PERCIKAN HIKMAH DARI KISAH SALIM BIN ABDULLAH BIN UMAR AL-KHATAB

Salim bin Abdullah bin Umar al-Khatab lahir di Madinah, kota tempat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dimakamkan, kota tujuan hijrah yang udaranya penuh keharuman nubuwah, tempat turunnya wahyu ilahi dari Rabb semesta alam. Beliau dibesarkan oleh ayahandanya yang zuhud, rajin puasa dan sholat malam, yang memiliki akhlak dan tabiat al-Faruq Umar bin al-Khatab. Dada Salim dipenuhi oleh hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemahamannya akan agama Allah begitu mendalam, disamping itu beliau diajari tentang tafsir sehingga menjadi ahlinya, dan selanjutnya terus dibina di tanah suci yang mulia.

Situasi dan kondisi semasa hidup Salim mendukung kebaikan pertumbuhan pribadinya. Masjid Nabawi dipenuhi para Sahabat. Setiap kali pemuda ini masuk Masjid Nabawi, bertemulah dengan ‘bintang-bintang’ penebar cahaya kenabian beserta risalah Islam. Kemanapun beliau melayangkan pandangan, yang dilihat adalah kebaikan. Demikian pula tiap kali Salim memasang telinga yang didengar adalah kebajikan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan. Beliau mendulang ilmu dari para Sahabat, diantara mereka Abu Ayyub al-Anshari, Abu Hurairah, Abu Rafi, Abu Lubabah, Zaid bin al-Khatab, dan ayahandanya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum. Maka di kemudian hari Salim pun menjadi tokoh panutan bagi kaum muslimin, pemuka di  kalangan Tabi’in, serta salah seorang ahli fiqih Madinah yang menjadi tempat rujukan umat Islam dalam bertaya ihwal agama mereka. Beliau dijadikan rujukan umat Islam dalam bertanya ihwal agama mereka. Beliau dijadikan rujukan untuk menimba ilmu syariat, dan tempat berkonsultasi tentang problem-problem agama, juga mengenai masalah-masalah kehidupan yang pelik.

Faedah dan Hikmah:

1. Hidup adalah kesempatan

Ya, hidup adalah kesempatan. Sungguh kesempatan itu tidak datang dua kali. Salim bin Abdillah pandai memanfaatkan kesempatan ini. Perjumpaannya dengan beberapa Sahabat Rasul dimanfaatkan dengan menuntut ilmu di Masjid Nabawi tempat mereka mengajar perkara-perkara tentang syariat Islam.

Semoga Allah menjadikan kita seperti Salim, seorang yang pandai membaca peluang dan memanfaatkan kesempatan. Semoga Allah meluruskan niat kita memanfaatkan kesempatan tersebut demi memperoleh kebaikan dan supaya terhindar dari keburukan. Sebab kita sering bertindak tanpa berpikir panjang; maka akhirnya kita pun menyesal, dan kesempatan yang terbuka sebelumnya berlalu begitu saja.

Dr. Salwa al-Udhaidhan berkata: “Ketika kesempatan datang mengetuk pintumu, janganlah terlambat untuk membuka lantas menerimanya, sebelum kesempatan itu berpaling dan mencari orang lain yang pandai melayaninya.”

Sebagai contohnya, kita tinggal di lingkungan yang mudah  mendapatkan ustadz namun tidak memanfaatkan kesempatan menimba ilmu agama secara maksimal. Perhatikanlah keadaan saudara-saudara kita di daerah terpencil ataupun di pedalaman! Mereka haus ilmu, mendambakan guru atau ustadz yang tulus ikhlas membimbing keislaman mereka; maka saat kedatangan seorang ustadz, mereka begitu berbahagia meski hanya bertemu beberapa hari. Seorang ustadz bercerita ketika akan pulang dari safari dakwahnya di daerah pedalaman, penduduk di sana pun menangis sedih dan merasa berat serta kehilangan saat melepas kepergian sang guru.

2. Nasehat dengan Perbuatan Lebih Berkesan

Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat berpengaruh signifikan dalam membentuk kepribadian seorang anak. Salim bin Abdillah rahimahullah sejak kecil mendapatkan pendidikan yang baik. Beliau belajar dari ayahnya yaitu Abdullah bin Umar radhiyalahu ‘anhu dan dari para ulama Sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajar di Masjid Nabawi.

Salim melihat keluhuran akhlak sang ayah dan para gurunya saat menimba ilmu dan berinteraksi dengan mereka. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita dan anak-anak kita berupa guru-guru yang pemahamannya lurus, baik akhlaknya, dan takut kepada Allah. Ibunda Imam Malik berpesan kepada putranya, “Temui Rabi’ah. Contohlah akhlaknya sebelum kamu mengambil ilmu darinya.”
Ketika dalam masyarakat terdapat banyak ulama yang takut kepada Allah, ikhlas, serta mengamalkan ilmu yang diajarkan maka kebaikan pun akan tersebar luas. Keburukan semakin terhimpit dan sempit ruang geraknya. Semoga Allah azza wa jalla memberikan taufik dalam mendidik anak-anak kita. Semoga Allah menampilkan dari mereka para ulama Rabbani yang menjadi panutan umat dalam keimanan, ibadah, dan akhlak. Amin

(Diringkas dari buku Percikan Himah dari Kisah Tabi’in susunan Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizhahullah)
Dishare oleh al-Akh Lulu Aliudin di Grup Dakwah Islamiyah

Posted from WordPress for Android


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: