Hukum Seputar Qashar (Faidah Kajian Kitab Muwaththa) – Bag 3

 Aug, 07 - 2015   no comments   FawaidHaditsIbadah & Muamalat

بسم الله الرحمن الرحيم
📒HADITS 392-399  KITAB AL MUWATHTHO – TENTANG JARAK QASHAR SHOLAT

فوائد علمية من جلسة ليلة الأحد 17 شوال 1436 الموافق 01/08/2015
الجلسة التاسعة والثلاثون من درس الموطأ للشيخ علي بن سالمين الكثيري أبي سعيد حفظه الله
💦Fawaid Ilmiyah Hari Malam Ahad 17 Syawal 1436 H bertepatan dengan 01 Agustus 2015
🔺Pertemuan 39 dari Kajian Al-Muwaththo oleh Syaikh Ali bin Salimin al-Katsiri Abu Sa’id hafizhahullah

بَابُ مَا يَجِبُ فِيهِ قَصْرُ الصَّلَاةِ
🌀Bab Kondisi diwajibkan meringkas shalat (Qashar)

392 – حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ «إِذَا خَرَجَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا قَصَرَ الصَّلَاةَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ»
📙 392. Telah menceritakan kepadaku (ku=Ubaidilah bin Yahya bin Yahya Al-Laitsi, w. 298 H),  Yahya (bin Yahya al-Laitsi, w. 244 H) dari Malik (bin Anas, w. 244 H) dari Nafi’ (Maula Ibni Umar – tsiqah/terpercaya tsabtun/kokoh periwayatannya faqiihun/banyak ilmunya – kunyahnya Abu Abdillah, beliau adalah pemuka ulama di madinah pada zamannya, meninggal tahun 117 H.
, Bahwasannya Abdullah bin Umar (w. 73 H) jika keluar (bepergian untuk) melaksanakan haji atau umrah, dia mengqashar shalat di Dzil Hulaifah.”
🔺درجة الأثر: صحيح
:idea:Derajat Atsar : Shohih

– مَا يَجِبُ فِيهِ قَصْرُ الصَّلاَةِ : أي من المسافة وفيه إشارة إلى وجوب القصر عند الإمام مالك.
🌀Judul Bab – Kondisi diwajibkan meringkas shalat maksudnya yaitu kondisi berupa jarak (minimal untuk safar) dan hal tersebut memberikan isyarat bahwa Imam Malik berpendapat tentang wajibnya melakukan qashor sholat bagi orang yang musafir.

– خَرَجَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِراً : قالوا لا خلاف في جواز القصر في الأمور الواجبة والمباحة وابن مسعود يرى القصر في الواجب دون المباح والجمهور أن القصر في الواجب والمباح والمستحب
✏Keluar bepergian untuk haji atau umroh, ada sebagian ulama yang berpendapat : “Tidak ada khilaf – perbedaan pendapat dalam bolehnya mengqashor pada perkara-perkara yang wajib ataupun mubah/dibolehkan (Safar yang wajib– seperti  haji/umroh wajib ataupun safar yang mubah – seperti berdagang atau berburu – urusan duniawiyah). Ibnu Mas’ud menilai pelaksanaan qashar dalam perkara-perkara wajib dan bukan yang mubah sedangkan Mayoritas Ulama berpendapat bahwa qashar itu berlaku pada perkara-perkara yang wajib, mubah dan sunnah (safar untuk umroh/haji sunnah – haji yang kedua dst) .

– ذي الحليفة: تصغير حلفا قيل نبات يكثر بالمنطقة وهي ميقات المدينة
Dzul Hulaifah (yang sekarang sering disebut Bir Ali-) bentuk tashghiir (pengecilan pola kata) dari Halafan ada yang berpendapat bahwa itu sejenis tumbuhan yang ada di daerah tersebut dan Dzul Hulaifah itu adalah miqat bagi penduduk kota Madinah

– قَصَرَ الصَّلاَة: كان ابن عمر يقصر اقتداءً بالرسول صلى الله عليه وسلم وهذا ليس فيه دليل على بداية السفر.
✏Dia mengqashar sholat: Ibnu Umar radhiallahu’anhuma mengqashar sholat sebagai bentuk meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan hal tersebut bukan dalil tentang (bolehnya) permulaan (suatu perjalanan disebut) safar.

– ذكر الإمام مالك عدة آثار وذلك أنه لم يتبين له  الحديث المرفوع عن حدود المسافة التي كان يقصر فيها الرسول صلى الله عليه وسلم فاعتمد على الآثار التي عنده على ذلك :
✏Imam Malik rahimahullah menyebutkan beberapa atsar dan yang demikian itu karena tidak ada kejelasan bagi beliau (yaitu Imam Malik tidak mendapati) hadits yang marfu’ (yang dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam) tentang batasan ukuran jarak yang (disepakati) didalamnya (yang mana) Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam memberlakukan qashar sholat,  oleh karena itu Imam Malik menyandarkan permasalahan (batasan jarak safar) tersebut kepada Atsar (perilaku para shahabat).

393 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ «رَكِبَ إِلَى رِيمٍ، فَقَصَرَ الصَّلَاةَ فِي مَسِيرِهِ ذَلِكَ»، قَالَ مَالِكٌ: «وَذَلِكَ نَحْوٌ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ»
📙 393. Telah menceritakan kepadaku (Yahya bin Yahya al-Laitsi) dari Malik dari Ibnu Syihab (Nama lengkapnya)
محمد بن مسلم
(Muhammad bin Muslim, Al-Faqih/Banyak pengetahuannya, al-Hafizh/banyak hafalannya, Mutaffaq ‘ala jalaalatihi – disepakati atas kemuliannya dan kokoh periwayatannya, wafat 125 H)
dari Salim bin Abdillah (w. 106 H) dari Bapaknya (Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma w. 73) bahwa dia berangkat ke Rim. Lalu ia mengqashar shalat dalam perjalanan tersebut.” Malik berkata, “Jarak perjalanannya sekitar empat Burud.”
🔺درجة الأثر: صحيح
:idea:Derajat Atsar : Shohih

– إِلَى رِيمٍ: رِيمَ مِنْ الْمَدِينَةِ أَرْبَعَة بُرُد
Menuju Riim, yaitu jaraknya dari Madinah sekitar empat Burud

– أَرْبَعَةِ بُرُد: البريد أربع فراسخ ، والفرسخ اثنا عشر ميلا فتكون المسافة 48 ميلا ما يقرب 76.8 كم
✏Empat burud itu (detailnya : burud itu jamak dari Bariid) al-Bariid itu 4 farsakh dan satu farsakh itu ada 12 mil maka 4 burud jaraknya adalah 4×12 = 48 mil atau sekitar 76,8 Km (atau kalau dibulatkan sekitar 80 km). (lihat Irwaul Ghaliil 3/18)

ولكن هذا القول مرجوح لمخالفة حديث أنس في صحيح مسلم
✏Namun perkataan (batasan 4 burud) diatas tidak kuat karena bertentangan dengan hadits Anas yang terdapat di shohih Muslim

– جاء في مسلم:
✏Ada hadits di Shohih Muslim
👈12 – (691) وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، كِلَاهُمَا عَنْ غُنْدَرٍ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ، فَقَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ، أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ»
🚩Imam Muslim rahimahullah (w. 261 H) berkata telah menceritakan kepada kami
🚩Abu Bakar bin Abu Syaibah (nama lengkapnya
ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَبْدُ اللهِ بنُ مُحَمَّدٍ العَبْسِيُّ,
Ibnu Abi Syaibah – Abdullah bin Muhammad al-‘Abasiy -w. 235 H)
dan
🚩Muhammad bin Basyar ( nama aslinya
مُحَمَّدُ بنُ بَشَّارِ بنِ عُثْمَانَ بنِ دَاوُدَ بنِ كَيْسَانَ بُنْدَارٌ
Muhammad bin Basyar bin Utsman bin Dawud bin Kaisan, julukannya Bundaar, tsiqah, w. 252 H)  keduanya dari
🚩Ghundar (nama aslinya
مُحَمَّدُ بنُ جَعْفَرٍ الهُذَلِيُّ , Muhammad bin Ja’far al-Hudzaliy, ثقة  tsiqah
w. 193 H)
, Abu Bakar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yaitu Ghundar dari
🚩Syu’bah (nama lengkapnya
شُعْبَةُ بنُ الحَجَّاجِ بنِ الوَرْدِ الأَزْدِيُّ العَتَكِيُّ
Syu’bah bin Al-Hajjaaj bin al-Ward al-Azdi al-Atakiy,
ثقة حافظ متقن ، كان الثورى
يقول : هو أمير المؤمنين فى الحديث
Tsiqah/terpercaya hafizh/banyak hafalannya mutqin/kokoh hafalannya, Sufyan at-Tsauri berkata – Dia (Syu’bah) adalah Amirul Mu’minin dalam hadits, w. 160 H)
dari
🚩Yahya bin Yazid al-Huna-iy
يحيى بن يزيد الهنائى ، أبو نصر
Yahya bin Yazid al-Huna-iy  – Abu Nashr, makbul/riwayatnya diterima apabila ada penguatnya)
, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik (w. 91 H) tentang mengqashar sholat, beliau menjawab, “Jika Rasulullah Shallalalhu’alaihi wasallam pergi keluar sejauh tiga mil (4,8 Km) atau tiga farsakh (sekitar 18 km)- Syu’bah ragu – maka beliau shallallahu’alaihi wasallam melakukan sholat dua raka’at. (HR. Muslim no. 691 (12), Abu Dawud no. 1201 dan Ahmad no. 12313)
❗Namun hadits ini diriwayatkan dengan syak – keraguan dari Syu’bah, dan jarak yang pendek 3 mil ataupun 3 farsakh tidak dianggap sebagai patokan dimulainya safar. Oleh karena itu tidak ada batasan jarak yang jelas dari hadits yang marfu’.
👇👇👇👇👇👇👇👇
👈🏻قال الشيخ علي: كل ما يسمى سفرا في العرف جاز فيه قصر الصلاة وذلك أن الله تعالى قال ( وإذا ضربتم في الأرض ) لم يذكر مسافة وهو أقرب الأقوال للصحة. وهذا كما قال شيخ الإسلام.
✏Syaikh Ali Salimin al-Katiri hafidzhahullah berkata, apa saja yang dinamakan safar menurut ‘Urf /kebiasaan yang berlaku pada suatu daerah maka boleh baginya untuk mengqashor sholat oleh karena itu Allah berfirman “Dan Jika kalian bepergian di muka bumi “ (Qs An-Nisaa; 101) tidak disebutkan ukuran jarak dan inilah pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran. Dan itu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
☝☝☝☝☝☝☝☝

394 – حَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ «رَكِبَ إِلَى ذَاتِ النُّصُبِ فَقَصَرَ الصَّلَاةَ فِي مَسِيرِهِ ذَلِكَ»، قَالَ مَالِكٌ: «وَبَيْنَ ذَاتِ النُّصُبِ وَالْمَدِينَةِ أَرْبَعَةُ بُرُدٍ»
📙 394. Telah menceritakan kepadaku (Yahya bin Yahya al-Laitsi) dari Malik dari Nafi’ dari Salim bin Abdillah bahwa Abdullah bin Umar (radhiallahu’anhuma) berkendara menuju Dzatin Nushub. Lalu ia mengqashar shalat dalam perjalanan tersebut.” Malik berkata, “Jarak Dzatin Nushub dan Madinah sekitar empat Burud.”
🔺 درجة الأثر: صحيح
:idea:Derajat Atsar : Shohih

– ذَاتِ النُّصُبِ: اسم منطقة كان بها أصنام والنصب هي الأصنام
✏Dzatin Nushub itu adalah nama daerah yang didalamnya ada banyak patung dan Nushub itu adalah patung

👈🏻قال الشيخ علي: أحيانا التسمية تبقى والحقيقة تذهب
✏Syaikh Ali bin Salimin al-Katsiri hafizhahullah mengatakan, “Terkadang Penamaan itu tetap akan ada dan Hakekatnya hilang (penamaan Nushub itu masih ada – dan sudah tidak ada patung lagi disana)

395 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ «يُسَافِرُ إِلَى خَيْبَرَ فَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ»
📙 395. Telah menceritakan kepadaku (Yahya bin Yahya al-Laitsi) dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar (radhiallahu’anhuma), bahwa dia pernah melakukan perjalanan ke Khaibar dengan mengqasar shalat.”
🔺درجة الأثر: صحيح
:idea:Derajat Atsar : Shohih

خَيْبَر تبعد بـ 96 ميل
Khaibar itu jauhnya dari Madinah adalah 96 Mil atau 153 Km

396 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ «يَقْصُرُ الصَّلَاةَ فِي مَسِيرِهِ الْيَوْمَ التَّامَّ»
📙 396. Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Umar mengqashar shalat dalam sebuah perjalanan sehari penuh.”

🚩درجة الأثر: صحيح ذكره ابن عبدالبر في الاستذكار
:idea:Derajat Atsar : Shohih Ibnu Abdil Bar menyebutkannya dalam kitabnya Al-Istidzkaar

👈🏻وهذا مخالف لقول ابنُ عمرَ( لو خرجْتَ ميلًا قصرْتُ الصلاةَ (
✏Dan ini menyelisihi perkataan Ibnu Umar yang dicantumkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Fathul Bari 2/567 sebagai berikut:

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ سَمِعْتُ جَبَلَةَ بْنَ سُحَيْمٍ سَمِعت بن عُمَرَ يَقُولُ لَوْ خَرَجْتُ مِيلًا قَصَرْتُ الصَّلَاةَ
✏Sufyan at-Tsauri berkata, “Aku telah mendengar dari Jabalah bin Suhaim, (Jabalah berkata) Aku telah mendengar Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata, Apabila aku pergi keluar satu mil (1,6 Km) maka aku mengqashor sholat.” (Atsar Shohih)

397 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّهُ كَانَ «يُسَافِرُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ الْبَرِيدَ فَلَا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ»
📙 397. Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’, bahwa dia melakukan perjalanan bersama Ibnu Umar sejauh Al-Baarid (12 Mil – 19,2 Km). Dan Ibnu Umar (radhiallahu’anhuma) tidak mengqashar shalat.”
🔺درجة الأثر: صحيح
:idea:Derajat Atsar : Shohih

398 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ كَانَ «يَقْصُرُ الصَّلَاةَ فِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَعُسْفَانَ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَجُدَّةَ»
قَالَ مَالِكٌ: «وَذَلِكَ أَرْبَعَةُ بُرُدٍ، وَذَلِكَ أَحَبُّ مَا تُقْصَرُ إِلَيَّ فِيهِ الصَّلَاةُ»
📙398. Telah menceritakan kepadaku (Yahya bin Yahya) dari Malik bahwasannya “telah sampai kepadanya” bahwa Abdullah bin Abbas pernah mengqashor sholat pada jarak yang semisal dengan jarak Mekkah menuju Thoif dan jarak yang semisal dengan Mekkah menuju ‘Usfaan dan jarak yang semisal dengan Mekkah menuju Jeddah.
✏Imam Malik berkata, Dan yang demikian itu 4 burud, dan yang demikian itu lebih aku sukai untuk menqashar sholat.” (namun itu perkataan yang marjuh – tidak kuat bertentangan dengan hadits Anas di shohih Muslim 3 mil atau 3 farsakh)
🔺درجة الأثر: ضعيف من بلاغات الامام مالك
:idea:Derajat Atsar : – Dhoif, termasuk Balaghat Imam Malik (dihukumi Dhoif karena terputusnya perawi antara Imam Malik (w. 179 H) dan Ibnu Abbas (w. 68 H))

399 – قَالَ مَالِكٌ: «لَا يَقْصُرُ الَّذِي يُرِيدُ السَّفَرَ الصَّلَاةَ، حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ بُيُوتِ الْقَرْيَةِ، وَلَا يُتِمُّ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلَ بُيُوتِ الْقَرْيَةِ أَوْ يُقَارِبَ ذَلِكَ»
📙399.  Imam Malik berkata, “Janganlah memulai mengqashor bagi orang yang hendak bersafar sampai telah keluar melewati  rumah yang paling akhir dari kampungnya dan janganlah (sepulang safar)  melaksanakan sholat dengan rokaat sempurna sampai telah melewati rumah pertama dari kampungnya atau yang dekat dengannya.”
🔺درجة القول : صحيح
:idea:Derajat Perkataan Imam Malik : Shohih

🚨(Di dalam kitab Al-Muwaththo apabila dikatakan Qaala Malik – telah berkata Imam Malik biasa diletakkan di akhir pembahasan bab dan perkataan tersebut shohih dari Imam Malik.)

👈قال الشيخ علي والصحيح أن الإنسان لا يقصر حتي يفارق بيوت القرية 
Syaikh Ali bin Salimin al-Katsiri hafizhahullah berkata, yang shohih adalah seseorang tidak melakukan qashor sholat sampai dia meninggalkan rumah-rumah di daerahnya .

📍فائدة: إذا رجع المسافر وهو يرى القرية ولم يدخلها جاز له القصر  إذا دخل الوقت
⚠Faidah : jika seorang musafir kembali dan dia melihat daerahnya dan belum memasukinya maka boleh baginya untuk melakukan qashor sholat apabila telah masuk waktu sholat.

📍فائدة أخرى: من دخل عليه الوقت ثم سافر عليه أن يقصر وهو قول جمهور أهل العلم ونقل ابن المنذر فيه الاجماع و خالف الحنابلة و صحيح قول الجمهور و العبرة بوقت الأداء
⚠ Faidah yang lain: Barangsiapa yang waktunya telah masuk (sholat) kemudian dia safar maka baginya boleh untuk melakukan qashor (di jalan setelah keluar dari daerahnya) dan itu adalah pendapat mayoritas Ulama dan Ibnul Mundzir menukilkan bahwa itu termasuk ijma’ sedangkan madzhab hanbali menyelisihi hal tersebut. Yang Shohih adalah pendapat mayoritas Ulama dan (sebagai) patokannya adalah ketika telah masuk waktu sholat.

📚FAIDAH:〰〰〰〰
1⃣    Semangat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma dalam meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam termasuk melakukan sholat qashar di Dzul Hulaifah
2⃣    Imam Malik menyandarkan permasalahan (batasan jarak safar) tersebut kepada Atsar (perilaku para shahabat) karena tidak ada hadits marfu’ yang menyatakan batasan yang jelas tentang kondisi jarak dimulainya safar.
3⃣    al-Bariid itu 4 farsakh dan satu farsakh itu ada 12 mil maka jaraknya 4 burud adalah 4×12 = 48 mil dan satu mil= 1,6 Km atau sekitar 76,8 Km
4⃣     Batasan 4 burud tertolak dengan dengan hadits Anas di shohih Muslim.
5⃣   Yang rajih pendapat adalah “apa saja yang dinamakan safar menurut ‘Urf /kebiasaan yang berlaku pada suatu daerah maka boleh baginya untuk mengqashor”
6⃣     yang shohih adalah seseorang tidak melakukan qashor sholat sampai dia meninggalkan rumah-rumah di daerahnya. Mau ke Jakarta menuju Bandung maka tidak boleh melakukan qashar sampai meninggalkan batas Jakarta ataupun melewati bangunan terakhir dari batas Jakarta.
7⃣   Jika seorang musafir kembali dan dia melihat daerahnya dan belum memasukinya maka boleh baginya untuk melakukan qashor sholat apabila telah masuk waktu sholat.
8⃣    Jika telah masuk waktu sholat kemudian dia safar maka boleh baginya untuk melakukan qashor (di jalan setelah keluar dari daerahnya) patokannya adalah ketika telah masuk waktu sholat.
9⃣  Jika seorang berkendara sejauh 500 km (seperti sopir taksi) hanya di dalam kotanya saja dan itu menurut ‘urf kebiasaan di daerah itu tidak disebut safar maka tidak boleh baginya melakukan qashor sholat.

Semoga Bermanfaat
💦Zaki Abu Kayyisa
〰〰〰〰〰〰〰〰
Silahkan Bergabung via WA
📚FAWAID
Al MUWATHTHO
wa Zaidah💦

Akhwat : +971 566921 841
                 +6282122630645
Ikhwan : +971 563000 370


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

%d bloggers like this: