UNTUK KESEKIAN KALI : TENTANG SYAIKH MUHAMMAD HASSÂN (PASCA REVOLUSI)

 Feb, 23 - 2013   1 comment   Aqidah & ManhajFatawaNasehat UlamaTahdzir

Saya sebelumnya pernah menurunkan artikel berjudul “Sekali Lagi Tentang Syaikh Muhammad Hassân al-Mishrî” yang berisi transkrip jawaban dari al-Muhaddits ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân hafizhahullâhu. Berikut ini adalah tanya jawab dengan Syaikh ‘Abdullâh al-‘Ubailân hafizhahullâhu berkenaan dengan bagaimana menyikapi Syaikh Muhammad Hassân pasca revolusi di Mesir. Sengaja saya menurunkan hal ini sebagai tanggung jawab ilmiah untuk menunjukkan sikap terakhir beliau.

Pertanyaan :

“Syaikh kami yang mulia. Dahulu Anda pernah ditanya tentang seorang dai yang bernama Muhammad Hassân, dan Anda memberi jawaban kepada sang penanya bahwa tidak mengapa mendengarkan dan mengambil manfaat dari ceramahnya (Muh. Hassân). Demikian pula ada sebagian orang yang menukil dari Anda tentang pujian Anda kepada al-Qaradhâwî, dan sebagian duat. Kami mengharapkan sudi kiranya Anda memberikan penjelasan tentang hal ini.”

Jawaban Syaikh ‘Abdullâh al-‘Ubailân hafizhahullâhu :

Segala puji hanyalah milik Allâh pemelihara alam semesta, shalâwat dan salâm semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullâh, keluarga beliau dan seluruh sahabatnya. Wa ba’d :

Adapun pertanyaan Anda mengenai Muhammad Hassân, maka sesungguhnya (jawaban Saya terdahulu) adalah sebelum terjadinya revolusi (di Mesir) yang menyebabkan sejumlah ahli ilmu (di sana) berubah dari yang kami kenal sebelumnya. Perkara ini tidak hanya terbatas pada Muhammad Hassân saja.

Untuk itulah, prinsip Saya dalam hal ini adalah : siapa saja yang bermudah-mudah di dalam masalah aqidah, atau bermudah-mudah di dalam berpegang dengan sunnah menurut faham as-Salaf ash-Shâlih terhadap nash-nash (syariat), lantaran aktivitas politik atau semisalnya, maka tidak boleh dijadikan sebagai pemimpin di dalam agama atau diambil ilmunya. Allâh Ta’âlâ berfirman :

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas.” (QS al-Kahfi : 28).

Bahkan ‘Umar Radhiyallâhu ‘anhu -dan beliau (disebut sebagai) orang yang diberi ilham- pernah memuji Ibnu Muljam, orang yang membunuh ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu. Karena hati itu berada di antara dua jari dari jari jemari Allâh yang Maha Pemurah, dia membolak-baliknya sebagaimana yang Ia kehendaki. Sekiranya ‘Umar Radhiyallâhu ‘anhu mengetahui bahwa dia (Ibnu Muljam) akan melakukan hal itu (yaitu membunuh ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu), niscaya beliau tidak akan mau memujinya.

Karena itulah saya menasehatkan untuk tidak mengambil (ilmu) dari Muhammad Hassân dan orang-orang semisal dia, yang merusak perbuatannya di dalam politik (praktis).

Adapun penukilan yang dinukil dari saya, yaitu yang dinukil oleh saudara Usâmah bin ‘Athâyâ al-‘Utaibî al-Filisthînî, bahwa saya memuji al-Qaradhâwî atau menyebut “al-‘Allâmah” kepada (Salmân) al-Audah, adalah penukilan yang salah. Tapi saya memaafkan dia dan dia mengakui bahwa dia tidak melakukan tatsabbut (verifikasi) terlebih dahulu tentang apa yang dinukilnya.

Walau demikian, sesungguhnya wajib bagi yang mampu untuk menasehati saudara Muhammad Hassân dan orang-orang yang serupa dengannya. Nabi ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm bersabda :

الدين النصيحة – ثلاثاً – قلنا: لمن يا رسول الله ؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله وأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama itu adalah nasehat” (sebanyak tiga kali)”. Kami (para sahabat) bertanya : “Bagi siapa wahai Rasulullâh?” Beliau menjawab : “Bagi Allâh, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan seluruh masyarakatnya.” (HR Muslim).

Saya juga mengingatkan kepada para ikhwah -yang (ikhlas) hanya mengharapkan wajah Allâh Ta’âlâ- ketika berkata dan menulis agar berhati-hati (ta`annî) dan tidak tergesa-gesa di dalam men-jarh orang yang dianggap berilmu. Hendaknya mereka mengembalikan hal ini kepada para ulama yang mendalam keilmuannya, yang menggabungkan antara ilmu dan keadilan, sebagaimana firman Allâh Ta’âlâ :

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Dan diantara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberikan petunjuk dengan kebenaran dan dengan kebenaran itu mereka bersikap adil.” (QS al-A’râf : 181)

Dan jarh itu, merupakan salah satu bentuk persaksian (syahâdah), dan Allâh Ta’âlâ berfirman :

سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

Persaksian mereka akan dicatat dan akan dipertanyakan” (QS az-Zukkhruf : 19).

Hanya Allâh semata yang memberikan taufiq. Segala puji hanyalah milik Allâh.”

Ditulis oleh : ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân pada hari Selasa, 9/4/1434 H.” [selesai]

 

Naskah asli :

سـؤال :
فضيلة شيخنا سبق وأن سُئلتم عن الداعية محمد حسان , وأجبتم السائل أنه لا حرج من الاستماع إليه والاستفادة من وعظه , وكما نقل عنكم بعض الناس ثائكم على القرضاوي , وبعض الدعاة , نأمل منكم توضيح ذلك ؟
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبــعد :
أما سؤالك عن محمد حسان , فإن هذا كان قبل الثورات والتي بسببها تغير جملة من المنتسبين للعلم عما كنا نعرفهم عليه , وليس الأمر مقتصراً على محمد حسان , وعـليه فإن القـاعـدة عندي :
أن من تساهل في العقيدة أو الالتزام بالسنة وبفهم السلف الصالح للنصوص بسبب العمل السياسي أو غيره , فـلا يجـوز أن يكون إماماً في الدين أو يؤخذ عـنه العلم , قال تعالى:[ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا] {الكهف:28} , وقد كان عمر رضي الله عنه وهو الملهم , قد أثنى على ابن ملجم قاتل علي رضي الله عنه , فالقلوب بين اصبعين من اصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء , ولو كان عمر رضي الله عنه يعلم انه سيفعل ذلك ما اثنى عليه.
وعلـيـه فالـذي أنصح بـه :
عـدم الأخذ عن محمد حسان وأمثاله , ممن افسدهم العمل في السياسية.
وأمـا نقل من نقل عني وهو مخطئ فيما نقل , اعـني : الأخ أسامة بن عطايا العتيبي الفلسطيني , بأني اثني على القرضاوي وأقول العلامة العودة , فقد اعتذر عن ذلك واعترف أنه لم يتثبت فيما نقل.
وعلى كل حـال :
فإن النصيحة للأخ محمد حسان وأمثاله واجبة لمن قدر عليها , قال عليه الصلاة والسلام:[ الدين النصيحة – ثلاثاً – قلنا: لمن يا رسول الله ؟ قال:[ لله ولكتابه ولرسوله وأئمة المسلمين وعامتهم ] رواه مسلم.
كـما أود أن انبه الأخوة الذين يبتغون وجه الله تعالى فيما يقولون ويكتبون بالتأني وعدم العجلة في جرح المنتسبين للعلم , وليكن رجـوعهم في ذلك الراسخين في العلم والذين جمعوا بين العلم والعدل , كما قال تعالى:[وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ] {الأعراف:181} , والجرح نوع من الشهادة , وقد قال تعالى:[ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ] {الزُّخرف:19}.

والله ولي التوفيق

والحمد لله رب العالمين

وكتب : عبدالله بن صالح العبيلان

يوم الثلاثاء الموافق 9 / 4 / 1434هـ


Related articles

 Comments 1 comment

  • Eko Arshavin says:

    Jd point yg saya tangkap bhw pasca revolusi, maka syeikh ‘ubailan menasehatkan utk tidak mengambil ilmu dan menjadikan beliau rujukan ya akh,,,??? dan mengembalikan masalah jarh-nya kpd para ‘ulama. Ana musykil dgn perkataan syeikh ubailan ini akh :
    ” التي بسببها تغير جملة من المنتسبين للعلم عما كنا نعرفهم عليه ”

    Krn semasa revolusi mesir terjadi,dan berdirilah sebuah parti yg menasabkan diri kpd salaf,,,
    bnyk mayoritas ‘ulama mesir yg kita kenal ke-ilmuannya (- ana tdk mau sebut nama – ) yg tergabung dalam semacam organisasi yg mengeluarkan beberapa Qarar terkait dengan politik semasa Mesir pasca revolusi.

    Dan mmg sejak saat itu,ana bingung dan bertanya2,, “KOK SEPERTI INI ???”
    Dan ana pernah membeli majalah Adz-dzakhirah [lupa edisi berapa] yg artikelnya menukil tulisan Syeikh Ali Hasan Al-Halaby yang menasehatkan para ‘ulama mesir utk fokus mengembangkan dakwah dan tidak turut terlibat politik. Dan kajian syeikh muhammad hassan yg ana donlod di youtube,ana hapus sejak ana lihat sikap mereka terhadap politik.

    Nah,terkait dengan perkataan Syeikh ‘Ubailan diatas,
    Apakah nasehat ini berlaku kepada Masyaikh Salafi Mesir yang lainnya akh ?

    Krn jujur,tatkala beredar tahdziran kpd Syeikh Muhammad Hassan dulu,ana mengambil tulisan yg antum tranksrip dulu disini : [ http://abusalma.net/2011/01/25/sekali-lagi-tentang-syaikh-muhammad-hassan-al-mishri/ ] sebagai rujukan ana utk membela Syeikh.

    Nah,pas ana bc kalam Syeikh ‘ubailan yg antum pos ini,menjadi lapang dada ini….

    Bahwa Syeikh menasehatkan utk tidak mengambil ilmu dari Syeikh Muhammad Hassan dan yg semisalnya [yg terlibat dalam politik praktis] psca Revolusi.

    Apa pemahaman ana benar Akh ?

    Mohon penjelasannya akh…

  • Silakan berikan tanggapan...

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: