Nasehat Syaikh al-Ubailan Tentang Tragedi Palestina

 Jun, 02 - 2010   no comments   Al-Wala' wal Baro'TerkiniTragedi Palestina

Syaikh al-Muhaddits, ‘Abdullah bin Shalih al-Ubailan ditanya :

Pertanyaan : “Apa opini Anda tentang peristiwa yang tengah menimpa kaum muslimin di Gaza termasuk fatwa-fatwa dan penjelasan yang tengah beredar mengenai peristiwa ini?”

Jawab : Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh, yang kita menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan pengampunan serta taubat-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Alloh dari keburukan jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang dileluasakan dalam kesesatan tiada yang mampu menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi melainkan hanya Alloh semata, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du :

Sesungguhnya, sebenar-benar perkataan adalah Kitabullâh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Seburuk-buruk suatu perkara (di dalam agama) adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan (di dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Sebelum saya memberikan tambahan terhadap fatwa yang telah dikeluarkan oleh sebagian ulama, saya akan menyebutkan dulu apa yang telah disebutkan oleh para imam ahlus sunnah di zaman ini. Diantaranya adalah guru-guru kami : Samâhatu asy-Syaikh (guru yang mulia) ‘Abdul ‘Azîz bin Baz, al-‘Allâmah al-Muhaddits (ahli hadits yang luas ilmunya) Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, Faqîhul Muharror al-‘Allâmah (ahli fikih independen yang luas ilmunya) Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, al-‘Allâmah al-Muhaqqiq (peneliti yang luas ilmunya) asy-Syaikh Shalih bin Fauzân al-Fauzân dan Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdillâh Âlu Syaikh. Termasuk pula Asy-Syaikh al-‘Allâmah al-Mufassir (ahli tafsir yang luas ilmunya) Muhammad al-Amîn asy-Syinqithî serta selain beliau yang berjalan di atas manhaj mereka yang berangkat dari metodologi syar’îyah, dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kaum muslimin di zaman ini, bahkan di setiap zaman. Maka saya katakan sembari memohon taufiq kepada Alloh…

Al-Qur`an telah memberikan petunjuk untuk menyelesaikan tiga problematika utama yang tengah dihadapi seluruh belahan dunia Islam, sebagai peringatan bagi lainnya :

Problematika Pertama :

Yaitu kelemahan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, baik dari sisi jumlah (kuantitas) maupun persiapan di dalam menghadapi kaum kuffar. Al-Qur`an yang agung telah memberikan solusi atas problematika ini dengan cara yang paling baik dan tepat. Al-Qur`an menjelaskan bahwa obat dari kelemahan di dalam menghadapi kaum kuffar adalah dengan cara kembali kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, menguatkan keimanan kepada-Nya dan bertawakkal hanya kepada-Nya, karena hanya Alloh-lah yang Maha Kuat, Maha Perkasa lagi Maha Berkuasa atas segala hal. Manakala seorang muslim termasuk dalam golongan (Hizb)-Nya yang sejati (hakiki), tidaklah mungkin dia akan dikalahkan oleh kaum kuffar walaupun mereka (kaum kuffar) memiliki kekuatan yang tidak dimiliki kaum muslimin. Diantara dalil yang jelas yang menunjukkan hal ini adalah :

Bahwasanya kaum kuffar, tatkala mereka mengepung kaum muslimin dengan membuat blokade militer dalam jumlah besar pada perang Ahzâb sebagaimana yang tersebut di dalam firman Alloh Ta’ala :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ القُلُوبُ الحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللهِ الظُّنُونَا*هُنَالِكَ ابْتُلِيَ المُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا

Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS al-Ahzâb : 10-11)

Obat dari keadaan ini adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan. Perhatikanlah bagaimana kuatnya blokade militer dan pengaruhnya yang besar kepada kaum muslimin, di saat itu pula seluruh penduduk bumi memboikot mereka secara politis dan ekonomi. Jika Anda telah mengetahuinya, maka ketahuilah bahwa obat yang akan mengakhiri peristiwa dahsyat dan menyelesaikan problem besar ini, adalah apa yang dijelaskan oleh Alloh Jalla wa ‘Alâ di dalam surat al-Ahzâb, firman-Nya :

وَلَمَّا رَأَى المُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka Berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS al-Ahzâb : 22)

Keimanan yang sempurna dan ketundukan yang totalitas kepada Alloh Azza wa Jallâ ini, disertai dengan keimanan dan tawakkal kepada-Nya, adalah sebab yang dapat menyelesaikan problema besar ini. Alloh pun menegaskan buah dari obat/solusi ini dengan firman-Nya Ta’ala

وَرَدَّ اللهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللهُ المُؤْمِنِينَ القِتَالَ وَكَانَ اللهُ قَوِيًّا عَزِيزًا*وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا*وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS al-Ahzâb : 25-27)

Dan dengan inilah, Alloh menolong mereka dari musuh-musuh mereka, yaitu dengan cara yang tidak mereka sangka dan mereka kira bahwa mereka akan ditolong dengannya, yaitu dengan (tentara) malaikat dan angin topan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang Telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.” (QS al-Ahzâb : 9)

Dan tatkala Alloh Jalla wa ‘Alâ mengetahui keikhlasan yang sempurna para sahabat yang berbaiat Ridhwân, Alloh menceritakan tentang keikhlasan mereka di dalam firman-Nya Ta’ala :

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ المُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ

“Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka” (QS al-Fath : 18). Yaitu, berupa keimanan dan keikhlasan. Dan buah dari keimanan dan keikhlasan adalah apa yang disebutkan Alloh Azza wa Jalla di dalam firman-Nya :

وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللهُ بِهَا وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

“Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah Telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS al-Fath : 21)

Alloh Azza wa Jallâ telah menegaskan di dalam ayat ini, bahwa mereka belum dapat menguasainya (negeri-negeri) dan Alloh Jalla wa ‘Alâ-lah yang menentukannya dan memenangkannya. Dan yang demikian ini merupakan buah dari kekuatan keimanan dan keikhlasan mereka.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa keikhlasan kepada Alloh dan kuatnya keimanan terhadap-Nya, merupakan sebab menjadi kuatnya kaum yang lemah terhadap kaum yang kuat sehingga mampu mengalahkannya.

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqoroh : 249)

Problematika Kedua :

Dominasi kaum kuffar terhadap kaum mukminin dengan pembunuhan, penindasan dan segala bentuk penganiayaan, walaupun kaum muslimin yang berada di atas kebenaran dan kaum kuffar berada di atas kebatilan. Problema ini juga dihadapi oleh para sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, dan Alloh Jalla wa ‘Alâ memberikan jawaban dan menjelaskan sebab hal ini dengan jawaban samâwî yang dibacakan di dalam Kitab-Nya Jalla wa ‘Alâ. Tatkala berlangsung peperangan oleh kaum muslimin di hari uhud, paman dan sepupu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam gugur dan wafat pula kaum Muhajirin dan tujuh puluh orang dari kalangan Anshar, bahkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam pun tertebas, bibir beliau robek dan gigi seri beliau pecah, beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ikut terluka.

Inilah problematika yang dialami kaum muslimin, sampai-sampai mereka mengeluh, “bagaimana mungkin kaum musyrikin lebih baik daripada kita padahal kita yang berada di atas kebenaran sedangkan mereka di atas kebatilan!” Maka  Alloh menurunkan firman-Nya Ta’ala :

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” (QS Ali ‘Imrân : 165)

Firman Alloh Ta’ala : “itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” adalah masih global. Alloh Ta’ala menjelaskan (perinciannya) dalam firman-Nya yang lain :

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا] {آل عمران:152} – إلى قوله تعالى: { لِيَبْتَلِيَكُمْ

“Dan Sesungguhnya Allah Telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (QS Ali ‘Imrân : 152)

Di dalam jawaban Samâwiyah (ayat Al-Qur`an) ini, terdapat penjelasan yang terang bahwa faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin adalah, kelemahan dan pertikaian pada  kaum muslimin itu sendiri, mendurhakai perintah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan hasrat mereka terhadap dunia yang lebih didahulukan ketimbang perintah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Barangsiapa mengetahui akar suatu penyakit, maka ia bisa mengetahui obatnya sebagaimana hal ini sudah tidak samar lagi.

Problematika Ketiga

Yaitu perselisihan hati, yang merupakan faktor terbesar hilangnya entitas umat Islam, yang menyebabkan kelemahan dan hilangnya kekuatan serta negeri umat Islam. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS Al-Anfâl : 46)

Anda perhatikan masyarakat Islam pada hari ini di seluruh penjuru dunia, satu dengan lainnya tidak lepas dari permusuhan dan kebencian. Jika ada sebagian mereka yang yang bersikap baik terhadap lainnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa bahwa sikap tersebut hanyalah basa-basi belaka, sedangkan yang terbetik di dalam hati mereka, menyelisihi sikapnya tersebut.

Alloh Ta’ala telah menjelaskan di dalam Surat al-Hasyr bahwa faktor penyebab penyakit yang telah menyebarkan bencana ini, adalah oleh sebab lemahnya akal. Alloh Ta’ala berfirman :

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعاً وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى

kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.” (QS al-Hasyr : 14)

Kemudian Alloh menyebutkan alasan berpecahbelahnya hati mereka di dalam firman-Nya :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْقِلُونَ

“yang demikian ini disebabkan karena mereka adalah kaum yang tidak berakal.” (QS al-Hasyr : 14)

Tidak diragukan lagi, bahwa penyakit lemahnya akal yang menimpa mereka, melemahkan mereka dari mengetahui realita/hakikat sebenarnya, membedakan antara yang haq dengan yang bathil, antara yang bermanfaat dengan yang berbahaya, antara yang baik dengan yang buruk, dan penyakit ini tidak ada obatnya melainkan dengan meneranginya dengan cahaya wahyu, sebab cahaya wahyu itu dapat menghidupkan orang yang mati (hatinya), dapat menerangi jalan orang yang berpegang dengan cahaya tersebut, sehingga ia dapat memilah bahwa yang hak itulah yang hak dan yang bathil itulah yang bathil, yang bermanfaat itulah yang dapat memberikan manfaat dan yang berbahaya itulah yang dapat membahayakan. Alloh Ta’ala berfirman:

أَوَ مَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِى النَّاس كَمَن مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (QS al-An’âm : 122)

Alloh Ta’ala berfirman :

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (QS al-Baqoroh : 257)

Barangsiapa yang Alloh keluarkan dari kegelapan kepada cahaya, akan mendapati betapa terangnya kebenaran itu. Karena cahaya tersebut, akan menyingkap padanya realita kebenaran, sehingga ia dapat mengetahui bahwa yang hak itulah yang hak dan yang bathil itulah yang bathil. Alloh Ta’ala berfirman :

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS al-Mulk : 22)

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَا يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَلاَ الظُّلُمَاتُ وَلاَ النُّورُ وَلاَ الظِّلُّ وَلاَ الْحَرُورُ وَمَا يَسْتَوِي الأَحْيَاءُ وَلاَ الأَمْوَاتُ

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang Melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.” (QS Fâthir : 19-22)

Alloh Ta’ala berfirman :

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالأَعْمَى وَالأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً

“Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya?” (QS Hûd : 24)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa keimanan itu membawa kehidupan bagi manusia yang menggantikan keadaannya dulu ketika mati (hatinya), dan membawa cahaya yang menggantikan keadaannya dulu di saat berada dalam kegelapan. (Lihat Adhwâ`ul Bayân III/54)

Adapun fatwa-fatwa dan keterangan yang muncul berkenaan dengan peristiwa penindasan Yahudi terhadap kaum muslimin, ada beberapa bentuk :

Pertama, seruan supaya kaum muslimin kembali ke agama mereka, bertaubat kepada Alloh dengan sungguh-sungguh, menepis perpecahan, mendoakan kaum muslimin dan menolong mereka dengan segala kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun obat-obatan. Maka seruan ini adalah seruan yang benar, karena seruan ini berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam serta memahami faktor penyebab yang sebenarnya tentang musibah.

Kedua, seruan serampangan yang malah mendatangkan keuntungan bagi Yahudi, dan tidak ragu lagi bahwa fatwa tersebut adalah fatwa yang tidak bertanggung jawab, yang berangkat dari sikap reaksioner yang tidak bijaksana dan tidak benar. Hal ini acap kali dapat menyebabkan dampak buruk bagi kaum muslimin, termasuk di Kerajaan Arab Saudi. Hal ini menyebabkan negara adidaya dapat mencari-cari alasan untuk menguasai suatu negeri dengan tuduhan terorisme, yang mana hal ini pernah dialami Kerajaan beberapa tahun lalu. Pernyataan-pernyataan ini, tidaklah jauh dari pernyataan sebagian kaum yang menyimpang dari sunnah, dan menghendaki untuk melenyapkan ahlus sunnah yang tersisa. Hal ini hanyalah alasan politik saja yang tidak ada kaitannya dengan pemahaman Maqôshidu asy-Syari’ah (tujuan syariat) dan kaidah-kaidahnya yang umum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiiyah berkata :

والشجاعة ليست هي قوة البدن فقد يكون الرجل قوي البدن ضعيف القلب وانما هي قوة القلب وثباته فأن القتال مداره على قوة البدن وصنعته للقتال وعلى قوة القلب وخبرته به والمحمود منهما ما كان بعلم ومعرفة دون التهور الذي لا يفكر صاحبه ولا يميز بين المحمود والمذموم ولهذا كان القوي الشديد هو الذي يملك نفسه عند الغضب حتى يفعل ما يصلح دون ما لا يصلح فأما المغلوب حين غضبه فليس هو بشجاع ولا شديد

“Keberanian itu bukanlah sekedar kekuatan fisik. Seringkali ada orang yang kuat badannya namun lemah hatinya. Sesungguhnya keberanian itu adalah kekuatan dan kemantapan hati. Peperangan itu tergantung pada kekuatan badan, ketangkasan di dalam berperang dan kekuatan hati serta kemantapannya. Yang terpuji diantara keduanya adalah keberanian yang disertai ilmu dan pengetahuan, bukan semata-mata kekerasan yang pelakunya tidak memikirkan dan tidak memisahkan antara yang terpuji dan tercela. Karena itulah, orang yang benar-benar kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya di saat marah, sehingga ia dapat tetap melakukan hal yang bermanfaat bukan malah merusak. Adapun orang yang dikalahkan oleh emosinya, maka ia bukanlah orang yang berani dan kuat.” (al-Istiqômah II/271)

Ketiga, seruan yang menyeru pelayan dua tanah suci untuk mengusir Yahudi dari tanah Palestina. Seruan ini adalah seruan yang tergesa-gesa dan jauh dari pemahaman akan realita kaum muslimin hari ini baik dari sisi agama maupun politik, dan pemahaman akan timbangan kekuatan.

Sebagai penutup, saya mengajak kepada saudara-saudara para du’at dan penuntut ilmu, untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan kesabaran, mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta memperhatikan atsar-atsar as-Salaf as-Shalih, dan supaya mereka mengetahui bahwa ketentuan Alloh terhadap masyarakat, tidak akan berubah dan berganti, sebagaimana ketentuan Alloh terhadap alam semesta (Sunnah al-Kauniyah). Alloh Ta’ala berfirman :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS ar-Ra’du : 11)

Saya mengajak mereka juga untuk mengambil manfaat dari pelajaran terdahulu yang telah berlalu, dan agar mereka mengetahui bahwa syariat itu datang untuk  meraih kemaslahatan dan menyempurnakannya serta menolak kerusakan dan meminimalisirnya semampunya. Saya ingatkan pula mereka tentang kaidah-kaidah syariah apabila berhimpun antara maslahat dan mafsadat atau keduanya dan tentang kebaikan dan keburukan yang bertingkat-tingkat. Orang yang berakal adalah orang yang mampu menyeleksi antara keburukan yang besar dengan yang lebih kecil dan merasa cukup dengan kebaikan yang kecil apabila ia tidak mampu mendapatkan kebaikan yang banyak. Jika tidak, kita menderita lebih banyak daripada warga Gazza.

Hanya kepada Alloh-lah saya memohon untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dan mempersatukan hati mereka di atas petunjuk, tauhid dan sunnah. Serta untuk mencegah kejahatan makar musuh-musuh mereka dari kaum kuffar dan munafikin. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan seluruh sahabatnya.

Sumber : http://islamancient.com/fatawa,item,159.html?PHPSESSID=0a4d2988375a28456329ad7b409dd2fd


Related articles

Silakan berikan tanggapan...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: