APAKAH ALLAH MEMBENCI ORANG GEMUK?

Ada sebuah redaksi/lafazh yang cukup masyhur (populer) menyebar dan terkadang dibacakan oleh beberapa ustadz atau pengkhotbah berbunyi :

(إن الله يبغض الحبر السمين)
Sesungguhnya Allah membenci seorang ahli ilmu yang berbadan gemuk

Setelah saya coba telusuri, maka lafazh di atas datang dari riwayat yang tidak Shahih (valid). Berikut saya rangkumkan dari islamQA

Pengelola/admin situs IslamQA mengatakan :

بعد البحث عن هذا الحديث تبين لنا أنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا تصح نسبته إليه ، ولم يثبت عمن يُروَى عنهم أيضا من الصحابة رضوان الله عليهم .
Setelah berusaha mencari hadits ini, maka jelaslah bagi kami bahwa hadits tsb tidak valid datang dari Nabi ﷺ dan tidak shahih jika disandarkan kepada Nabi ﷺ, termasuk juga tidak valid yang diriwayatkan dari sahabat semoga Allah meridhai mereka semua.

▪Hadits 1
Datang dari sahabat Abu Umamah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi bersabda : “Allah membenci seorang ahli ilmu yang gemuk
Hadits di atas disebutkan oleh Abu Laits as-Samarqondi dalam Bustânul ‘Ârifîn, sebagaimana disebutkan oleh as-Sakhowî dalam al-Maqôshidul Hasanah (hal. 207). Namun tdk didapati asal riwayat ini, sedangkan as-Samarqondi dikenal kurang selektif dalam masalah hadits dan banyak memasukkan hadits² palsu bahkan mungkar dalam tulisannya sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lâmin Nubalâ (16/323).
Karena itu hadits di atas tidak valid dan shahih dinisbatkan kepada Nabi maupun kepada Abu Umamah.

▪Hadits 2
Yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair secara mursal, beliau berkata :
(جاء رجل من اليهود يقال له مالك بن الصيف ، فخاصم النبي صلى الله عليه وسلم .
Datang seorang pria Yahudi yang disebut dg Malik bin ash-Shoif. Dia bermaksud mendebat Nabi ﷺ.
فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أنشدك بالذي أنزل التوراة على موسى ، هل تجد في التوراة أن الله يبغض الحبر السمين؟
Nabi ﷺ lantas berkata : “Maukah kamu saya lantunkan (ucapan Rabb yang) menurunkan Taurat kepada Musa? Apakah kamu dapati bahwa ada di dalam Taurat yg menjelaskan bahwa Allah membenci pendeta (ahli ibadah) yang gemuk??”
قال : وكان حبرا سمينا ، فغضب
Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa orang Yahudi tersebut (Malik bin ash-Shoif) adalah orang yang gemuk, sehingga menyebabkan ia pun murka.
وقال : ما أنزل الله على بشر من شيء .
Lalu Yahudi itu mengatakan : “Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia.”
فقال له أصحابه الذين معه : ويحك ولا على موسى؟
Sahabat² Yahudi tsb yang sedang bersamanya menimpali : “celaka engkau, (apakah Allah juga) Tidak (menurunkan kitab) kepada Musa??”
قال : ما أنزل الله على بشر من شيء ،
Malik bin ash-Shoif tetap bersikeras mengatakan : “Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia
فأنزل الله عز وجل :
Maka turunlah firman Allah Azza wa Jalla :
(وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ)
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS al-An’am : 91)
??Diriwayatkan oleh
Abu Hatim dalam Tafsir beliau (IV/1342)
Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Jâmi’ul Bayân (XI/521)
Dari jalan Ya’qûb al-Qummi, dan dia perawi yang Dhoif.
Ad-Daruquthni menilainya sebagai Laysa biqowî (tidak kuat).
Jadi, riwayat tsb TIDAK KUAT DAN TIDAK SHAHIH.

Hadits 3
Ucapan ini juga diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab dan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhuma, namun tidak ada yang Shahih.
Perkataan Umar
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya dalam al-Jû’ (81) dan didalamnya ada perawi bernama al-Mu’ala bin Hilal, dia seorang yang pendusta dan pemalsu hadits.
Perkataan Ibnu Mas’ûd
Disebutkan oleh al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin (III/81) tanpa ada asal dan sanadnya, sedangkan buku Ihya’ Ulumuddin ini tidak samar bagi penuntut ilmu dipenuhi dengan hadits² lemah, palsu, mungkar dan tidak ada asal-usulnya.

KESIMPULAN
Riwayat yang mengatakan :
إن الله يبغض الحبر السمين
Sesungguhnya Allah membenci ahli ilmu yang gemuk
Adalah riwayat yang TIDAK SHAHIH.

 

HADITS SHAHIH YANG MENCELA GEMUK

Ada beberapa hadits yang valid dan kuat, yang di dalamnya berisi celaan terhadap gemuk.

Hadits 1
عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ يُحَدِّثُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ لَا أَدْرِي ذَكَرَ ثِنْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا بَعْدَ قَرْنِهِ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ يَنْذِرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ
Dari Imran bin Hushain menceritakan dari Nabi ﷺ bersabda;
Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”
Imran berkata; “Saya tidak tahu penyebutan dua atau tiga kali setelah generasi beliau” (beliau ragu² apakah disebutkan dua atau tiga kali).
Kemudian Nabi melanjutkan :
Kemudian akan datang suatu kaum yang mereka bernazar (bersumpah) namun tidak mereka penuhi, senang berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bersaksi padahal tidak di minta menjadi saksi, dan nampak tanda mereka adalah kegemukan.”
(Muttafaq alaihi)

Hadits 2
فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ . وَقَالَ اقْرَءُوا : (فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا)
Dari Abu Hurairoh Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda :
Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang berbahan sangat besar dan gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya di sisi Allah lbh ringan daripada sayap nyamuk.
Beliau lalu berkata : Bacalah firman Allah : “Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”
(muttafaq alaihi)

Hadits 3
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْرَائِيلَ الْجُشَمِيُّ عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ يُقَالُ لَهُ جَعْدَةُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى لِرَجُلٍ رُؤْيَا قَالَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ فَجَاءَ فَجَعَلَ يَقُصُّهَا عَلَيْهِ وَكَانَ الرَّجُلُ عَظِيمَ الْبَطْنِ قَالَ فَجَعَلَ يَقُولُ بِأُصْبُعِهِ فِي بَطْنِهِ لَوْ كَانَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا لَكَانَ خَيْرًا لَكَ
Telah menceritakan kepada kami Waki’, Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, Telah menceritakan kepada kami Abu Isra`il Al-Jusyami dari syaikh mereka yang biasa dipanggil Ja’dah, bahwa Nabi ﷺ pernah bermimpi melihat seorang laki-laki, maka beliau pun mengutus seseorang kepadanya. Laki-laki itu datang, dan beliau pun mengkisahkan mimpinya. Laki-laki itu adalah seorang yang besar perutnya, maka beliau bersabda seraya menunjuk perut laki-laki itu: “Sekiranya ini, ditempatkan bukan di sini, niscaya hal itu akan lebih baik.
(HR Ahmad, dengan sanad yang jayyid. Dihasankan oleh Syaikh al-Albânî. Lihat sini)

Hadits 4
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى الْبَكَّاءُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar-Râzî, telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah Al-Qurasy, telah bercerita kepada kami Yahya Al-Bakka’ dari Ibnu Umar beliau berkata: Ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi ﷺ, kemudian Nabi bersabda:
Hentikan sendawamu dari kami karena sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan kelaparan.”
Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini, dan dalam bab ini ada hadits dari Abu Juhaifah.
(HR. Turmudzi dan dihasankan al-Albani)

 

APAKAH GEMUK ITU TERCELA DALAM ISLAM?

Dalam hal ini, ada perinciannya sebagaimana dijelaskan para ulama. Karena tidak semua gemuk itu otomatis tercela.

Imam al-Qurthubi ketika menjelaskan sabda Nabi dari Imran bin Hushain (lihat hadits shahih nomor 1 di atas), beliau mengatakan :
وهذا ذم ، وسبب ذلك : أن السمن المكتسب إنما هو من كثرة الأكل والشره ، والدعة والراحة والأمن والاسترسال مع النفس على شهواتها ، فهو عبد نفسه ، لا عبد ربه ،
Hadits ini merupakan celaan (thd kegemukan). Sebabnya adalah gemuk al-muktasab (yang diperoleh) lantaran banyak makan dan rakus, foya-foya, hidup santai, merasa nyaman, terlalu mengikuti kesenangan jiwa dan syahwatnya. Sejatinya org spt ini adalah hamba bagi dirinya sendiri, bukan hamba Tuhannya.
ومن كان هذا حاله وقع لا محالة في الحرام ، وكل لحم تولد عن سحت فالنار أولى به ، وقد ذم الله تعالى الكفار بكثرة الأكل فقال :
Jika demikian kondisinya, maka tdk elak lagi ia jatuh kpd keharaman. Setiap daging yang lahir dari keharaman maka neraka lebih layak baginya. Allah sendiri mencela orang kafir karena banyak makan
(وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ)
“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.”  (QS Muhammad: 12)
فإذا كان المؤمن يتشبه بهم ، ويتنعم بتنعمهم في كل أحواله وأزمانه ، فأين حقيقة الإيمان ، والقيام بوظائف الإسلام ؟!
Apabila orang mu’min meniru² mereka dengan cara bersenang² seperti mereka dalam segala kondisi dan waktu, lantas dimana gerangan hakikat keimanan? Dimana kewajiban melaksanakan kewajiban² Islam?
ومن كثر أكله وشربه كثر نهمه وحرصه ، وزاد بالليل كسله ونومه ، فكان نهاره هائما ، وليله نائما ” انتهى
Orang yang banyak makan maka besar pula ketamakan dan kerakusannya. Bertambahlah rasa malasnya dan tidurnya di malam harinya. Siangnya hanya berkuliner ria sedangkan malamnya hanya tidur²an.
(al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân 11/67 via situs ini) 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjelaskan musykil (problem) bahwa tidak semua gemuk itu tercela. Beliau mengatakan :
هذا هو الوصف الرابع لهم ، كثرة الشحم واللحم ، وهذا الحديث مشكل ؛ لأن ظهور السمن ليس باختيار الإنسان فكيف يكون صفة ذم ؟
Ini adalah sifat keempat (dari hadits Imran bin Hushain sebelumnya, lihat hadits no 1 ??, pen. ), yaitu banyaknya lemak dan daging (gemuk). Ini hadits menimbulkan problem, karena munculnya lemak (gemuk) itu bukanlah pilihan seseorang, lantas bagaimana bisa menjadi sifat tercela??
قال أهل العلم: المراد أن هؤلاء يعتنون بأسباب السمن من المطاعم والمشارب والترف ، فيكون همهم إصلاح أبدانهم وتسمينها.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang² yang berlebihan di dalam makan, minum dan bersenang². Sehingga ambisi mereka adalah membesarkan badan mereka dan menjadikannya gemuk.
أما السمن الذي لا اختيار للإنسان فيه ، فلا يذم عليه ، كما لا يذم الإنسان على كونه طويلا أو قصيرا أو أسود أو أبيض ، لكن يذم على شيء يكون هو السبب فيه ” .
Adapun gemuk yang bukan karena pilihannya, maka tidaklah tercela, sebagaimana tidak tercelanya orang yang berbadan tinggi, pendek, berkulit putih atau hitam. Namun, tercelanya sesuatu itu apabila ia merupakan sebab sesuatu itu (maksudnya kegemukan yang disebabkan banyak makan dan minum, maka inilah yang tercela, wallahu a’lam.)
Lihat : Majmu’ Fatawa wa Rosa’il X/1056 via situs ini

Karena itulah Imam Syafi’i rahimahullahu berkata :
ما أفلح سمين قط إلا أن يكون محمد بن الحسن .
Tidaklah beruntung sedikitpun orang yang gemuk kecuali Muhammad bin al-Hasan (Salah satu guru Imam Syafi’i, pen)
قيل له : ولم؟
Ada orang yang bertanya : “kenapa bisa demikian?”
قال : لأن العاقل لا يخلو من إحدى خلتين :
Kata Imam Syafi’i : “Karena orang yang berakal tidaklah terlepas dari dua kondisi :
إما أن يغتم لآخرته ومعاده ،
1⃣ Orang yang mempersiapkan utk akhirat dan hari akhirnya
أو لدنياه ومعاشه ،
2⃣ Atau orang yang mempersiapkan hanya untuk dunia dan kehidupannya saja.
والشحم مع الغم لا ينعقد ، فإذا خلا من المعنيين صار في حد البهائم ، فيعقد الشحم) .
Lemak (gemuk) tdk akan bisa bersatu dengan banyaknya fikiran. Apabila seseorang terlepas dari urusan dunia dan akhiratnya, maka dia tidak ubahnya seperti hewan ternak, menjadi semakin gemuk.
(diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah IX/146 dinukil dari sini)

Pengampu situs IslamQA menjelaskan ucapan Imam Syafi’i di atas ??:
والمقصود من ذلك كله ذم السِّمَن الناتج عن الإسراف والفراغ والاستغراق في ملذات الدنيا عن العمل للآخرة ، أما من أصابه السمن لعلة أو لطبيعة جسمه عن غير إسراف ولا إفراط فهذا لا عتب عليه .
Maksudnya, gemuk yang tercela itu adalah apabila lantaran terlalu berlebihan (dalam makan dan minum), bersantai² dan bersenang² dengan kenikmatan duniawi semata dan berpaling dari aktivitas akhirat.
Adapun orang yang gemuk karena suatu penyakit atau memang bawaan tubuhnya, bukan karena berlebih²an (makan dan minum), maka tidaklah tercela.
(lihat : islamQA)

KESIMPULAN

Gemuk itu ada dua macam :
1⃣ Gemuk yang tercela, yaitu lantaran banyak makan, minum secara berlebihan, banyak santai, banyak foya² dan bersenang² duniawi. Maka inilah yang dicela Nabi.
2⃣ Gemuk yang tidak tercela, yaitu gemuk yang tidak karena pilihan, misal karena bawaan fisik atau penyakit, sedangkan dia tidak banyak makan, minum dan berlebih²an. Maka ini tdk tercela.
Wallahu a’lam.

NB: Mari kita hidup sehat dan lawan kegemukan.

✏ @abinyasalma


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: