RESENSI : Ath-Thoriq ila al-Jama’atil Umm

 Jan, 20 - 2007   3 comments

ath-Thariq

Judul Buku : Ath-Thoriq ila al-Jama’atil Umm ‘Ilmun wa ‘Amalus Salafi

Penulis : Asy-Syaikh ‘Utsman ‘Abdus Salam Nuh

Penerbit : Maktabah Darul Manar lin Nasyr.

Cetakan : ke-2, 1412 H/1992 M.

Jumlah halaman : 192 halaman

Ulasan Singkat :

Buku yang anda di hadapan anda ini termasuk buku yang langka, karena untuk mencari cetakan terbarunya adalah cukup sulit. Untuk mendapatkan buku ini, saya harus bergerilya bertanya kepada setiap ustadz yang saya kenal apakah memiliki buku ini. Alhamdulillah, setelah pencarian yang tidak begitu lama, akhirnya saya mendapatkan buku ini dari tangan Ustadziy al-Fadhil, Abu Suhaib Salim ‘Ali Ghonim hafizhahullahu, salah satu staf pengajar Ma’had Ali Al-Irsyad as-Salafi Surabaya.

Di halaman depan buku ini, beliau –Ustadz Salim- sebagaimana kebanyakan orang lainnya, memberikan nama pemilik dan tanggal beliau mendapatkan buku ini. Di situ tertulis, Makkah, 21/9/1412, waktu dimana beliau masih belajar di Universitas Islam Madinah.

Saya mengetahui buku ini pertama kali adalah setelah saya diberi terjemahan buku ini oleh saudara senior saya yang mulia –juga atasan saya- yaitu al-Akh al-Karim Abu Karimah Bahalwan. Buku terjemahan tersebut masih dalam bentuk fotokopian manuskrip yang belum tercetak. Beliau memberikan kepada saya supaya saya membacanya ulang dan memberikan beberapa catatan kecil.

Namun, sayangnya… beliau tidak memberikan buku aslinya kepada saya dikarenakan hilang, sehingga untuk menelaah dan memberikan catatan amatlah sulit apabila tidak dibandingkan dengan kitab aslinya. Dari sinilah akhirnya saya bergerilya mencari buku aslinya dan akhirnya saya dapatkan dari tangan Ustadz kami yang mulia, Salim ‘Ali Ghonim hafizhahullahu.

Yang lebih menarik lagi dan membuat saya lebih bersemangat di dalam menelaah buku ini adalah, seorang ulama muda dari Yaman yang produktif di dalam menulis, yaitu Syaikh Abu ‘Abdis Salam bin Qosim al-Husaini ar-Raimi, di dalam bukunya yang bermanfaat, Irsyadul Bariyyah ila Syar’iyyatil Intisab lis Salafiyyati wa Dahdhu asy-Syubahi al-Bid’iyyati, yang ditaqdim oleh Fadhilatusy Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy rahimahullahu turut menukil buku ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm ini sebagai salah satu referensi beliau di dalam menjawab syubhat Ikhwanul Muslimin.

Qodarullah, di dalam CD kumpulan kutub hasil download dari Maktabah as-Sahab as-Salafiyyah (http://www.sahab.org) yang saya peroleh dari al-Akh al-Ghurahy, ketika saya ‘bongkar-bongkar’ isinya, ternyata ada sebuah judul yang membuat perhatian saya tertuju, yaitu ada sebuah buku yang berjudul Tahdzib Kitab ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm. [Bisa didownload di Markaz Download Abu Salma] Namun sayangnya, di dalam buku itu tidak jelas disebutkan siapa yang mentahdzib isi buku ini.

Apa isi buku ini? Bagi yang ingin mengetahui isi buku ini dapat mengacu pada daftar isi buku yang telah saya turunkan pada artikel “Koreksi Total Manhaj Ikhwanul Muslimin” bagian 1, di Maktabah Abu Salma [silakan rujuk di web ini]. Secara garis besar, buku ini adalah buku yang bermanfaat, ringkas dan padat pada tiap judul pembahasannya. Kelebihannya, penulis di dalam buku ini membagi bab atau sub judulnya sangat banyak sekali, dan tiap sub judul, pembahasannya tidak terlalu panjang dan tidak bertele-tele sehingga tidak bosan ketika membacanya.

Di samping itu, walau terkesan kurang sistematis dan lompat-lompat dari pembahasan satu ke pembahasan lainnya –yang menurut saya ini merupakan suatu kelebihan tersendiri-, menyebabkan pembaca buku ini merasa tidak merasa bosan dan bersemangat di dalam menelaahnya. Apalagi penulis di dalam menukil ucapan para pembesar tokoh Ikhwanul Muslimin ini senantiasa memberikan rujukan dan referensi yang jelas.

Sebagaimana di dalam judul, ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm, jalan menuju jama’ah induk, penulis sebenarnya menyeru para aktivis dakwah terutama ikhwanul muslimin untuk bersatu di atas jama’ah induk dan menasehati akan kesalahan-kesalahan dan penyimpangannya. Penulis juga memiliki gaya bahasa yang cenderung sopan dan beradab, tanpa melibatkan kata-kata yang terkesan memaki-maki dan mencela.

Bahkan penulis menunjukkan bahwa ternyata beberapa pembesar Ikhwanul Muslimin-lah yang senang menghujat dan mencela para aktivis dakwah salafiyyah. Khususnya masalah ini beliau bahas di dalam membantah perkataan Ustadz Isma’il asy-Syathi, pimpinan redaksi majalah Al-Mujtama’ yang menuduh dakwah salafiyah sebagai dakwah madrasah aliran ekor keledai sulthan (penguasa) dan bahkan menuduh Syaikh Hamid al-Faqi rahimahullahu, pendiri Jum’iyah Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah di Mesir dengan tuduhan palsu dan tak berbukti.

Kelebihan lainnya lagi di dalam masalah ini, adalah penulis adalah orang yang terjun ke medan dakwah dan jihad, baik di Palestina maupun di Afghanistan. Bahkan penulis menggambarkan bagaimana intrik dan pertikaian di kalangan mujahidin yang terpecah-pecah menjadi berfaksi-faksi. Beliau juga menunjukkan hakikat jihad Syaikh Jamilurrahman al-Afghoni rahimahullahu yang peran dakwah dan jihadnya ditutup-tutupi oleh kaum hizbiyyin, padahal DR. ‘Abdullah Azzam sendiri –walau dengan berat hati- tidak memungkiri bahwa Syaikh Jamilurrahman-lah motor penggerak jihad pertama kali di Afghanistan melalui wilayah yang dikuasainya di Kunar, walaupun DR. ‘Abdullah Azzam tidak menyebutkan nama beliau.

Namun, ada beberapa catatan penting yang perlu diberikan di dalam buku ini, sebagaimana di dalam tahdzib-nya, pentahdzib mengatakan :

Sesungguhnya tahdzib buku yang bermanfaat ini, ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm, dan apabila dibandingkan antara tahdzib ini dan buku aslinya, maka akan didapatkan adanya beberapa perbedaan, sebabnya adalah diantara salah satu sebab berikut ini :

  1. Aku berbeda pendapat dengan penulis dalam beberapa perkara maka aku hilangkan masalah tersebut.

  2. Atau aku temukan perkataan yang tidak ada sokongannya maka juga aku hilangkan.

  3. Dan terkadang aku ragu apakah aku akan menghapuskannya ataukah meninggalkannya, maka aku tinggalkan sebagaimana keadaannya.

Demikianlah kata pentahdzib buku ini –walaupun tidak disebutkan siapa yang mentahdzibnya-, namun memang benar, ada beberapa hal yang perlu dikoreksi atau diluruskan dalam beberapa pembahasan buku beliau ini…

Diantaranya adalah :

  1. Beliau lebih cenderung menyatakan bahwa pemimpin kaum muslimin di beberapa Negeri Islam adalah telah murtad dan kafir, sebagaimana Mesir saat itu yang dipimpin oleh Abdun Nashir dan beberapa Negara lainnya. Sehingga beliau lebih cenderung memperbolehkan mengangkat senjata melawan mereka –walaupun beliau mensyaratkan apabila terpenuhi syarat-syaratnya.-

  2. Beliau menyatakan bahwa jihad menentang penguasa saat ini adalah masih khilaf diantara para ulama dikarenakan situasi dan kondisi yang belum memungkinkan, namun mereka semua bersepakat bahwa apabila terpenuhi syarat maka hukumnya wajib.

Dan ada beberapa poin lagi yang sangat sedikit apabila dibandingkan dengan manfaat dan mashlahat dari buku ini. Apabila melihat latar belakang penulis yang aktif di medan jihad dan menuntut ilmu dari para ulama mujahidin salafiyyin, maka apa yang beliau sebutkan di atas adalah tashowwur (gambaran) yang beliau dapatkan dari pemahaman beliau yang mana apabila diluruskan dan didiskusikan niscaya beliau akan kembali kepada al-Haq.

Yang menunjukkan hal ini adalah beliau di dalam beberapa bab awal membela salafiyyin dari syubhat tuduhan “ekor keledai penguasa”, beliau membantah ucapan Sayyid Quthb yang menyatakan bahwa mendoakan kebaikan bagi penguasa sama dengan mendoakan para thoghut yang mendakwakan hak tasyri’, maka sama saja ia mendoakan kekafiran dan hal ini termasuk kafir. Maka penulis membantah hal ini di dalam bab Ikhwanunaa yattahimuna bil kufri [Al-Ikhwan –apabila disebut ikhwanuna maka maksudnya adalah al-Ikhwan, hal ini tampak pada pembahasan-pembahasan sebelum dan setelahnya- menuduh kami dengan kekufuran].

Secara garis besar buku ini adalah buku yang bermanfaat dan pokok aqidah penulis buku ini adalah aqidah salafiyyah, baik dalam masalah tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma’wa shifat. Manhaj beliau adalah manhaj salaf di dalam dakwah yang mendahulukan tauhid, mengkritik fiqhul waqi’, ghozwul fikri, meluruskan jihad dan membela hak dan kehormatan ulama salafiyyin. Juga bantahan dan koreksi beliau terhadap manhaj dan aqidah Ikhwanul Muslimin yang yang layak untuk ditelaah yang beliau jabarkan dengan gamblang dan ilmiah.

Wal Hashil, menelaah buku ini insya Alloh akan memberikan kita faidah yang sarat ilmu. Dari banyaknya buku bantahan terhadap manhaj dan dakwah Ikhwanul Muslimin, tampaknya buku ini yang cukup ‘nikmat’ dan ‘mudah’ untuk ditelaah dan difahami. Allohu a’lam.

Semoga Alloh merahmati penulisnya apabila beliau telah meninggal dunia dan semoga Alloh menjaga diri beliau apabila masih hidup.


 Comments 3 comments

  • abdussalam says:

    bagus perbanyak resensinya seperti ini [akhy] abu salma.
    sukron.

  • ibnumuflih says:

    assalamu`alaikum .. abu salma , apakah buku ini dah di terjemahkan kdlm bhs indonesia oleh penerbit indonesia ?? .kalau memang udah ada di terjemahkan tlng beri tahu apa nama penerbit ktb nya dan tajuk sekaligus.

    Wa’alaikumus salam warohmatullahi wabarokatuh…
    Setahu ana belum, namun dulu sudah sempat hampir diterbitkan, namun ana kurang tahu karena alasan apakah akhirnya tidak jadi diterbitkan. Mungkin ke depan akan ada yang telah sempurna menterjemahkannya dan menerbitkannya. Semoga…

  • ibnu zubayr says:

    [akhy].. ana merasa kesusahan belajar bahasa ‘arob bahkan sering dihinggapi rasa malas/bosen lantaran gak faham2,padahal ana lebih nejoy jika belajar bhs inggris, bukankah bahasa ‘arob dipilih Alloh sbg bhs al Qur’an karena kemudahan2nya. Setelah sering2 “nongkrong” di blog antum, ana minta saran ‘n motivasi bagaimana agar ana bisa menguasai bhs ‘arob, tidak ada niat laen semata2 agar bisa lebih mudah memahami Islam. tolong buku2 referensi yang cocok utk dibaca. oia, ana seorang kantoran, jadi gak bisa se-intensif santri.. afwan ya 🙂 jadi konsultasi nech!

    Sebenarnya bahasa Arab itu tidak sesulit seperti yang dibayangkan. Ana juga awalnya kesulitan di dalam belajar Bahasa Arab, namun karena di SD ana sudah pernah belajar jadi yang tidak sulit-2 amat jadinya. Sebenarnya semua apabila sudah diniati insya Alloh segala penghalang akan bisa kita lalui dan lewati. Yang penting ada azzam (keinginan yang kuat). Kemudian carilah guru yang cocok dengan gaya belajar antum, maksudnya yang mudah memahamkan. Ana sendiri juga masih belajar dan sering merujuk ke kamus apabila membaca sebuah buku. Ana juga pekerja kantoran yang juga rada sibuk dan juga tidak seintensif santri. Usulan ana, apabila ada libur pekanan atau libur lainnya, coba antum cari ikhwan atau ustadz yang bisa mengajari antum bahasa Arab. Yang penting rutin akh… itu kuncinya, walaupun setiap minggu. Karena bahasa apabila ditinggalkan, maka akan mudah sirna, hilang dan lenyap….

  • Silakan berikan tanggapan...

    %d bloggers like this: