Belajar BAHASA ARAB BUKAN CUMA CINTA SAMBILAN

 Dec, 18 - 2015   no comments   Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الرحيم

Barakallahu fiikum. …
Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran 31)

🌀Belajar bahasa arab itu bukan karena banyak program atau fokus satu program saja….

🌀Belajar bahasa arab itu adalah “Masalah Cinta Bahasa Arab” …agar bisa mendapatkan khusyuk nya ibadah, karena kita mencintai Allah dengan cara mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa risalah nya dengan bahasa arab.

🌀Sebagaimana orang yang  terkena panah asmara untuk menaklukkan pujaan hati (ketika sudah menikah) adalah dengan menggunakan seluruh kemampuan bukan hanya “CINTA SAMBILAN” yang  hanya terucap “Ya Aku Mencintaimu” tapi sebatas di bibir saja. Hatinya masih enggan untuk berkorban demi konsekuensi cintanya.

🌀 Kalau tidak mau disebut sekedar “Cinta Sambilan” maka luangkan seluruh waktu dan kemampuan untuk meraihnya bukan hanya belajar mencintainya “Di WAKTU LUANG” saja.

🌀 Sebab tumbuhnya semangat agar “CINTA SEUTUHNYA” kepada bahasa Arab adalah menghadirkan rasa “TIDAK NYAMAN” terhadap “KEBODOHAN” yang menerpa diri kita sehingga kita tidak bisa memaksimalkan kewajiban kita sebagai “HAMBA” yaitu beribadah dengan faham dan khusyuk.

🌀Bertahun tahun dari SD – sampai sekolah tinggi hanya untuk mendapatkan rezki. 6-7 jam setiap harinya dipergunakan untuk bergulat dengan “ijazah dunia” dan itu tidak ada “bosan dan keluhan”. Sedangkan untuk mendapatkan ibadah yang khusyuk meluangkan waktu belajar bahasa arab hanya “sepekan sekali” ataupun di waktu luang yang terbatas …lalu bisakah kita mencintai bahasa arab dengan “seutuhnya”?

🌀Bukan karena sekedar pengin “Bisa” saja tapi untuk ke level “Faham” maka pemahaman bahasa arab itu kedudukan nya seperti “REZEKI” yang harus dicari dan dikejar dengan “capek dan pengorbanan” serta dimunajatkan dalam setiap bisikan doa kepada Allah Dzat Yang Maha Pemberi Rezki. Itulah nasehat dari Syaikh Sholih al-Masy’ari hafizhahullah.

Semoga Bermanfaat
🍫Zaki Abu Kayyisa
#⃣ Channel Telegram al-Wasathiyah wal I’tidâl

Posted from WordPress for Android


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

%d bloggers like this: