PERISAI PENANGKIS DI DALAM MEMBELA AL-IMAM AL-ALBANI DARI KEJAHATAN ”AL-MUDZABDZAB” AT-TAHRIRI (3)

 Mar, 12 - 2007   1 comment

الحصن المنيع للدفاع عن الإمام الألباني من

مشاغبة المذبذب التحريري

PERISAI PENANGKIS DI DALAM MEMBELA AL-IMAM AL-ALBANI DARI KEJAHATAN ”AL-MUDZABDZAB” AT-TAHRIRI

[Bagian 3 – Terakhir]

Tambahan (Mulhaq) Bantahan Terhadap Tuduhan Keji al-Mudzabdzab

Al-Mudzabdzab al-Jahil berkata :

Bukankan Albani juga punya kitab yang menurut dia, ia telah memisahkan hadis yang shohih dg yang dhoif dalam kitab Ashab As-Sunnan, spt Shohih Sunan Abi Dawud – Dhoif Abi Dawud; Shohih Sunan At-tirmidzi – Dhoifnya, Shohih Sunan At- Tirmidzi – Dhoifnya dll. Lalu apakah ada Ulama yang meragukan bahwa Imam Abi Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dll adalah ahli hadis, sekalipun telah ada kitab yg ditulis oleh albani (yg ia klaim telah ia pisahkan antara yg shohih dg yg dhoif dr kitab hadis2 tsb) ??! Apakah ada yg berani mengatakan stlh terbitnya kitab2 ini bahwa Albani jauh lebih menguasai ilmu hadis dibandingkan Imam Abi Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dll ??? Tidak ada satupun dari ulama dari dulu sampai saat ini yg berani mengatakan seperti itu. Kecuali ‘Ghulatus Salafii’ (orang2 salafi yg melampaui batas) yg tidak menghormati para Ulama dan dg mudah melontarkan kata2 keji kpd para Ulama ini ‘hatta’ para ulama ahli hadis (waliyadzu billah) !!!?

Haihata haihata ya Mudzabdzab…!!! Siapakah yang mengklaim demikian?? Siapakah yang mengatakan bahwa Syaikh al-Albani lebih alim hadits ketimbang Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan selainnya?? Dan siapakah yang kau maksudkan sebagai Ghullatus salafiy yang mencela mereka para muhadditsin?? Tunjukkan buktimu wahai jahil… jangan hanya mengklaim tanpa dalil…!!!

Sesungguhnya ad-Da’awa man lam tuqiimu ’alaiha bayyinatun abna’uha ad’iyaa’ (pengklaim yang tidak disertai keterangan hanyalah pengklaim kosong belaka). Berikan bayanmu dan buktimu bahwa salafiyin mencela Abu Dawud, at-Turmudzi dan selainnya dari para ulama ahli hadits??

Bahkan sesungguhnya salafiyin lah yang paling menghormati mereka dan memuliakan mereka, karena mereka adalah ahlul hadits. Salafiyunlah yang senantiasa menyibukkan diri dengan kitab-kitab sunan, musnad, manakib dan selainnya. Dan salafiyunlah yang paling mencintai dan menyibukkan diri dengan ilmu hadits. Salafiyun lah yang paling respek terhadap ilmu hadits dan pirantinya, paling respek terhadap ilmu jarh wa ta’dil, ilmu rijalil hadits, ilmu riwayah wa diroyah. Salafiyunlah yang paling memperhatikan keshahihan dan kedhaifan sebuah hadits, salafiyunlah yang paling membela sunnah dari makar ahlul bid’ah, orientalis dan kaum inkarus sunnah. Salafiyunlah yang paling mengenal para muhadditsin dan mu’arrikhin.

Salafiyin senantiasa sibuk dengan takhrijat, ta’liqot dan tahqiqot kitab-kitab para ulama hadits mutaqoddimin. Mereka senantiasa menyibukkan diri dengan isnad dan ruwat hadits, menghafalkan tarajum ruwat dan rijalul hadits. Dan salafiyunlah yang paling menjaga keilmiahan karya-karyanya dengan memilih dan memilah antara dalil yang rajih, mukhtar dan shahih.

Ucapanmu di atas menunjukkan kebodohanmu dan kelompokmu terhadap ilmu hadits, bahkan menunjukkan bahwa dirimu dan kelompokmu benar-benar jahil dalam ilmu ini. Akan saya bongkar insya Allah kebodohan kelompokmu dan tokoh-tokoh kelompokmu dalam risalah silsilah bantahan ini.

 

Sunan Abu Dawud

Penulisnya adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syiddad bin Amar bin Azdi as-Sijistani atau lebih dikenal dengan kunyah Abu Dawud as-Sijistani rahimahullahu[1], seorang Imam dan tokoh ahli hadits dari Sijistan, Bashrah. Beliau lahir pada 202 dan wafat tahun 275. beliau juga memiliki banyak karya diantaranya adalah : al-Marasil, kitab al-Qodar, an-nasikh wal Mansukh, Fadha’ilul ’Amal, Kitab az-Zuhd, Dalailun Nubuwah, Ibtda’ul Wahyi dan Akhbarul Khowarij.

Al-Imam Abu Dawud di dalam menulis kitab ini tidak hanya memuat hadits shahih saja, namun beliau juga memasukkan hadits hasan dan dhaif yang tidak dibuang oleh ulama hadits. Beberapa ulama mengkritik Sunan Abu Dawud karena ditengarai memuat hadits maudhu’ diantaranya adalah Imam Ibnul Jauzi. Beliau mengatakan bahwa ada beberapa hadits maudhu’ dalam Sunan Abu Dawud ini, namun kritikan beliau ini dibantah oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi (w. 911). Biar bagaimanapun, ribuan hadits yang shahih dalam Sunan Abu Dawud tidaklah memperngaruhi nilai keabsahan Sunan Abu Dawud sebagai kitab hadits ketiga setelah Shahih Bukhari dan Muslim yang dijadikan mashdar oleh kaum muslimin dan kitab Sunan yang paling diutamakan diantara kitab sunan lainnya.

Jumlah hadits dalam Sunan Abu Dawud adalah 4.800 hadits, sebagian ulama menghitungnya sebanyak 5.274 hadits. Perbedaan ini dikarenakan sebagian orang menghitung hadits yang diulang sebagai satu hadits dan sebagian lagi menghitungnya sebagai dua hadits. Abu Dawud membagi Sunannya dalam beberapa kitab dan tiap kitab dibagi menjadi beberapa bab. Jumlah kitab sebanyak 35 buah diantaranya ada 3 kitab yang tidak dibagi dalam bab-bab. Sedangkan jumlah babnya ada 1.871 bab.

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullahu dalam Kaifa Nastafiidu minal Kutubil Haditsiyah (hal. 18) berkata : ”Kitab Sunan karya Abu Dawud ini adalah kitab yang sangat agung, yang diperkaya oleh penulisnya di dalamnya hadits-hadits ahkam dan mentartibnya serta memaparkannya berdasarkan urutan bab-bab yang menunjukkan atas kefakihan dan kedalamannya terhadap ilmu riwayah dan diroyah.”

Beberapa ulama mensyarah dan meneliti Sunan Abu Dawud ini, diantaranya :

  1. Ma’alimus Sunan yang ditulis oleh Imam Abu Sulaiman Ahmad bin Ibrahim al-Busti al-Khaththabi (w. 388) yang merupakan syarah sederhana dengan mengupas masalah bahasa, penelitian terhadap riwayat, istinbath hukum dan pembahasan adab.

  2. Aunul Ma’bud ’ala Sunan Abi Dawud yang ditulis oleh Imam Syamsul Haq Muhammad Asyraf bin Ali Haidar ash-Shiddiqi al-Azhim Abadi as-Salafi (ulama abad ke-14) dalam 4 jilid besar.

  3. al-Manhalu Adzbu al-Maurid yang ditulis oleh Syaikh Mahmud bin Khaththab as-Subki (w. 1352). Beliau juga meneliti dan memilah serta menjelaskan derajat hadits-hadist yang shahih, hasan maupun dhaif.

  4. al-Mujtaba Tahdzib Sunan Abi Dawud oleh al-Imam al-Hafizh Abdul Azhim al-Mundziri (w. 656) yang meringkas, menyusun kembali dan menyebutkan perawi-peraei lain yang juga meriwayatkan hadits di dalam Sunan Abu Dawud, serta beliau menunjukkan beberapa hadits dhaif di dalamnya.

  5. Ta’liq al-Mujtaba oleh Syaikhul Islam kedua, Imam Ibnul Qayyim (w. 751) yang memberikan Komentar tentang kelemahan hadits yang dijelaskan oleh al-Mundziri, menegaskan keshahihah hadits yang belum dishahihkan serta membahas matan yang musykil.

Demikianlah sekilas penjelasan seputar Sunan Abu Dawud, dan telah jelaslah bahwa tidak semua hadits yang dimuat oleh Imam Abu Dawud as-Sijistani di dalam Sunan-nya adalah shahih. Oleh karena itu al-Muhaddits Muhammad Nashirudin al-Albani meneliti kembali derajat hadits-hadits di dalam Sunan Abu Dawud dan menuliskannya sebagai kitab Shahih Sunan Abu Dawud dan dhaifnya.

Lantas adakah yang mengatakan bahwa al-Mundziri, al-Khattabi, as-Subki, al-Azhim Abadi adalah lebih alim daripada Abu Dawud karena mereka turut mengomentari hadits-hadits di dalam Sunan Abu Dawud?! Apakah mereka juga lebih alim dari Abu Dawud as-Sijistani karena mereka tidak menerima saja dengan penilaian Abu Dawud terhadap Sunan-nya dimana diamnya Abu Dawud dikatakan shahih sebagaimana penjelasan beliau sendiri di dalam risalah kepada ahli Makkah?! Haihata haihata…!!!

 

Sunan an-Nasa’i

Penulisnya adalah Abu Abdurrahman Ahmad bin Ali bin Syu’aib bin Ali bin Sinan al-Khurasani. Lahir tahun 215 dan wafat tahun 303 menurut pendapat Syamsudin adz-Dzahabi dan Abu Ja’far ath-Thohawi. Beliau adalah ulama hadits terkemuka di masanya, seorang yang sangat teliti dan memiliki persyaratan yang ketat di dalam menerima hadits. Beliau memiliki beberapa karya dinataranya as-Sunanul Kubra, as-Sunanus Shughra (juga dikatakan al-Mujtaba), al-Khashaish, Fadhailus Shahabah dan al-Manasik.

Imam Nasa’i sangat cermat di dalam menyusun Sunanus Shughra ini yang beliau tulis setelah menyusun Sunanul Kubra. Beliau berupaya hanya menghimpun yang shahih saja di dalam kitab Sunan-nya ini. Namun Syaikh Abul Faraj Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ada sekitar sepuluh buah hadits maudhu’ di dalamnya, walau imam Jalaludin as-Suyuthi membantahnya. Namun, biar bagaimanapun terdapat sedikit hadits dhaif di dalam Sunan-nya ini. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad di dalam kaifa Nastafiidu (hal. 22) berkata : ”Kitab ini adalah kitab yang agung tingkatannya, banyak bab-babnya, dan penjelasan akan bab-babnya menunjukkan fakihnya penulisnya, bahkan sungguh diantaranya menampakkan kedalaman dan kecermatan Imam Nasa’i di dalam beritinbath.”

Sunan an-Nasa’i ini menghimpun sejumlah 51 kitab dan haditsnya mencapai 5774. Adapun mengenai syarah an-Nasa’i, sesungguhnya masih sangat sedikit sekali walaupun kitab ini sudah berumur hampir 600 tahun. Al-Hafizh Jalaludin as-Suyuthi memberikan syarah yang sangat singkat yang berjudul Zihar ar-Rubba ’alal Mujtaba yang meneliti para perawi, menjelaskan sebagian lafazh dan hadits gharib serta menerangkan mengenai hukum dan adab yang terkandung di dalam hadits Sunan. Selain as-Suyuthi, juga seorang muhaddits India yang bernama al-Allamah Abul Hasan Muhammad bin Abdul Hadi al-Hanafi as-Sindi (w. 1138)[2] memberikan syarah yang lebih sempurna dibandingkan syarah as-Suyuthi.

Lantas apakah as-Suyuthi dan as-Sindi kau katakan bahwa mereka merasa lebih alim dari an-Nasa’i?!! Karena mereka meneliti kembali perawi-perawi hadits dalam Sunan Nasa’i dan memberikan penilaian kembali sesuai dengan pengecekan terhadap perawi-perawi hadits tersebut.

 

Sunan at-Turmudzi

Penulisnya adalah al-Imam Abu Isa Muhammad bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami at-Turmudzi dari Tirmidz, Iran Utara. Beliau adalah seorang imam ahli hadits yang kuat hafalannya, amanah dan teliti. Beliau lahir pada tahun 209 dan pada akhir hidupnya menjadi buta dan wafat tahun 279. Beliau memiliki beberapa karangan diantaranya adalah Kitabul Jami’ (lebih dikenal dengan Sunan at-Turmudzi), al-’Illat, at-Tarikh, asy-Syamail an-Nabawiyah, az-Zuhd dan al-Asma’ wal Kuna.

Al-Imam Abu Isa di dalam menyusun kitab al-Jami’ tidak hanya meriwayatkan hadits shahih saja, namun juga beserta hadits yang hasan, dha’if, gharib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya. Beliau memasukkan hampir 50 kitab dan haditsnya berjumlah 3956 hadits.

Diantara kritikan utama terhadap Jami’ at-Turmidzi ini adalah dia menerima periwayatan dari al-Maslub dan al-Kalbi, perawi yang muttaham pemalsu hadits. Sehingga derajatnya lebih rendah dibandingkan Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa’i. Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik sebanyak 30 hadits dimasukkannya ke dalam al-Maudhu’at namun disanggah beberapa oleh Jalaludin as-Suyuthi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harani dan Syamsyudin adz-Dzahabi juga turut mengkritik Sunan Turmudzi ini.

Diantara para ulama yang mensyarah Jami’ at-Turmudzi adalah al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Abdillah al-Isybili yang lebih dikenal dengan Ibnul Arabi al-Maliki (w. 543) yang berjudul Aridatul Ahwadzi fi Syarhi Sunanit Tirmidzi. Jalaludin as-Suyuthi juga mensyarah dengan judul Qutul Mughtazi ’ala Jami’it Tirmidzi. Kitab syarah terbaik adalah yang ditulis oleh al-Allamah al-Abdurrahman al-Mabarkapuri (w. 1353) yang berjudul Tuhfatul Ahwadzi.

Adakah mereka yang meneliti kembali Sunan at-Turmudzi ini kau katakan mereka merasa lebih alim dari imam Abu Isa sendiri?!!

 

Sunan Ibnu Majah

Penulisnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qazwini dari desa Qazwin, Iran. Lahir tahun 209 dan wafat tahun 273. Beliau adalah muhaddits ulung, mufassir dan seorang alim. Beliau memiliki beberapa karya diantaranya adalah Kitabus Sunan, Tafsir dan Tarikh Ibnu Majah.

Beliau menyusun kitabnya dengan sistematika fikih, yang tersusun atas 32 kitab dan 1500 bab dan jumlah haditsnya sekitar 4.000 hadits. Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi menghitung ada sebanyak 4241 hadits di dalamnya. Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu di dalam Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh as-Suyuthi.

Al-Imam al-Bushiri (w. 840) menulis ziadah (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak terdapat di dalam kitabul khomsah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Tirmidzi) sebanyak 1552 hadits di dalam kitabnya Misbah az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. Oleh karena itu, penelitian terhadap hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting.

Lantas ya mudzabdzab, apakah kau katakan bahwa mereka adalah orang yang merasa lebih alim ketimbang Ibnu Majah!?? Fa la hawla wa quwwata illa billah!!!

Maka saya katakan : Ya Mudzabdzab!!! Apakah sekarang kau klaim bahwa salafiyun menganggap ulama hadits kontemporer lebih alim daripada ulama hadits mutoqoddimin?!! Maka tunjukkan bukti klaim tersebut!!! Dan siapakah yang mencela ulama hadits mutoqodimin tersebut!! Sesungguhnya salafiyin menganggap orang-orang yang mencela mereka adalah ahlul bid’ah wal ahwa’!!!

Berikut inilah mereka para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :

  1. Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Ridlwabullahi ’alaihim ajma’in.

  2. Al-Abadillah : Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ibnu ’Amr, Ibnu Mas’ud, Aisyah dan Ummu Salamah, Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairoh, Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id al-Khudri, Muadz bin Jabal.

  3. Tabi’in : Said al-Musayyib (w. 90), Urwah bin Zubair (w. 94), Ali bin Husain Zainal Abidin (w. 93), Muhammad bin al-Hanafiyyah (w. 80), Ubidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud (w. 94), Salim bin Abdillah bin Umar (w. 106), al-Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq (w. 106), al-Hasan al-Bashri (w. 110), Muhammad bin Sirin (w. 110), Umar bin Abdil Aziz (w. 101), Muhammad Syihab az-Zuhri (w. 125) dan lain lain.

  4. Tabi’ut Tabi’in : Malik bin Anas (w. 179), Al-Auza’i (157), Sufyan bin Said ats-Tsauri (w. 161), Sufyan bin Uyainah (w. 193), Ismail bin Aliyah (w. 193), al-Laits bin Sa’ad (w. 175), Abu Hanifah Nu’man bin Tasbit (w. 150) dan lain lain.

  5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Abdullah bin Mubarak (w. 181), Waki’ bin al-Jarrah (w. 197), Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w. 204), Abdurrahman bin Mahdi (w. 198), Yahya bin Sa’id al-Qahthan (w. 198), Affan bin Muslim (w. 219), dan lain lain.

  6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in : Ahmad bin Hanbal (w. 241)m Yahya bin Ma’in (w. 233), Ali bin Al-Madini (w. 234), Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (w. 265), Muslim bin Hajjaj (w. 271), Abu Hatim ar-Razi (w. 277), Abu Zur’ah ar-Razi (w. 264), Abu Dawud as-Sijistani (w. 275), at-Turmudzi (w. 279), an-Nasa’i (w. 303).

  7. Generasi berikutnya : Ibnu Jarir (w. 310), Ibnu Khuzaimah (w. 311), ad-Daruquthni (w. 385), ath-Thohawi (w. 321), al-Ajurri (w. 360), Ibnu Baththah (w. 387), Ibnu Abi Zamanain (w. 399), al-Hakim an-Naisaburi (w. 399), al-Lalika’i (w. 416), al-Baihaqi (w. 458), Ibnu Abdil Barr (w. 463), al-Khathib al-Baghdadi (w. 463), al-Baghowi (w. 516), Ibnu Qudamah (w. 620), dan lain lain.

  8. Murid-Murid Mereka : Ibnu Abi Syamah (w. 665), Majududin Ibnu Taimiyah (w. 652), Ibnu Daqiqil Ied (w. 702), Ibnu Sholah (w. 643), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728), al-Mizzi (w. 724), Ibnu Abdil Hadi (w. 744), adz-Dzahabi (w. 748), Ibnul Qoyyim (w. 751), Ibnul Katsir (w. 774), asy-Syathibi (w. 790), Ibnu Rajab (w. 795) dan lain lain

  9. Ulama Generasi Akhir : ash-Shon’ani (w. 1182), Muhammad bin Abdil Wahhab (w. 1206), al-Luknawi (w. 1304), Shidiq Hasan Khon (w. 1307), al-Azhim Abadi (w. 1349), al-Mubarokfuri (w. 1353), Abdurrahman as-Sa’di (w. 1367), Ahmad Syakir (w. 1377), al-Mu’allimi al-Yamani (w. 1386), Muhammad Ibrahim Alu Syaikh (w. 1389), Muhammad Amin asy-Syinqithi (w. 1393), Badi’udin as-Sindi (w. 1416), al-Albani (w. 1420), Abdul Aziz bin Baz (w. 1420), Hammad al-Anshori (w. 1418), Hammud at-Tuwaijiri (w. 1413), Muhammad Aman al-Jami (w. 1416), Muhammad Sholih al-Utsaimin (w. 1423), Muqbil bin Hadi (w. 1423), Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Abdul Muhsin al-Abbad, Rabi bin Hadi al-Madkholi, dan lain lain[3]

Si Mudzabdzab ini memuntahkan lagi muntahan busuknya dengan berkata :

Lalu sekarang siapa yg akan percaya dg hasil pekerjaan si ‘Albani’, termasuk para Ulama Salafi yg lainnya, yg mengklaim dirinya ahli hadis dan yg merasa dirinya lebih hebat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dll !!! Maka sikap kita tatkala ada hadis yg dinilai oleh Albani atau ulama Salafi yg lain adalah sebagaimana sikap sebagian ulama dari Univ. Ummul Qurra Makkah dan sebagian ulama pakar hadis yg lain (di berbagai negeri kaum muslimin lainnya !!!) yaitu berhati2 dan tdk langsung menerima, kecuali ada pernyataan dari ulama hadis yang terpercaya berkaitan dengan status hadis tersebut (ini diucapkan oleh DR. Sa’id Agil Al-Munawar ketika (dlm acara di sebuah televisi swasta)) ditanya ttg status hadis yang dinilai oleh Albani, beliau mengatakan : “Guru2 (para masyaikh) saya menasehati supaya berhati2 dg penilaian Albani atas hadis, krn ia bukanlah orang yang ahli dalam masalah ini !!?“) !!!? Alhamdulillah, terbukti apapun tuduhan si Ikhwan atas status hadis dalam kitab2 mutabannat HT atau yg ditulis oleh para syabnya atau kitab dari para ulama (selain ulama Salafi) atau harokah Islam yg lain perlu ada klarifikasi dan tidak boleh langsung diterima kecuali ada pernyataan para Ulama Ahli Hadis yg terpercaya tentang status hadis tersebut !!!??

Sungguh busuk sekali muntahanmu wahai jahil!!! Sungguh dirimu akan menjilat kembali muntahanmu yang busuk tersebut. Sekali lagi dirimu main tuduh tanpa bukti dan bayan!!! Apakah ini ciri khasmu dan kelompokmu wahai mubaddil?!! Siapakah yang mengklaim lebih alim dibandingkan Imam Bukhari dan Muslim?!! Tidakkah dirimu berdusta untuk kesekian kalinya… apakah manhajmu yang menghalalkan segala cara memperbolehkan dirimu berdusta dan melemparkan iftira’ kepada ulama ahlul hadits?!!

Sungguh tidak layak ucapanmu diterima, karena dirimu masih bodoh dan dungu namun merasa sok alim. Wahai ’Mubaddil’, ayo buktikan tuduhanmu, dan mari kita bertemu di dalam forum yang engkau harus membuktikan tuduhanmu di atas.

Wahai pembela kesesatan, sekali lagi kau tunjukkan zhahir kesesatan dirimu dan kelompokmu. Apakah Sa’id Aqil al-Munawwar[4] itu ahlul hadits?! ataukah orang yang perkataannya dianggap di dalam Islam?!! Apakah orang yang ’tunduk patuh’ kepada ahlul bid’ah terbesar, Gus Dur, engkau ambil sebagai hujjah. Tidak cukupkah orang-orang di atas yang kau sebutkan di awal?!! Mengapa kau juga menukil seorang pembela bid’ah yang khurofi quburi kau jadikan hujjah ucapannya yang tak berdasar?!!

Siapa yang kau maksudkan dengan ulama Univ. Ummul Quro’ yang meragukan kapasitas Albani dalam ilmu hadits?!! Sebutkanlah satu saja!!! Dan siapakah yang dimaksudkan oleh al-Munawwar ini sebagai guru-gurunya?! Apakah pembesar sufi Muhammad Alwi al-Maliki ghofarollohu lahu?!! Yang mengajarkan bersholawat bid’ah, bertawasul dengan makhluk, bertabaruk dengan mayit, dan memperbolehkan kesyirikan serta kebid’ahan lainnya?!! La hawla wa la quwwat illa billah!!!

Dimanakah kau letakkan kepalamu wahai mudzbdzab!! Apakah kepalamu telah kau pendam di dalam tanah sehingga matamu tak dapat melihat matahari?!! Lantas mengapa kelompokmu mengatakan bahwa mempelajari kodifikasi ilmu hadits bukanlah manhaj perbaikan (taghyir) yang tepat, karena manhaj yang tepat hanyalah siyasah… kau dan kelompokmu buang kemana ilmu kodifikasi hadits wahai mubaddil!!! Dan bagaimana kau mensikapi bahwa Fathi Muhammad Salim di dalam bukunya al-Istidlalu bizh zhon menolak keberadaan mutawatir lafzhi namun Syamsudin Ramadhan di dalam ”Absahkah” mengatakan ada mutawatir lafzhi.

Sungguh, saya seumur-umur belum pernah melihat kitab-kitab baik mutabanat maupun hanya artikel yang bermanhaj haditsiyah di dalam tulisan-tulisan hizb. Saya belum pernah melihat bahwa ada kitab yang ditulis oleh hizbut tahrir lengkap ditulis dengan takhrij dan tarjihnya. Kenapa?! Karena kelompokmu wahai mubaddil, tidak punya muhaddits, namun hanya muhandis yang berbicara masalah agama!!! Allahul Musta’an, saya khawatir bahwa kelompokmu ini adalah sarang ruwaibidhoh dan ashoghir!!!

Aduhai, sungguh indah apa yang dilontarkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Qasidah Nuniyah-nya yang berjudul al-Kafiyah asy-Syafiyah fil Intishor lil Firqotin Najiyah yang berbunyi : (artinya)

Sungguh aku akan menjadikan peperangan terhadap mereka ahlul ahwa’ dan bid’ah sebagai kebiasaanku

Dan sungguh aku akan membongkar kedok mereka di hadapan orang banyak

Memotong kulit mereka dengan lisanku

Akan kusingkap rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi

Bagi orang yang lemah diantara makhluk-Mu, dari mereka dengan penjelasan

Aku akan selalu membidik mereka hingga dimanapun mereka berada

Hingga dikatakan hamba yang paling jauh

Sungguh aku akan merajam mereka dengan bukti-bukti petunjuk

Sebagai rajam terhadap pembangkang dengan bintang yang gemerlapan

Sungguh aku akan menggagalkan tipu daya mereka

Dan aku akan mendatangi mereka di setiap tempat

Sungguh aku akan buat daging-daging mereka menjadi darah mereka

Pada hari datangnya pertolongan-Mu adalah pengorbanan yang sangat besar

Sungguh aku akan datangkan pada mereka pasukan tentara

Yang takkan lari ketika dua pasukan telah saling berhadapan

Dengan membawakan pasukan tentara pengikut wahyu dan hati nurani

Memadukan logika dan nash-nash syariat dengan baik

Hingga jelaslah bagi orang yang berakal

Siapa yang lebih utama menurut logika dan petunjuk

Sungguh aku akan menasehati mereka karena Allah kemudian Rasul-Nya

Kitab-Nya dan syariat-syariat keimanan

Jika tuhanku menghendaki dengan saya kekuatan-Nya

Jika tidak dikehendaki, maka perkara itu kembali kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.[5]

هذا والله أعلم وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .

 

 

1 Abu Dawud as-Sijistani shohibus Sunan berbeda dengan Abu Dawud ath-Thoyalisi shohibul Musnad ath-Thoyalisi.

2 Beliau adalah diantara guru dari Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu.

3 Dinukil dari al-Azhar al-Mantsuroh fi Tabyiin anna Ahlal Hadits Humul Firqotun Najiyah wath Thoifah al-Manshuroh karya Syaikh Abu Abdirrahman Fauzi bin Abdillah al-Bahraini, terj. “Siapakah Golongan Yang Selamat”, Cahaya Tauhid Press, hal. 247-251.

4 Subhanalloh. Ketika tulisan ini ditulis, Sa’id al-Munawwar mantan menetri agama RI belum ditangkap karena kasus korupsi dana haji. Setelah beliau ditangkap dan dipenjarakan, apakah al-Mudzabdzab ini masih tetap akan menjadikannya sebagai hujjah. Wahai Mudzabdzab, sungguh benar pepatah yang mengatakan, “Tak ada rotan akarpun jadi.” Ketika tak ada lagi ulama yang dapat kau gunakan, maka orang seperti al-Munawwar ini engkau jadikan pula sebagai hujjahmu. Allohu akbar!!!

5 Dinukil dari Sallus Suyuf karya Syaikh Tsaqil bin Sholfiq al-Qashimi, terj. “Membantai Ahlul Ahwa dan Bid’ah”, Pustaka as-Sunnah, hal. 193-194.


 Comments 1 comment

  • alhamdulillah. syukron. semoga ikhwan sekalian selalu dalam kebaikan. amin

  • Silakan berikan tanggapan...

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    %d bloggers like this: