SHAHIHKAH HADITS YANG MEMBICARAKAN TENTANG ISIS

Fadhîlah asy-Syaikh Masyhûr Hasân Âlu Salmân hafizhahullâhu dalam pengajian Jum’at, 28 Maret 2014 ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut :

“Wahai Syaikh, Apa pandangan Anda tentang ada riwayat mauqûf dari ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu yang menjelaskan manusia akhir zaman yang sifat-sifatnya mirip dengan Jama’ah ISIS? Riwayat tersebut terdapat di dalam “Kitâbul Fitan” karya Nu’aim bin Hammâd rahimahullâhu dari ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu yang mengatakan :

إذا رأيتم الرايات السود فالزموا الأرض فلا تحركوا أيديكم ولا أرجلكم، ثم يظهر قوم ضعفاء لا يؤبه لهم قلوبهم كزبر الحديد هم أصحاب الدولة لا يفون بعهد ولا ميثاق، يدعون إلى الحق وليسوا من أهله، أسماؤهم الكنى، ونسبتهم القرى، وشعورهم مرخاة كشعور النساء، حتى يختلفوا فيما بينهم، ثم يؤتي الله الحق من يشاء

“Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam, maka tetaplah di tempat kalian, janganlah kalian menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul sebuah kaum yang lemah lagi tidak dianggap keberadaannya. Mereka memiliki hati seperti potongan besi. Mereka adalah penguasa daulah (negeri) yang tidak pernah memenuhi amanat dan janji. Mereka menyeru kepada kebenaran padahal mereka bukanlah dari kalangan ahli kebenaran. Mereka menggunakan kunyah sebagai nama-nama mereka dan menisbahkan diri kepada daerah. Rambut mereka panjang menjuntai seperti rambut wanita. Hingga terjadilah perselisihan di antara mereka, kemudian Allôh memberikan kebenaran kepada orang yang Dia kehendaki.”.”

[Catatan : Khalîfah ISIS dan para pendukung ISIS dianggap memiliki sifat yang serupa dengan hadits di atas, yaitu menggunakan kunyah (Abu Bakr) dan menisbatkan kepada daerah (al-Baghdâdî). Rambutnya pun panjang menjuntai. Pent.]

Jawaban :
“Pertama, kalian harusah memahami –semoga Allôh menambah ilmu kepada kita semua- bahwa Nu’aim bin Hammâd itu adalah seorang ulama yang tertuduh. Imâm Bukhârî mengambil (riwayat) dari beliau dan mengkritisi beliau namun tidak meriwayatkan riwayatnya di dalam “Shahîh”-nya. Buku yang ditulis Nu’aim bin Hammâd, “Kitâbul Fitan” adalah buku yang memerlukan tahqîq (penelitian) yang mendalam dan setiap hadits yang ada di dalamnya perlu diteliti kembali secara mendalam. Saya kira tidak setiap orang dapat melakukan penelitian seperti ini kecuali ulama salaf sekaliber Imâm adz-Dzahabî atau ulama yang memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu sanad, ilmu riwayat dan ilmu hadits.

Jadi, hanya bersandar kepada riwayat Nu’aim bin Hammâd saja tidaklah benar. Di sini saya akan menyebutkan isnad (rantai perawi)-nya Nu’aim dari ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu. Mari kita perhatikan :

Nu’aim (bin Hammâd) berkata : Al-Walîd menceritakan kepada kami dari Rusydain, dari ‘Abdullâh bin Lahi’ah al-Mishrî, dari Abû Qabîl, dari Abû Rumân, dari ‘Alî bin Abî Thâlib.

Ibnu Lahî’ah adalah termasuk perawi yang goncang setelah perpustakaan bukunya terbakar, dan beliau itu dha’îf (lemah) periwayatannya. Riwayat Ibnu Lahî’ah diterima apabila ia meriwayatkan dari empat orang perawi tertentu [yang disebut al-‘Abâdillah, yaitu : ‘Abdullâh bin Maslamah, ‘Abdullâh bin Wahb, ‘Abdullâh bin Mubarak dan ‘Abdullâh bin Yazîd al-Muqri’, pent], sedangkan di dalam riwayat ini tidak ada keempat perawi tersebut. Beberapa ulama menambahkan dua ulama pada empat perawi tersebut, yaitu Qutaibah bin Sa’îd dan Ishâq bin Îsâ ath-Thaba’, dan pendapat inilah yang dipegang oleh guru kami (al-Albânî) di akhir usia beliau. Beliau menambahkan dua perawi ini ke dalam empat perawi yang diterima riwayatnya dari Ibnu Lahî’ah. Adapun Abû Rûmân, menurutku dia ini majhûl (tidak dikenal). ‘Ala kulia hâl, sanad hadits ini adalah dha’îf (lemah)…”

Sumber : “Fatâwâ Fajr al-Jum’ah” [http://www.youtube.com/watch?v=B7wFPqe-0Tc] menit 40 dst
@abinyasalma

Posted from WordPress for Android


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: