KETIKA SEMUA INGIN BERDAKWAH

 Mar, 09 - 2016   no comments   DakwahSalafiyahSharing BermanfaatSorotan

Oleh :
Ust Abu Fairuz Ahmad Ridwan

MUKADDIMAH

Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan kita kaedah emas:
وكم من مريد للخير لن يصيبه

“Betapa banyak orang yang ingin kebaikan namun gagal mendapatkannya.

(Atsar  diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunan dan Ibnu Abi Syaibah dalam Musannafnya, dan hadis di sahihkan oleh Syeikh Al-Albani).

DAKWAH BUTUH KEBERSAMAAN DAN MUSYAWARAH

Jikalah Nabi-Shallalahu Alaihi wa sallam-diperintahkan Allah untuk bermusyawarah dengan firmannya:
ْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Dan bermusyawaratlah dengan mereka”Qs: An-Nisa : 159.

Apalagi kita yang tidak maksum dan selalu diliputi kejahilan dan kebodohan,tentu lebih wajib untuk senantiasa bermusyawarah dalam urusan-urusan besar yang menyangkut orang banyak.

Apalagi jika masih ada bersama mereka para penimba ilmu dan astidzah yang telah kenyang makan “asam garam” kehidupan di medan dakwah. Bukankah Allah -azza wa jalla-memerintahkan manusia kembali kepada ulama dan orang berilmu mereka dalam firmanNya:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya,seandainya mereka menyerahkan urusan tersebut kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama dan umara)di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. Qs: An-Nisa: 83.

Dalam ayat di atas, segala perkara yang berkaitan dengan orang banyak,baik tentang maslahat dan mudarat hendaklah dikembalikan kepada Rasulullah,yaitu sunnahnya, dan kepada ulil amri,yaitu para umara dan ulama yang mampu memberikan solusi melalui pemahaman mereka terhadap sunnah. Bahkan Allah menyebutkan setelah itu bahwa siapa saja yang tidak merujuk kepada mereka berarti telah mengangkat syetan sebagai panutan.

BELAJAR DARI PENGALAMAN SALAF

Siapa saja yang membentangkan sejarah di hadapan matanya, akan mendapatkan bahwa keselamatan itu ada dengan bertanya kepada para ulama,sebaliknya kebinasaan itu begitu dekat dengan meninggalkan ulama.

Lihatlah ribuan khawarij tersesat disebabkan tidak merujuk kepada ulama dalam memahami Quran. Lihat pula bagaimana Ibnu Abbas dengan dialoqnya dapat mengembalikan ribuan orang yang tercemar paham khawarij kepada Islam.

Seandainya bukan bertanya pada Ibnu Umar-setelah Allah-niscaya akan tersesat dua tabiin yang datang dari Kufah dalam fitnah kufur kpd Qadar.

Seandainya tidak bertemu Abdullah bin Mas’ud,akan tergelincir Bisyr bin amru dalan fitnah khawarij memerangi pemerintah.

Bisyir berkata:” Kami mengikuti Ibnu Mas’ud tatkala dia keluar menuju Qadisiyah,lantas dia masuk ke kebun menunaikan hajatnya, dia berwhudu dan mengusap di atas kaos kakinya, kemudian dia keluar sementara tetesan air wudhu membasahi janggutnya.

Kami berkata: berikanlah pada kami wasiat, sebab manusia telah terjebak dalam fitnah dan kami tidak tau apakah bisa bertemu kembali denganmu atau tidak.

Innu Masud menjawab: ” bertakwalah pada Allah dan bersabarlah hingga orang-orang yang baik akan beristirahat(wafat) dari orang jahat atau  sebaliknya, manusia di istirahatkan dari mereka. Hendaklah kalian mengikuti jama’ah sebab Allah tidak akan mengumpulkan ummat Muhammad di atas kesesatan.

TIDAK CUKUP HANYA MODAL SEMANGAT

Dalam berdakwah, tidak cukup hanya bermodalkan semangat dan iklash, di butuh ilmu, butuh strategi,butuh penangan dari para ulama agar terarah.

Jika hanya mengandalkan semangat, biasanya apa yang diinginkan akan tidak sesuai dengam kenyataan. Akibatnya fatal,jadilah apa yang mereka anghap kemaslahata hakikatnya kerusakan.

Dakwah butuh musyawarat dalam menentukan langkah-langkah strategis ke depan. Tanpa musyawarah dakwah akan berjalan sendiri-sendiri sesuai selera masing-masing. Setelah itu muncullah kesemrautan dan tumpang tindih kebijakan.

Berapa kali kita temukan di daerah perpecahan disebabkan tanpa koordinasi yang baik.

Pernah kusaksikan baliho yang terpampang besar di jalan-jalan tentang kegiatan daurah ust senior dan da’i nasional yang kuyakin dibayar mahal untuk iklan tersebut. Tetapi menurut informasi sebagian ikhwan, daurah tersebut di batalkan sang ust karena ternyata berbenturan dengan daurah ust senior yang lain, yang diadakan di tempat yang sama dengan waktu yang sedikit berbeda. Pernah pula daurah diadakan dalam waktu yang sama di tempat yang berdekatan, sehingga memecah belah jama’ah.

BUKAN INGIN MEMONOPOLI DAKWAH

Sebagian ikhwan,terkadang salah sangka memandang sikap sebagian yayasan dan asatidzah yang melarang mereka untuk mengadakan daurah dengan  berbagai tuduhan seperti ungkapan:

Ingin memonopoli dakwah…
Menghalangi kebaikan….
Mau menguasai masjid….
Berebut kotak infak….
Takut ditinggalkan jamaah….
Dst….

Padahal,senadainya mereka bijak,hendaklah mereka datang baik-baik,mengutarakan baik-baik,mengusulkan baik-baik kepada panitia daurah yang ditunjuk asatidzah atau yayasan, pastilah diterima karena hakikatnya membantu program dakwah asatidzah dan yayasan.

DAKWAH INI BUKAN SEMAU ORANG YANG PUNYA UANG DAN PUNYA RELASI

Sebagian orang, ada yang diangerahkan Allah berupa kekayaan dan relasi yang baik dengan ustadz-ustadz. Dengan “semangat 45” dan tujuan yang baik, dia langsung mengundang ustadz-ustadz itu untuk mengisi kajian di daerahnya, tanpa mendiskusikan terlebih dahulu keinginannya dengan lembaga dakwah yang lebih dahulu memulai dakwah di tempat tersebut dan dengan meninggalkan ust-ust senior yang telah mendahuli dakwah di tempat itu. Akibatnya,tidak jarang kajian yang diadakan tersebut berbenturan dengan kajian yang lain.

Ustadz-ustadz yang di undang sulit disalahkan karena mereka menyangka yang mendatangkan mereka adalah lembaga dakwah dan ustadz-ustadz yang mereka kenal di daerah tersebut. Ternyata mereka pun tidak tau -menau tentang kedatangan ustad tersebut. Lebih miris lagi, ia tidak disambut seorang ustazpun di tempat itu.

USTADZ-USTADZ ITU BUKAN ARTIS

Para ustadz itu bukan artis yang bisa diundang kapan mau oleh siapa saja yang punya uang dan relasi untuk manggung. Terkadang di ekspoitasi untuk menguntungkan dunia panitia, berkaitan dengan dagangan yang ingin mereka lariskan, atau untuk mencari laba dari hasil infaq orang-orang yang panitia kumpulkan.

Kedatangan mereka bukan untuk proyek jual cd-cd dakwah mereka tanpa seizin mereka. Maka janganlah mengeksploitasi mereka atas nama dakwah.

Semoga semua kita sadar bahwa dakwah butuh ilmu dan pandangan jauh ke depan yang hanya mampu di baca para ulama dan para penimba ilmu.

Semoga kita sadar bahwa keberkahan dakwah itu ada beserta bimbingan para ustadz senior, sebagaimana kata ulama terdahulu: “keberkahan itu senantiasa bersama akabir(senior) kalian.

————–
Samarinda, 26 Jumada ula 1437/06 Maret 2016

Posted from WordPress for Android


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

%d bloggers like this: