SYAIKH FALÂH MANDAKÂR : KAMI BUKAN HALABÎYÎN

 Feb, 22 - 2013   no comments   BantahanJarh wa Ta'dilNasehat Ulama

Syaikh Falâh Ismâ’îl Mandakâr adalah salah satu ulama ahlus sunnah rujukan di Kuwait. Beliau adalah salah satu murid dari para ulama senior semisal Ibn Bâz, al-Albânî, Ibn ‘Utsaimîn, al-‘Abbâd, al-Fauzân dan selainnya –semoga Allah merahmati mereka yang telah meninggal dan menjaga mereka yang masih hidup- yang saat ini berdomisili di Kuwait. Dalam salah satu pengajian beliau yang terekam (rekamannya bisa didownload di sini), beliau ditanya :

يقول السائل: قال بعض الإخوة يقولون أن هيثم إمام هذا المسجد، وكل من يصلي خلفه أنهم حلبيون مميِّعون!  فأرجو منكم أن تقولوا كلمة في هذا الموضوع، وتبيِّنوا لنا الصوابَ من الخطأ.

“Ada yang bertanya : Sebagian ikhwah mengatakan bahwa Haitsâm, Imam Masjid ini, dan siapa saja yang sholat di belakangnya, mereka adalah halabîyun mumayyi’ûn!*  Kami mengharap Anda sudi memberikan arahan mengenai hal ini sehingga menjadi jelas bagi kami mana yang benar dan salah…”

[Catatan : Halabîyûn adalah sebutan atau gelaran yang diberikan bagi mereka yang dituduh membela atau mengikuti Syaikh ‘Alî al-Halabî, atau bahkan mereka yang tidak mau menvonis bid’ah Syaikh ‘Alî al-Halabî. Sedangkan Mumayyi’ûn adalah sebutan bagi mereka yang lunak manhajnya, tidak bersikap keras terhadap ahli bid’ah atau yang dituduh ahli bid’ah.pent.]

Syaikh Falâh Mandakâr hafizhahullâhu menjawab :

“Saya memohon kepada Allâh agar mengampuni kita dan mereka semua! (Hal ini) Tidak benar! Kami bukanlah halabîyûn! Sama sekali kami bukanlah halabîyûn!! Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa menuduh dan berkata seperti ini! Bagaimana mereka bisa menjadikan hal ini sebagai sarana untuk tanâbuz bil alqôb (saling memberi julukan/gelar yang jelek)!!

Iya, memang tidak diragukan lagi bahwa saudara kita (‘Alî) al-Halabî dan juga selain beliau… bahkan kita semua wahai saudara-saudaraku… bahkan seluruh bani Âdam… apa yang dikatakan Nabi (tentang mereka)? (Apakah) hanya melakukan satu kesalahan? Tidak! Beliau bersabda “melakukan kesalahan-kesalahan”, yaitu banyak dan sering melakukan kesalahan! Tidak ada diantara kita yang tidak melakukan kesalahan…

Adapun menjadikan hal ini sebagai sarana untuk memberi gelar yang jelek, maka demi Allâh! Kesalahan seperti ini jauh lebih besar dibandingkan kesalahan al-Halabî atau selain beliau. Ini merupakan musibah! Bagaimana kalian bisa saling memberi gelar/julukan yang jelek?! Mengapa wahai hamba Allâh?! Dan bagaimana kalian menyebutnya di sisi Allâh Tabâroka wa Ta’âlâ?!!

Setelah itu, bagaimana bisa (sebutan/julukan) ini disematkan (begitu saja)… padahal bisa jadi sebagian orang di sini tidak mengetahui tentang (‘Alî) al-Halabî baik atau buruk… ada tidak diantara kalian? Demi Allâh, (bisa jadi) mereka tidak mengenalnya… sedangkan Anda mengatakan “kalian semua adalah halabîyûn!” Tidak, demi Allâh! Kami semua insyâ Allâh adalah Sunnîyûn!

Kita tidak mau menerima apabila Anda mengatakan, “kalian semua adalah Bakrîyûn!” Kita jawab atau tidak kita jawab?! Apakah Anda mau menerima (sebutan ini)? (Kalian pasti menjawab) Demi Allâh wahai Syaikh kami tidak mau menerimanya! Pendahulu kita pun juga tidak mau menerima hal ini…  kita juga tidak mau menerima apabila disebut apa? Disebut ‘Umarîyûn! Kita tidak mau menerimanya! Lantas apakah kita mau disebut sebagai halabîyûn?!! Demi Allâh, kita pasti menolaknya. Ini semua merupakan bentuk saling memberi gelar yang jelek.

Ada juga yang menyebut kita Jâmiyûn (pengikut Syaikh Muhammad Amân al-Jâmî)… Madkhaliyûn (pengikut Syaikh Rabî’ al-Madkhalî)… tidak terlewatkan satu sebutan pun melainkan mereka sematkan kepada kita, wal’iyâdzu billâh… Semua ini merupakan bentuk saling memberikan gelar yang jelek, memecah belah kaum muslimin dan memprovokasi kebencian di dalam hati… Demi Allâh, tidak seharusnya perkaranya begini… tidak seharusnya perkaranya begini… Kemarilah mari berdamai! Kemudian, kemarilah… apabila Anda memiliki sesuatu atas kami… Mari kemari, kita saling menasehati, antara kita dan Anda.

Saya pun juga demikian, tidak akan mengira, bahwa Syaikh Haitsam sendiri (mau disebut) Halabî. Apakah Anda Halabî (wahai Syaikh Haitsam)? Dia sendiri menolaknya wahai saudara-saudaraku. Inilah dia (Syaikh Haitsam) berada di hadapan kalian saat ini. Dia mengatakan “tidak”. Lantas bagaimana bisa kalian menyifatinya (sebagai halabî)?! Setelah itu, kalian tidak cukup hanya menyifatinya, (namun juga menyifati) seluruh orang yang masuk ke masjidnya, kalian sematkan sebutan tersebut kepada kita semua…!! Beginilah…

Demi Allâh, Saya tidak mengetahui bahwa setiap orang yang sholat (di masjid ini), yang mungkin jumlahnya lebih dari seratus atau dua ratus orang, mereka semua akan datang pada hari kiamat memusuhi Anda! Namun bencana kita wahai saudara-saudaraku, kita tidak merasa mengimani hari kiamat karena apa… Saya katakan kepadanya : ketahuilah apa makna iman kepada hari kiamat, takut dengan hari akhir, takut ketika (amal) diperlihatkan… Kita katakan, perbuatan dan ucapan kalian diperlihatkan… Anda sedang dihadapkan dengan mîzan (timbangan), Demi Allâh, Anda dengan daging dan lemak yang ada pada Anda dihadapkan dengan timbangan dan ditimbang di sisi Allâh… dan perkaranya tidak sebagaimana yang Anda lihat… Walaupun Anda memiliki tubuh padat berisi seberat 200 kg, tidak akan sama di sini Allâh Tabâroka wa Ta’âlâ sedikitpun… Karena perkaranya adalah amal perbuatan, perkaranya adalah penerapan Islâm, Îmân dan Ihsân. Semoga Allâh menganugerahkan pemahaman kepada kita dan kalian semua.

Dengan demikian, kami sekali lagi menegaskan bahwa kami bukanlah halabîyûn –tanpa ada keraguan-. Kami juga berpendapat bahwa setiap manusia pasti bersalah. Dan tidaklah setiap kesalahan itu mengharuskan Anda untuk mengeluarkan seseorang dari lingkaran Islam, ataupun menjadikannya sebagai sarana untuk saling memberikan gelar yang buruk, atau selainnya…

Maka bertakwalah wahai hamba Allâh! Kenalilah dan sayangilah diri Anda, sebelum Anda berjumpa dengan Allâh Tabâroka wa Ta’âlâ, dan bertaubatlah kepada Allâh Jalla wa ‘Alâ… [selesai ucapan Syaikh].

الشيخ: أسأل الله أن يعافينا وإياه، يعني نحن كلنا وراك؟!
لا -والله- لسنا حلبييِّن -أبدًا-، لسنا حلبيِّين! ما أعرف كيف تتهمون، وكيف تقولون، وكيف تجعلون مثل هذه الأمور تنابُز بالألقاب!!
نعم؛ لا شك أخونا الحلبي وغيره.. كلنا -يا إخوان-، “كل بني آدم..” ويش قال النبي؟ قال: عنده خطأ؟ لا؛ قال: “خطَّاء” يعني شنو خطاء؟ يعني: كثير الخطأ! ما فينا إلا ويخطئ..
أما أن نجعل هذا من باب التنابُز؛ والله هذا الخطأ أعظم من أخطاء الحلبي وغيره.
هذه المصيبة!
كيف تتنابز بالألقاب!؟
لماذا -يا عبد الله-!
وين تروح عند الله -تبارك وتعالى-؟!!
وبعدين كيف تُلحق.. بعض الناس يمكن ما يعرف الحلبي خير شر، فيكم ولا ما فيكم؟ والله ما يعرفونه! وأنت قلت: كلكم حلبيُّون!
لا والله؛ كلنا -إن شاء الله- سُنيُّون.
نحن ما نقبَل تقول: كلكم بكريُّون! قلنا ولا ما قلنا؟ تَقبَلون؟ والله ما نقبل -يا شيخ!-، ولا -أيضًا- سلفنا قبِلَ ذلك، ولا نقبل أن يقال إيش؟ عُمَريون! ما نقبل! فنقبل أن يقال حلبيون؟!! والله؛ ما نقبل.
لكن هذا -كله- من باب التنابُز بالألقاب.
قالوا: جاميين، قالوا: مدخليين.. ما تركوا شيء إلا وقالوه فينا -والعياذ بالله-!
كل هذا -والعياذ بالله- من باب التنابُز بالألقاب، من باب التفريق بين المسلمين، من باب إثارة الشحناء في القلوب.
والله؛ ليس هذا هو الشأن! ليس هذا هو الشأن!
تعال أصلِح، بعدين تعال.. إن كان عندك علينا شي.. مرحبًا تعال نتناصح نحن وإياك.
وأنا -أيضًا- ما أظن لا الشيخ هيثم.. حتى هو ما هو بحلبي!
أنت حلبي؟ ما يقبل -يا إخوان-! هذا هو، أمامكم الآن، يقول: (لا)؛ إذن كيف تصفونه..! بعدين ما اكتفيتُم بوصفه؛ كل من دخل مسجده ألحقتموه بنا..!! هذا..
والله أنا ما أعرف كل هؤلاء الذين صلوا -يعني يمكن عددنا يزيد على المائة والمائتين- أين تذهب من هذا كله؟ كل هؤلاء يأتون خصومًا لك يوم القيامة!
لكن مصيبتنا يا إخوان ما نؤمن بالإيمان باليوم الآخر على ما.. هذا هو أنا اللي أقوله هذا: اعرف ما معنى الإيمان باليوم الآخر، خاف من اليوم الآخر، خاف من العرض، قلنا أعمالك تُعرَض.. أقوالك تُعرض.. أنت تُحط بالميزان، أنت بلحمك وشحمك والله تُحط بالميزان، توزَن عند الله.. والمسألة ما هي ترى.. حتى لو كنت جثة متينًا 200 كيلو.. ما يسوى عند الله -تبارك وتعالى- شيئًا.
المسألة بالأعمال، المسألة بتحقيق الإسلام والإيمان والإحسان، نسأل الله أن يبصرنا وإياكم.
على كل هذا نحن هنا نُقر: أننا لسنا حلبيِّين -لا شك-.
ونقول: كل إنسان يخطئ، ولا يَلزم من الخطأ أنك تُخرجه عن دائرة الإسلام، أو أن تجعله علَمًا في باب التنابُز بالألقاب وغيرها.
فاتق الله -يا عبد الله- وارأف بنفسك وارحم نفسك قبل أن تَلْقى الله -تبارك وتعالى-، وتُب إلى الله -جل وعلا-.


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: