ORANG-ORANGAN SAWAH

Ada apa dengan orang²an sawah?

Kita semua tahu sosok orang²an sawah alias manusia jerami, yang disusun sedemikian rupa hingga berbentuk seperti orang.
Walau bisa berguna untuk mengusir burung pemakan padi²an, namun sejatinya orang²an sawah ini hanyalah seperti patung yang tidak bisa ngapa²in. Karena itu, walau dia mungkin menakutkan utk burung, namun dia sasaran empuk bagi manusia, dihajar sedemikian rupa takkan bisa menghindar, alih² membalas.

Trus, ada apa emangnya dengan manusia jerami atau orang²an sawah ini?

Manusia jerami atau Inggrisnya kita sebut strawman, di bulan Sya’ban apalagi pertengahan Sya’ban ini lagi rame lho…
Mungkin ada diantara pembaca pernah mendengar sebutan Strawman fallacy, yang merupakan bagian dari logical fallacy alias kesalahan logika berfikir.
Strawman Fallacy secara sederhana bermakna misrepresenting someone’s argument to make it easier to attack
[Menyalahpersepsikan argumen seseorang agar lebih mudah diserang].
Ya, semisal Anda menyerang manusia jerami, begitu mudahnya, dia takkan bisa menghindar apalagi membalas serangan Anda.
Sejatinya, metode strawman ini termasuk bentuk manipulasi dan lari dari substansi argumen.

Emang, apa kaitannya strawman dengan bulan Sya’ban?

Agar lebih jelas, akan saya contohkan saja…
CONTOH 1 :
Si A : membaca surat Yasin 3x di Nishfu Sya’ban itu tidak ada tuntunannya alias bid’ah.
Si B : Masak membaca al-Qur’an aja dilarang.
CONTOH 2 :
Si A : Melaksanakan sholat raghâ’ib itu ga ada dalilnya dan termasuk bid’ah yang mungkar.
Si B : Masak orang sholat dilarang dan dibid’ah²kan…
Dalam dialog imajiner di atas, si A menunjukkan argumentasi bahwa membaca surat Yasin 3x di Nishfu Sya’ban dan sholat Raghaib itu bid’ah, karena tidak ada dalil dan tuntunannya.
Namun si B, bukannya membantah argumen tsb dg membawakan bukti bahwa amalan tsb ada  dalilnya, lalu malah membawa asumsi lain dimana seakan² si A berpandangan seperti itu, yaitu melarang membaca al-Qur’an dan melarang sholat. Padahal, si A tdk pernah berpandangan bahwa membaca al-Qur’an dan sholat itu dilarang.
Si B menyalahpersepsikan argumen si A agar mudah diserang dan dijatuhkan. Padahal si B telah jatuh ke kesesatan logika alias logical fallacy.

Belajar dari salaf membantah kesesatan logika

أخرج عبد الرزاق في مصنفه أن سعيد بن المسيب رحمه الله رأى رجلاً يكرر الركوع بعد طلوع الفجر فنهاه.
Abdurrazzaq menyebutkan di dalam Mushonnaf_nya bahwa Sa’id bin al-Musayyib rahimahullåhu melihat ada seorang pria yang mengulang²i ruku’nya (sholat) selepas terbitnya fajar, lantas beliau melarangnya.
فقال: يا أبا محمد أيعذبني الله على الصلاة؟
Orang itu membantah : Wahai Abu Muhammad, apakah Allâh akan mengadzabku lantaran sholatku??
قال: لا، ولكن يعذبك على خلاف السنة.
Sa’id bin al-Musayyib menjawab : Tidak, tapi Allâh mengadzabmu lantaran kamu menyelisihi sunnah Nabi.
Perhatikanlah, bagaimana Imam Sa’id bin al-Musayyib membantah dan mematahkan argumentasi logical fallacy orang tersebut…
Karena itu sahabat, jangan heran jika kita dapati ketika saudara² kita jatuh kepada kesalahan, lalu kita ingatkan, maka kita akan diberi label : anti sholawat, pembenci ahli bait, anti dzikir, tidak mencintai Nabî, dan tuduhan² lainnya.
Itu semua adalah alegasi orang²an sawah alias strawman…
Duh, kasiannya si strawman…
____________________
Berau, 15 Sya’ban 1438 H.
@abinyasalma


Related articles

 Comments 1 comment

  • Wongirreng says:

    Izin share ke grub WA ana.

  • Silakan berikan tanggapan...

    %d bloggers like this: