DI BALIK HIKMAH ADAM DITURUNKAN KE BUMI?

 Jun, 05 - 2020   no comments   Fawaid


Waktu itu ada yang nanya…

kenapa Allah menakdirkan Adam turun dari surga ke dunia ini?”

Kenapa ngga ditakdirkan aja di surga, biar kita semua ngga usah susah tersiksa di dunia ini… Bisa nyaman di surga“…

Juga ada anak yang bertanya kepada Umminya, “Ummi kenapa Allâh menurunkan Nabî Adam ke bumi?”

Lalu sang ibu menjawab, “karena Adam memakan buah terlarang, sebab menuruti iblis“…

Si anak bertanya lagi, “kenapa Adam koq mau memakan buah terlarang?” Sang ibu pun akhirnya kebingungan…

Ada lagi yang lebih parah, yaitu tulisan tokoh SEPILIS tanah air, yang beberapa tahun silam sempat dimuat di salah satu surat kabar harian… Judulnya pun membuat heboh, “Tuhanpun gagal mendidik Adam“…

Karena menurut logika si bapak SEPILIS ini, Allâh sebagai Rabb tidak mampu mentarbiyah Adam makhluk yang diciptakan secara spesial, sehingga tuhan pun marah dan mengusirnya dari surga…

Demikianlah… Ketika akal tak disinari ilmu lancang berbicara..

Sebenarnya sebagai hamba, ada kaidah besar yang sering kita lupakan (atau lalaikan)… Apa itu?

(لَا یُسۡـَٔلُ عَمَّا یَفۡعَلُ وَهُمۡ یُسۡـَٔلُونَ)

Allah tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya. [Surah Al-Anbiya’ 23]

Jika pun kita ingin tahu, maka ikutilah pemahaman para ulama yang akalnya disinari ilmu semisal al-Hafizh Ibnul Qoyyim, sebagaimana dalam image ini…

Silakan membaca dan mencermati, lalu mengambil faidahnya…Al-Hâfizh Ibnul Qoyyim rahimahullâhu memberikan jawaban yang bernas :

Sesungguhnya Allâh Subhânahu ketika mengeluarkan Adam, bapaknya umat manusia dari surga, karena memang ada hikmah-hikmah yang sulit diketahui oleh akal manusia dan sulit dijelaskan oleh lisan.

Dikeluarkannya Adam dari surga itu sejatinya bentuk kesempurnaan agar Adam dapat dikembalikan lagi ke surga dalam keadaan yang jauh lebih baik. Allâh berkeinginan agar Adam dan keturunannya merasakan penderitaan, kesedihan, kesusahan dan rasa sakit di dunia, dan seberapa besar hal ini ada pada mereka, sebatas itu pula mereka memasuki surga di negeri akhirat.

Sesungguhnya, kebalikan itu akan menampakkan kebaikan dari lawannya [maksudnya : kesulitan itu menunjukkan kebaikan dari kebalikannya, yaitu kemudahan, Pent.]. Sekiranya manusia itu tumbuh berkembang di Dârun Na’îm (negeri yang penuh kenikmatan, yaitu surga, Pent.), niscaya mereka takkan bisa mengetahui kadar/tingkatannya. Selain itu, Allâh ﷻ juga berkeinginan untuk memerintah, melarang, menguji dan mengetes mereka.

Surga itu bukanlah negeri taklîf (yaitu pembebanan untuk melakukan perintah dan menjauhi larangan, Pent.), karenanya Allâh mengeluarkan manusia ke bumi kemudian menguji manusia dengan pembebanan ini (yaitu berupa perintah dan larangan, pent.) agar mereka dapat memperoleh balasan terbaik yang takkan bisa diraih tanpa adanya (ujian berupa) perintah dan larangan.

Demikian pula Allâh ﷻ berkehendak menjadikan ada di antara manusia sebagai nabi, rasul, wali dan orang yang mati syahid. Allâh ﷻ mencintai mereka dan demikian pula mereka mencintai Allâh. Allâh bermaksud memilah di antara mereka dengan musuh-musuh-Nya dan menguji mereka. Manakala mereka lebih mengutamakan Allâh dan mengerahkan jiwa dan harta mereka untuk mencari keridhaan dan kecintaan-Nya, maka mereka pun memperoleh kecintaan, ridha dan kedekatan dengan-Nya, yang mana ini asalnya takkan bisa diraih tanpa adanya ujian.

Selain itu juga Allâh ﷻ memiliki al-Asma`ul Husnâ (nama-nama yang indah) diantaranya

  • al-Ghofûr (Yang Maha Pengampun)
  • al-‘Afû (Yang Maha Pemaaf)
  • al-Halîm (Yang Maha Lembut)
  • al-Khôfidh war Rôfi’ (Yang Maha Merendahkan dan Meninggikan)
  • al-Mu`izz wal Mudzill (Yang Maha Memulikan dan Menghinakan)
  • al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan)
  • al-Mumît (Yang Maha Mematikan)
  • al-Wârits (Yang Maha Mewarisi, maksudnya semua yang digunakan makhluk-Nya adalah milik Allâh yang Allah wariskan sementara untuk mereka, Pent.)
  • Ash-Shobûr (Yang Maha Penyabar), dll.

Semua Nama-Nama ini haruslah menunjukkan pengaruh-Nya. Maka berlakulah hikmah Allâh ﷻ ketika menurunkan Adam dan anak keturunannya di negeri (dunia) yang Allah menampakkan pada mereka pengaruh dari Nama-Nama-Nya yang Indah (Asma’ul Husna) ini.

  • Maka Allah mengampuni di dunia ini siapa saja yang Ia kehendaki.
  • Dia merahmati siapa saja yang Dia kehendaki. Dia merendahkan dan meninggikan (derajat) siapa saja yang Dia kehendaki.
  • Dia memuliakan dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki.
  • Dia membalas makar siapa saja yang Dia kehendaki.
  • Dia memberi dan mencegah serta meluaskan (karunia-Nya) kepada siapa saja.
  • Dan seterusnya…

ini semua untuk menampakkan pengaruh dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya.

Selain itu juga, manakala Allâh ﷻ mencintai :

  • ash-Shôbirîn (orang-orang yang sabar, lihat QS Ali Imran : 146)
  • al-Muhsinîn (orang-orang yang berbuat baik, lihat QS al-Baqoroh : 134, Ali Imran : 148, Al-Ma’idah : 13 dan 93)
  • orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur [lihat QS ash-Shaff : 4]
  • at-Tawwâbîn (orang-orang yang bertaubat, lihat QS al-Baqoroh : 222)
  • al-Mutathohhirin (orang-orang yang mensucikan diri, lihat QS al-Baqoroh : 222)
  • dan asy-Syâkirîn (orang-orang yang bersyukur), maka kecintaan-Nya ini adalah bentuk kemuliaan tertinggi.

Hikmah Allâh ﷻ berlaku dan Allâh tempatkan Adam dan anak keturunannya di suatu negeri (yaitu dunia) yang Allâh datangkan sifat-sifat ini (yaitu sabar, muhsin, syukur, dll) sehingga mereka bisa meraih tingkat kemuliaan tertinggi dari cinta-Nya. Karenanya, diturunkannya manusia ke muka bumi ini merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dan Allâh mengkhususkan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, Dan Dia-lah yang memiliki karunia terbesar [lihat QS Ali Imron : 74].

Miftâhud Dâris-Sa’âdah hal. 4 dan 5.

Bagi yang ingin mengunduh kitab bermanfaat ini di Play Book : shorturl.at/gkHV3

Cinere, 11 Syawal 1441 H

فَإِن الله سُبْحَانَهُ لما أهبط آدم أَبَا الْبشر من الْجنَّة لما لَهُ فِي ذَلِك من الحكم الَّتِي تعجز الْعُقُول عَن مَعْرفَتهَا والألسن عَن صفتهَا فَكَانَ إهباطه مِنْهَا عين كَمَاله ليعود إليها على أحسن أحواله فَأَرَادَ سُبْحَانَهُ أن يذيقه وَولده من نصب الدُّنْيَا وغمومها وهمومها وأوصابهَا مَا يعظم بِهِ عِنْدهم مِقْدَار دُخُولهمْ إليها فِي الدَّار الآخرة، فَإِن الضِّدّ يظْهر حسنه الضِّدّ، وَلَو تربوا فِي دَار النَّعيم لم يعرفوا قدرهَا، وَأَيْضًا فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أراد أَمرهم ونهيهم وابتلاءهم واختبارهم، وَلَيْسَت الْجنَّة دَار تَكْلِيف فأهبطهم إلى الأرض وعرضهم بذلك لأفضل الثَّوَاب الَّذِي لم يكن لينال بِدُونِ الأمر وَالنَّهْي، وأيضا فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَرَادَ أن يتَّخذ مِنْهُم أنبياء ورسلا وأولياء وشهداء يُحِبهُمْ وَيُحِبُّونَهُ فخلى بَينهم وَبَين أعدائه وامتحنهم بهم فَلَمَّا آثروه وبذلوا نُفُوسهم وأموالهم فِي مرضاته ومحابه نالوا من محبته ورضوانه والقرب مِنْهُ مَا لم يكن لينال بِدُونِ ذَلِك أصلا… وأيضا فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَهُ الأسماء الْحسنى، فَمن أسمائه الغفور الرَّحِيم الْعَفو الْحَلِيم الْخَافِض الرافع الْمعز المذل المحيي المميت الْوَارِث الصبور، وَلَا بُد من ظُهُور آثَار هَذِه الأسماء فاقتضت حكمته سُبْحَانَهُ أن ينزل آدم وَذريته دَارا يظْهر عَلَيْهِم فِيهَا أثر أسمائه الحسنى فَيغْفر فِيهَا لمن يَشَاء وَيرْحَم من يَشَاء ويخفض من يَشَاء وَيرْفَع من يَشَاء ويعز من يَشَاء ويذل من يَشَاء وينتقم مِمَّن يَشَاء وَيُعْطى وَيمْنَع ويبسط إلى غير ذَلِك من ظُهُور أثر أسمائه وَصِفَاته… وأيضا فإنه سُبْحَانَهُ لما كَانَ يحب الصابرين وَيُحب الْمُحْسِنِينَ وَيُحب الَّذين يُقَاتلُون فِي سَبيله صفا وَيُحب التوابين وَيُحب المتطهرين وَيُحب الشَّاكِرِينَ وَكَانَت محبته أعلى أنواع الكرامات اقْتَضَت حكمته أن أسكن آدم وبنيه دَارا يأْتونَ فِيهَا بِهَذِهِ الصِّفَات الَّتِي ينالون بهَا أَعلَى الكرامات من محبته فَكَانَ إنزالهم إلى الأرض من أعظم النعم عَلَيْهِم: وَالله يخْتَص برحمته من يَشَاء وَالله ذُو الْفضل العظيم.


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: