah yang dibolehkan oleh para salaf meriwayatkan darinya.” [hal. 128]

Pendapat Syaikh tentang hukum asal seorang muslim

Syaikh ditanya, “apakah hukum asal seorang muslim itu adalah adil?”

Syaikh menjawab, “Hukum asal seorang muslim adalah ia tidak dijarh dan tidak pula dita’dil, melainkan setelah tampak adanya perkara yang mengharuskannya dijarh atau dita’dil. Oleh karena itulah kita tidak menerima hadits dari orang yang majhūl (tidak dikenal) keadaannya. [hal. 130]

Pendapat Syaikh tentang mencukupkan diri dengan buku Jarh wa Ta’dil ulama kontemporer

Syaikh hafizhahullahu ditanya, “Apakah kita hanya mencukupkan diri dengan buku-buku ulama kontemporer di dalam Jarh wa Ta’dil ataukah ulama lampau?

Syaikh hafizhahullahu menjawab, “Ulama kontemporer, mereka meneliti buku-buku ulama terdahulu dan kalian dapatkan hasilnya yang kini berada di tengah-tengah kita, tanpa ada sesuatupun yang baru. Aku menasehatkan kepada para penuntut ilmu untuk membaca buku ulama terdahulu dan kontemporer, meskipun karya ulama terdahulu telah mercukupi, karena mereka adalah pondasi yang dibangun di atas mereka (ilmu ini).” [hal. 146]

Pendapat Syaikh tentang menyingkat sholawat kepada Nabi dengan saw

Syaikh hafizhahullahu berkata,

“termasuk diantara kesalahan para penulis saat ini adalah mereka menulis shighah sholawat kepada Rasul kita yang mulia dengan disingkat menjadi “ص” atau “صلعم” –atau disingkat saw– atau dipendekkan menjadi “Shallallahu” atau “alaihis Salam” saja, padahal selayaknya menghimpun antara sholawat dan salam sekaligus, maka kita katakan “Shallallahu ‘alaihi wa Salam” baik dengan ucapan maupun tulisan, sebagaimana firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzaab : 56). . [hal. 137]

Pendapat Syaikh tentang ucapan karomallohu wajhaju kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu

Syaikh hafizhahullahu berkata,

“termasuk kesalahan yang para penulis kontemporer banyak terjerumus ke dalamnya dan juga para penulis terdahulu, adalah penulisan karomallohu wajhahu atau ‘alaihi Salam setelah menyebutkan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu… Hal ini, walaupun sekalipun maknanya benar, namun sepatutnya mempersamakan diantara para sahabat di dalam penyebutannya, karena hal ini termasuk bab pengagungan dan pemuliaan, maka Syaikhain (Abu Bakar dan ‘Umar) dan Amirul Mu’minin ‘Utsman adalah lebih utama, semoga Alloh meridhai mereka semua.” [hal. 137-138]

Pujian terhadap Imam al-Albani

Beliau hafizhahullahu berkata :

“Ada dua orang, yang penuntut ilmu merasa tercukupi denga buku karya keduanya di dalam ilmu hadits, yaitu Ibnu Hajar dan al-Albânî rohmatullahi ‘alahimâ. [hal. 58]

Pujian terhadap Imam Ibnu Baz

Ketika menukil ucapan al-Hafizh Ibnu Hajar tentang biografi Ibnul Mubarok rahimahullahu yang dikatakan oleh al-Hafizh sebagai Tsiqoh tsabt, faqih ‘âlim, Syaikh mengatakan :

Orang yang semisal dengan beliau di zaman ini adalah Syaikh kami, al-Imam Syaikhul Islam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.” [hal. 115]

Pujian terhadap Hafizh al-Hakami

Telah meninggal al-Hazimi rahimahullahu dan umur beliau adalah 35 tahun. Adz-Dzahabi berkata tentang beliau di dalam kitabnya “Man yu’tamadu qouluhu fil Jarhi wat Ta’dil” : “Beliau wafat dalam keadaan masih muda belia”. Beliau memiliki kitab lainnya, judulnya “al-I’tibaar fin Nâsikh wal Mansūkh minal Âtsar”.

Orang yang seperti beliau di zaman ini adalah Hafizh al-Hakami rahimahullahu, beliau wafat dan umur beliau adalah 35 tahun. Tulisan-tulisan beliau tersebar di perpustakaan-perpustakaan dan para penuntut ilmu banyak memetik faidah darinya…” [hal. 27 – catatan kaki]

Demikian sekilas resensi buku ini, Semoga bermanfaat…

 


Related articles

 Comments 6 comments

  • abuabdurrahman80 says:

    Assalaamu’alaikum wa rahmatullah,
    Saya baca terjemahan buku Rifqon Ahlus Sunnah, memang tersirat bahwa ini berkaitan mengenai perselisihan antara ahlus sunnah sebagaimana kalimat berikut :
    “bahkan diantara kesalahan tersebut yang membuat seseorang bisa dicela dan ditahzir disebabkan ia bekerja sama dengan salah satu badan sosial agama (jam’iyaat khairiyah) seperti memberikan ceramah atau ikut serta dalam seminar yang dikoordinir oleh badan sosial tersebut, pada hal syeikh Abdu’aziz bib Baz dan syeikh Muhammad bin sholeh Al ‘Utsaimin sendiri pernah memberikan muhadharah (ceramah) terhadap badan sosial tersebut lewat telepon,”( Berlemah Lembut Terhadap Sesama Ahlus Sunnah didownload dari http://abusalma.wordpress.com)
    Yang saya pahami jam’iyaat khairiyah yang dimaksud adalah Yayasan Ihya’ut Turats, di Indonesia mungkin bisa dimasukkan juga Yayasan Al Sofwah dan Yayasan Wahdah Islamiyah. Berkaitan dengan Yayasan Wahdah dulu saya pernah bertanya pada Abu Salma perihal yayasan ini. Berdasarkan jawaban yang Abu Salma berikan (dijawab via Email) maka saya tunggu di Email namun tak kunjung dijawab. Saya mengira mungkin Abu Salma enggan menjawab karena pertanyaan ini kurang bermanfaat. Dan yang sampai saat ini saya fahami bahwa semua yayasan itu ahlus sunnah karena secara zahir mereka tidak menolak manhaj salaf dengan kadar ke-ahlussunnah-annya masing-masing, lebih baik saya salah “menuduh” suatu yayasan sebagai ahlus sunnah daripada menuduhnya ahlul bid’ah. Tetapi tak disangka pertanyaan saya dimanfaatkan sekelompok orang untuk memojokkan Abu Salma. Untuk itu saya mohon maaf pada Abu Salma atas pertanyaan saya dulu, dan jika pemahaman saya mengenai yayasan itu salah mohon Abu Salma menjelaskannya. Semoga Allah merahmati dan memberkahi kita semua.

    Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi Wabarokatuh
    Sebelumnya, afwan, karena ana lupa menjawab email antum.
    Kedua, tentang fihak yg memojokkan ana, maka itu tdk memusingkan ana sedikitpun. Biarkan mereka berhembus bagai angin lalu.
    Ketiga, mengenai yayasan-2 tsb, maka di dalamnya bercampur antara yg shalih dan yang thalih. Kita tdk mengeluarkan person per person dari lingkaran ahlus sunnah, kecuali apabila ada hujjah yang nyata. Namun, kesalahan yg ada pd mereka maka wajib kita hindari dan jauhi…
    Wallohu a’lam.

  • insyaflahsalafy says:

    quote:
    Kedua, tentang fihak yg memojokkan ana, maka itu tdk memusingkan ana sedikitpun. Biarkan mereka berhembus bagai angin lalu.

    Tanya:
    Saya barusan lihat tulisan yang berjudul “Siapakah Abu Salma itu ?”.
    Intinya memang seperti yang mas Abu Salma tulis di atas, kesannya “memojokkan”.
    Yang saya ingin tanyakan, ternyata orang yang menulis artikel itu juga mengaku sebagai penganut manhaj salaf.
    Yang saya heran, kok bisa-bisanya ada orang yang mengaku sebagai penganut manhaj salaf, tapi kok kerjanya hanya bongkar-bongkar aib orang lain ?
    apakah memang pembahasan “bongkar-bongkar aib” ini memiliki jam khusus dalam kurikulum pengajian mereka ?

    Wallohu a’lam bish showab…

  • Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi wabarokatuhu

    Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi Wabarokatuh

    Saudaraku…tidak tahu telah berapa lama kita tidak saling menghaturkan salam, saya berharap salamku di atas dicatat oleh Allah sebagai bentuk cinta kasih diantara kita. Sebagaimana banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan kepada kita untuk saling kasih-mengasihi.

    Amin. Semoga kita termasuk hamba-2 Alloh sebagaimana yang difirmankan Alloh : “Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath : 29]

    saudaraku fillah…
    Saya bertanya dengan jujur, menurut antum : kebenaran kedua buku tersebut dari sisi manhaj ada pada siapa ?

    Dengan jujur saya katakan, bahwa buku al-Ustadz Luqman Ba’abduh-lah yang lebih dekat kepada kebenaran dari sisi manhaj salaf. Mungkin hanya masalah ushlub dan beberapa hal yg perlu dikoreksi dari buku beliau. Adapun buku Ustadz Abduh, lebih baik di dalam ushlub dan penyampaian, sehingga lebih mengena bagi masyarakat umum

    Sebab menurut pengetahuan saya yang dipermasalahkan oleh Abduh ZA bukan pada substansi yang dibahas oleh Ustadz Luqman,seperti :
    1. Keberadaan Khawarij pada jaman ini
    2. Kedudukan tokoh-tokoh populer pada saat ini seperti S. Qutub, Hasal Al-Banna, Usamah bin Laden dan semisalnya yang dibahas oleh Ustadz Luqman dalam MAT.

    Setahu saya, dan saya telah membaca dua buku Ustadz Abduh ZA, yaitu “Siapa Teroris Siapa Khowarij” dan “Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi”. Demikian pula dengan buku Ustadz Luqman, ana sudah membaca 2 buku beliau, yaitu “Mereka adalah Teroris” dan “Menebar Dusta Membela khawarij”.
    Setahu saya, substansi yang dipermasalahkan oleh Ustadz Abduh adalah, kenapa buku Ustadz Luqman yang sekiranya bermaksud membantah buku Imam Samudera, malah melebarkan bantahannya kepada tokoh-2 IM dan selainnya, yang notabene, mereka ini -yaitu tokoh-2 IM- menurut Abduh ZA, merupakan ulama dan tokoh-2 Islam. Sedangkan Abduh sendiri lebih memilih tawaqquf thd tokoh-2 takfiri seperti Usamah bin Ladin, Aiman, dls…
    Walau, ana sendiri memiliki catatan, ketika melihat bahwa Ustadz Abduh, menukil dari beberapa tokoh takfiri seperti Abu Basyir ath-Thurthusyi dan semisalnya. Tanggapan sederhana ana bisa dibaca di Koreksi Buku Siapa Teroris Siapa Khowarij, walau tidak tuntas dan tidak selesai.
    Adapun tokoh-2 populer yang antum sebutkan, inilah salah satu substansi dan motivasi kenapa Ustadz Abduh sampai harus menuliskan bukunya. Yang dalam rangka membela tokoh-2 tersebut. Allohu a’lam.

    Saya melihat dari jawaban-jawaban Saudara kita Abu Amr Alfian, bahwasannya Saudara kita Abduh tidak berusaha membahas Tema / Substansi yang di angkat USt. Luqman, bahkan kebalikan dari itu Beliau hanya membahas penulkilan-penukilan dan kesalahan Ustadz yang bukan masalah prinsip, yang mana kesalahan-kesalahan semacam itu sangat manusiawi. Sedangkan kita melihat Syarah KItabut Tauhid yang fenomenal saja di sana ditemukan kesalahan No. surat Al-qur,an ataupun terkadang no. ayat. Apalagi Ustadz Luqman.

    Penjelasan al-Akh Abu ‘Amr ada benarnya juga, namun menurut saya tidak semuanya demikian. Bahkan saudara Abduh mengangkat substansi bukunya adalah utk membela tokoh-2 yang di’hujat’ (menurut anggapan Ustadz Abduh) oleh Ustadz Luqman Ba’abduh.
    Dan saya pribadi sedikit bosan ketika membaca buku terakhir tulisan Ustadz Abduh, tmsk juga buku Ustadz Luqman -yang dibantu oleh Alfian- ttg masalah mengoleksi kesalahan-2 manusiawi, yang seakan- terlalu berlebihan. Sehingga substansi perdebatan di dalamnya menjadi kurang fokus, Allohu a’lam.
    Dan memang benar, tidak ada satupun karya manusia yang sempurna, walau sealim apapun orang itu pasti ada kesalahannya. Namun, kesalahan itu ada yang tidak disengaja dan ada pula yang disengaja. Yang disengaja pun bisa jadi karena faktor kesalahfahaman, tidak faham (jahil) atau memang keyakinannya demikian

    Namun Saya melihat keanehan pada ummat di Indonesia ini, mengapa para pembaca sangat senang terhadap perdebatan yang seperti itu ? yaitu tidak mengarah pada substansi / tema !

    Dalam hal ini, saya mungkin bisa jelaskan ada beberapa hal :
    Pertama, ada pembaca yang fanatik thd salah satu ustadz, sehingga apapun yang ditulis oleh ustadznya, dianggapnya sebagai kebenaran. Dan orang semisal ini sangat antipati thd lawan dari ustadznya, sehingga ia pasti menghujat, mencela dan menolak apa yang dikatakan oleh lawan ustadznya, padahal bisa jadi apa yang dikatakan oleh lawan ustadznya benar. Dan kaum yang seperti ini adalah banyak, baik mereka yang fanatik thd Ustadz Luqman maupun thd Ustadz Ba’abduh. Contohnya bisa kita lihat di dalam forum myquran dan buku tamu situs merekaadalahteroris.com
    Kedua, ada pembaca yang obyektif. Dia merujuk dan melihatnya pada kebenaran. Apabila dalil ustadz ini benar maka ia menerimanya walaupun ustadz itu berselisih dengan pemahamannya. Dan orang yang seperti ini bisa dikatakan mungkin langka.
    Ketiga, pembaca yang apatis dan bingung, sehingga ia membenarkan semuanya. Tipe orang seperti ini seringkali mengatakan, “untuk apa kita berdebat… masih banyak masalah penting lainnya…”, “Ustadz Luqman punya dalil, dan ustadz Abduh juga punya dalil, selama masih berlandaskan dalil untuk apa dipertengkarkan…”.
    Pembagian di atas hanya menurut asumsi ana pribadi, bisa salah dan bisa benar. Dan menurut ana, yang paling banyak adalah orang gol pertama. Sehingga yang seringkali muncul adalah hizbiyah ashobiyah kepada individu tertentu. Allohu a’lam.
    Sehingga, jangan merasa aneh. Karena dunia ini akan semakin diliputi oleh keanehan.

    Saya melihat justru Abduh seakan-akan mengkaburkan permasalahan.

    Ini tergantung subyektivitas orang tersendiri. Ke mana ia berafiliasi…

    Mestinya kia semua harus mendorong kepada Saudara Abduh untuk mendebat Ustadz Luqman dalam perkara Substansinya itu,

    Mestinya demikian. Namun bagaimana apabila ia menyatakan bahwa bukunya telah membantah substansi dari buku ustadz Luqman, yaitu ia melakukan pembelaan thd sebagain tokoh yang di’hujat’ oleh Ustadz Luqman?
    Jika menurut kita bantahan Ustadz Abduh tidak substantif, maka kita juga perlu mendorong ustadz Luqman untuk men’debat’ Ustadz Abduh dan menerima tantangannya, dan menjelaskan ketidak-substatifan bantahan Ustadz Abduh. yang demikian ini lebih baik insya Alloh…

    karena bagaimanapun juga saya (orang awam)yang tidak mampu merujuk kepada kitab-kitab para ulama mungkin karena tidak punya kitab atau tidak dapat membaca kitab bahasa arab sangat menunggu apakah Isi substansi Buku MAT itu benar atau salah ditinjau dari manhaj yang lurus.
    Mohon tanggapannya !
    Mohon maaf jika anggapan saya terhadap tulisan Abduh salah mengingat saya tidak baca tulisan dia secara langsung.

    Untuk itulah, sebagai tholibul ilmi, ada baiknya kita meninjau argumentasi kedua belah fihak. Sehingga kita bisa mengetahui dengan ilmu yang kita ketahui sendiri bahwa buku ini lebih dekat kepada al-Haq dan buku yg satunya lebih dekat kpd penyimpangan.

    Saya menyimpulkan demikian berdasarkan bantahan-bantahan Abu Amr dan Ustadz Luqman terhadap tulisan Beliau.

    Kesimpulan berangkat dari pengetahuan…

    Perlu juga antum ketahui, bahwasannya kebenaran perdebatan antar dua orang melalui risalah bisa diketahui oleh kaum muslimin melalui risalah orang ke tiga. Tidak mesti harus diketahui melalui perdebatan secara ketamu langsung diantara mereka berdua.
    Seandainya saja orang-orang seperti antum atau semisalnya mau ikut serta dengan mencari pahala dari sisi Allah meluangkan waktu membaca buku-buku dari kedua belah pihak dengan kebersihan jiwa Insya Allah akan mengetahui, mana diantara dua belah fihak yang benar dari sisi manhaj salafus sholih. Dengan itu antum dapat buat buku baru untuk membela salah satunya. Demikian pula yang saya ketahui para ulama senentiasa membela atau paling tidak merekomendasi terhadap salahsatu orang yang mereka terjadi perselisihan.

    Mungkin saya blm memiliki kapasitas utk menjadi spt orang yg antum sebutkan. Sebenarnya, dua orang saudara kita, ustadz Arifin dan ustadz Firanda telah menurunkan risalah ilmiah yang cukup padat dan berisi ta’sil (penguatan fundamen pemahaman) yang sangat bagus, berkenaan masalah ini. Yaitu “Antara Abduh dan Ba’abduh”. Walau blm bisa dikatakan menjawab semua secara tuntas, namun ta’sil yang diberikan insya Alloh bisa memberikan kita frame mana yang benar dan mana yg salah.
    Walau oleh sebagian rekan kita, risalah kedua ustadz ini ditolak, dicerca dan dibantah dengan kemarahan dan tanpa ilmu.

    Menurut hemat saya, sangat di sayangkah antum dan yang semisalnya yang nota bene dalam suatu kelompok yang netral (tidak ada pada komunitas keduanya) tidak mau nimbrung menjelaskan mana-yang benar dan mana yang salah.

    Alhamdulillah, kita berusaha menjelaskan bahwa yg salah itu salah dan yg benar adalah benar, sejauh pemahaman dan pengetahuan kita.

    Mungkin antum atau semisalnya takut dikatakan mendahului dari keduanya, namun menurut ana tidak masalah, yang penting antum mengatakan yang hak toh kita ketika menulis tidak mengharap pujian dari manusia satupun (insya Allah)
    Sangat beda apabila penjelasan orang ketiga itu dari Ustadz yang saat ini bersama Ustadz Luqman seperti Al-Fian atau Ath-Thalibi yang sejalan dengan Abduh.
    Semoga dapat difahami, mohon maaf kalau kurang simpel mengingat ini semua adalah spontanitas.
    Demikian, saya doakan atas jawaban antum Jazakallahu khoiron jaza.

    Amin wa iyakum…

    Wassalamu ‘alaikum Waromhmatullahi wabarokatuhu.

    Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi Wabarokatuh

  • aboezaid says:

    jazakallahu khoiron mas…

  • Penulis Bebas says:

    Assalamu’alaikum,
    ana masuk blog abu[khurofy, ed].wordpress.com, ana kaget isi blog itu.
    Disitu banyak dijelaskan bahwa Syaikh Abdul Wahhab penyeru takfirin (khawarij modern) terus juga banyak tulisan yang menyerang Syaikhul Islam ibnu Taimiyah.
    Seperti manhaj salaf makin bertambah yang memusuhinya selain orang kafir, dan herannya dari kaum muslimin yang kita harapkan kesadaran akan kesalahannya.
    Sungguh ironis jika di dalam tubuh salafy sendiri saling tuduh menuduh padahal para hizbiyah mereka bersatu (karena satu kepentingan) “menyerang” salafy.
    Bahkan mereka menggunakan cara – cara orientalis (seperti penamaan “abusalafy”) [lebih tepatnya abukhurofy, ed]
    Entah sampai kapan ??

  • Penulis Bebas says:

    Afwan bila ana curhat disini, sepertinya sekarang salafy udah dikepung dari berbagai penjuru. Ana nemu website lagi (tidak ana sebutkan nanti dikunjungi) dan terlihat banyak yang memberi komentar termasuk dari salafiyin sendiri. Mengakunya sih islam tapi di halaman depannya besar fontnya ada ucapan selamat Natal, parahnya ditambah legitimasi ayat al-Quran lagi, isinya sepertinya khusus menyerang wahabi.

  • Silakan berikan tanggapan...

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: