KENAPA ALERGI DENGAN SALAFI ?!

 Nov, 13 - 2006   3 comments

 KENAPA ALERGI DENGAN SALAFI ?!

Dialog bersama Kyai Jaidi

(Ketua Mursyid Dakwah PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah)

 

Oleh :

Ustadz Abu Abdirrahman Abdurrahman bin Thayyib, Lc.

 

 

Sesungguhnya diantara metode salaf adalah membantah orang-orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunnah serta dari pemahaman salafush sholeh (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Bahkan ini merupakan tugas para ulama dan para pembawa ilmu agama ini, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

 

يَحمِلُ هَذَا العِلمَ مِن كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُه يَنفُونَ عَنهُ تَحريفَ الغَالين وَانتِحالَ المُبطِلِينَ وَتَأوِيلَ الجَاهِلِين

Artinya : “Ilmu (agama) ini dibawa oleh orang-orang yang adil (para ulama) disetiap generasi, mereka meniadakan dari (agama) ini penyimpangan orang yang ekstrim dan jalannya orang yang batil serta takwilnya orang yang jahil/bodoh” (HR.Ibnu Adi dan selainnya ).1


Imam Ahmad bin Hambal rahimahahulahu salah seorang ulama salaf ahli sunnah wal jama’ah menukil hadits diatas dan menjadikannya sebagai bagian dari muqoddimah kitab beliau “Ar-Rod ‘alal Jahmiyah waz zanaadiqoh” (Bantahan terhadap kelompok Jahmiyah dan orang-orang zindiq). Beliau rahimahullahu berkata :

“Segala puji bagi Allah yang memunculkan disetiap zaman kekosongan para rasul, penerus para ulama yang menyeru orang yang tersesat kepada petunjuk, yang bersabar atas gangguan yang menimpa mereka. Mereka hidupkan dengan Al-Qur’an orang-orang yang mati (hatinya) dan mereka terangi dengan cahaya Allah (ilmu agama) orang-orang yang buta (mata hatinya). Berapa banyak para korban pembunuhan oleh Iblis yang mereka hidupkan ?! dan berapa banyak orang yang tersesat mereka tunjukkan?! Alangkah baiknya jasa mereka terhadap manusia ! Tapi alangkah jahatnya balasan manusia terhadap mereka ! Mereka (para ulama) meniadakan dari Al-Qur’an penyimpangan orang yang ekstrim dan jalannya orang yang batil serta takwilnya orang jahil yang mengibarkan bendera bid’ah serta menyebarkan fitnah dan mereka berselisih tentang Al-Qur’an serta menyelisihi Al-Qur’an . Mereka (orang yang ekstrim/batil/jahil) bersepakat untuk meninggalkan Al-Qur’an, berbicara tentang agama Allah dan tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, mereka sering berbicara tentang hal-hal yang mutasyabih (samar-samar) untuk menipu orang-orang bodoh/awam dengan membuat kerancuan. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya orang-orang yang sesat”.

Bahkan Rasulullah sendirilah yang mencontohkan metode membantah para penyesat, seperti yang pernah beliau lakukan ketika membantah nenek moyang khowarij yaitu Dzul Khuwaishiroh At-Tamimi. Dzul Khuwaisiroh berkata kepada Nabi disaat beliau sedang membagikan harta rampasan perang setelah datang dari Hunain : “Wahai Muhammad, berbuat adillah karena engkau tidak berbuat adil !” maka Rasulullah bersabda : “Celaka engkau, siapa yang akan adil jika aku tidak adil ?!” kemudian beliau bersabda : “Akan keluar dari tulang rusuk orang ini sekelompok orang yang kalian akan meremehkan sholat kalian jika kalian bandingkan dengan sholat mereka. Dan kalian juga akan meremehkan puasa kalian jika kalian bandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya” (HR.Bukhori)

 

Dan didalam Al-Qur’an juga banyak sekali Allah membantah orang-orang yang menyimpang baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik dan selain mereka, diantaranya yang disebutkan dalam firman-Nya :

 

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

 

Artinya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS.Al-Maidah : 18) dan firman-Nya :

 

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ. وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ. قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ. الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ. أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ. إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.

 

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,” yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS.Yasin : 77-81).

 

Kalau kita perhatikan sejarah, tidak ada satu generasi pun melainkan para ulama yang hidup pada saat itu gencar melancarkan bantahan kepada para penyesat dan perongrong agama serta menyingkap kedok para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Tidak ada yang lebih membuktikan akan hal ini selain karya emas mereka seperti Ar-Rod ‘alal jahmiyah oleh Imam Ahmad (meninggal tahun 241 H), Ar-Rod ‘alal jahmiyah dan Ar-Rod ‘ala Bisyr Al-Marriisi oleh Utsman Ad-Daarimi (meninggal tahun 280 H), Ar-Rod ‘alal jahmiyah oleh Ibnu Mandah (meninggal tahun 395 H), Dzammul kalam wa ahlihi oleh Al-Harwi (meninggal tahun 481 H), Al-intishor fir roddi ‘alal mu’tazilah al-qodariyah Al-Asyror oleh Yahya bin Abil Khoir Al-‘Imrooni (meninggal tahun 558 H), Ar-rod ‘alal Akhnai, Ar-rod ‘alal manthiqiyyin, Ar-Rod ‘ala man qoola bifana-il jannah wan naar, minhaajus sunnah an-nabawiyah fii naqdi kalaamisy syiah al-qodariyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (meninggal tahun 728 H), As-Shoorim Al-Manki fir roddi ‘alas Subki oleh Ibnu Abdil Haadi (meninggal tahun 744 H), Ijtima’ juyusy Al-Islamiyah ‘ala ghozwil mu’aththilah wal jahmiyah oleh Ibnul Qoyyim (meninggal tahun 751 H), Ash-showaaiq Al-Muhriqoh ‘ala ahlil rofdhi wadh-dholaali wazzandaqoh oleh Ibnu Hajar Al-Haitami (meninggal tahun 973 H), Ta’siisut taqdiis fii kasyfi talbiis Dawud bin Jarjiis oleh Abdullah bin Abdurrohman Aba Baathiin (meninggal tahun 1282 H), Al-Asilah Al-Hidaad fi roddi syubhaati Alwi Haddaad oleh Sulaiman bin Sulaiman An-Najdi (meninggal tahun 1349H), dan masih banyak lagi.

 

Semua ini mereka lakukan dalam rangka “الدِينُ النَصِيحَةُ” Agama adalah nasehat, dan dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar seperti yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v dalam ucapan beliau : “Seorang dai yang menyeru kepada bid’ah berhak mendapatkan sangsi menurut kesepakatan kaum muslimin. Sangsinya terkadang bisa dengan membunuhnya dan terkadang dengan selain itu. Seandainya orang tersebut tidak layak diberi sangsi ataupun tidak mungkin memberinya sangsi maka yang wajib adalah memperingatkan umat dari bid’ahnya, karena ini termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya”.2


Begitu jelasnya metode salaf ini, namun sayang masih banyak orang yang alergi dengan kata “bantahan” yang dilakukan oleh para ulama dan dai salafi terhadap para penyesat umat, meskipun hal tersebut didasari oleh dalil-dalil syar’i dan bukti-bukti yang otentik, sebagaimana sebagian mereka juga alergi dengan istilah “Salafi”.

 

Diantara yang alergi dan phobi dengan salafi adalah majalah Mabadi’ edisi 4 tahun 2/2006 yang dikeluarkan oleh PP.Al-Irsyad Al-Islamiyah (terbaru). Mabadi’ dalam hal.2 mengatakan : “Kami khawatir lembaga Al-Irsyad telah digadaikan pada kelompok tertentu yang berkedok salafi. Al-Irsyad akan dijadikan kereta barang untuk memuat aqidah lain yang ongkos angkutnya telah diterima oleh mereka. Gerakan yang membahayakan Al-Irsyad secara keseluruhan.

 

Gerakan yang bekerja ala mafia dengan para sindikatnya yang menjual aqidah Al-Irsyad untuk memperkaya diri sendiri. Mereka tampil bagaikan Boss-Boss Besar berkeliling keseluruh cabang membagi-bagi hadiah dan memberi pekerjaan, seakan-akan uang dari kantong pribadinya. Padahal uang yang dibagi-bagikan itu dari hasil menjual lembaga Al-Irsyad untuk dijadikan kereta barang yang memuat misi dan aqidah lain yang berkedok salafi.”

 

Jawaban : [كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا] Artinya : “Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS.Al-Kahfi : 5).

 

Wahai mabadi’, tidakkah engkau ingat firman Allah ta’ala :

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

 

Artinya : ” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa ” (QS.Al-Hujurat : 12)

dan sabda Nabi :

 

إِيَّاكَم وَالظَنَّ فَإِنَّ الظَنَّ أَكذَبُ الحَديثِ

 

Artinya : “Hati-hatilah kalian dari berprasangka (buruk), karena prasangka tersebut adalah sedusta-dustanya ucapan” (HR.Bukhori dan Muslim).

Tahukah engkau apa itu Salafi ?! Apa aqidah mereka ?! Apakah tuduhan ini hanya berlandaskan hawa nafsu semata ?! Apakah ucapan kotor kalian diatas dikarenakan pertikaian interen organisasi hingga kalian membabi buta ?! Apakah ini semua hanya untuk mencari dukungan semata?! Engkau tidak tahu arah, tidak tahu mana yang haq dan mana yang batil bagaikan si buta yang berjalan dihutan belantara di malam yang gelap gulita.

 

Jika engkau tidak tahu tentang apa itu Salafi, silahkan baca dan renungkan rubrik “Mengapa harus Salafi ?” Apabila engkau belum tahu aqidah Salafi, bacalah ushuluts tsalasah, kasyfusy syubhat dan kitabut tauhid oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab v, Aqidah Wasitiyah, Tadmuriyah dan Hamawiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v, Aqidah Thohawiyah beserta syarah Imam Ibnu Abil ‘izzi Al-Hanafi v, Ushulus sunnah oleh Imam Ahmad v, Syarhus sunnah oleh Imam Al-Barbahari v dan lain sebagianya. Kitab-kitab tersebut diatas memenuhi kajian-kajian Salafi sejak dulu sampai detik ini.

 

Jika Mabadi’ benci dan alergi dengan aqidah salafi yang termuat dalam kitab-kitab diatas, maka apa aqidah kalian ? Dakwah Salafi diantara cirinya sebagaimana yang telah disebutkan dalam rubrik “Mengapa harus Salafi ?” adalah Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah), disamping juga menjelaskan kepada umat tentang tauhid rububiyah dan asma’ wa sifat serta memerangi syirik dan bid’ah. Dan bukankah hal ini juga didakwahkan oleh Syaikh Ahmad Surkati seperti yang kalian cantumkan pada hal.19 ?! Mengapa kalian tidak alergi dengan Syaikh Ahmad Surkati seperti kalian alergi dengan Salafi ?! Apakah karena beliau adalah pencetus organisasi dan pembesar kalian ?! Berpikirlah dahulu sebelum kalian berbicara dan menuduh !!!

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS.An-Nisa’ : 43).

 

Masuknya dakwah Salafiyah kedalam sebuah organisasi seperti Al-Irsyad, sebenarnya adalah anugrah yang selayaknya disyukuri bukan malah dimusuhi dan dibenci. Dakwah Salafiyah mengingatkan kalian (Irsyadiyin) kepada ajaran Islam yang murni, ajaran salafush sholeh yang juga diserukan oleh pendiri kalian. Dakwah Salafiyah ingin memperbaiki aqidah, ibadah serta metode anak cabang kalian yang sudah rapuh dan menyimpang. Janganlah kalian korbankan kebenaran hanya karena memperebutkan kekuasaan serta bisikan setan !!!

 

Tidak cukup sampai disini saja celaan-celaan serta tuduhan batil kepada dakwah salafiyah yang dilakukan oleh Mabadi’. Seorang kyai yang bernama KH.Abdullah Al-Jaidi (ketua majelis dakwah PP.Al-Irsyad Al-Islamiyah) ikut andil pula dalam menabuh genderang perang dengan dakwah salafiyah lewat hujatan, tuduhan yang membabi buta serta mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang batil di hal.31-33.

 

Oleh karena itulah dengan meminta pertolongan dan taufiq-Nya kita bersama-sama akan menyingkap sebagian kerancuan, kebatilan serta kejahilan sang Kyai Al-Jaidi. Tapi sebelumnya mohon ma’af kepada para pembaca kalau dalam bantahan ini terdapat kata-kata pahit dan pedas, tapi insya Allah mengandung obat dan penawar bagi racun syubhat. [وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا] Artinya : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS.Asy-Syuro : 40)

 

Pak Kyai berkata : “Namun yang menarik perhatian kini, adanya kecenderungan bahwa pengertian salaf dibatasi pada faham keislaman yang hanya dititik beratkan pada pembahasan tauhid asma dan sifat, menolak bid’ah, khurafat dan khilafiah saja. Seakan-akan umat Islam tak punya masalah lain kecuali permasalahan itu. Sepertinya belum sah kesalafan seseorang kalau belum berkutat pada isu tersebut. Sekarang yang banyak terjadi didalam perhatian mereka pada masalah khilafiah, kurang bertimbang pada dampak negative yang lebih besar, yaitu dikaburkannya sumuliyatul (keutuhan) Islam sebagai hakekat manhaj (metode salaf)”.

 

Salafi menjawab : Dakwah salafiyah adalah seruan kepada ajaran Islam secara keseluruhan baik aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, dakwah, jihad, politik dan lain sebagainya dengan berlandaskan kepada Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman salafush sholeh. Hal ini merupakan perwujudan firman Allah :

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

 

Artinya : ” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS.Al-Baqarah : 208).

 

Namun perlu diketahui bahwa Islam memiliki prioritas dalam berdakwah seperti yang dicontohkan oleh Nabi . Tiga belas tahun lamanya beliau di Mekah hanya berdakwah kepada tauhid hingga sebelum beliau meninggal dunia beliau tetap memprioritaskan dakwah kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan, bid’ah dan khurofat. Dari Aisyah –rodhiyallahu ‘anha- dan Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah ketika akan meninggal dunia menutupkan kain pakaian ke wajah beliau dan jika merasa sesak beliau membukanya seraya bersabda : “Laknat Allah bagi orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid”. (HR.Bukhori dan Muslim). Bahkan Ibnul Qoyyim v mengatakan bahwa Al-Qur’an semuanya tauhid.3 Tapi hal ini bukan berarti meniadakan yang lainnya dari permasalahan agama dan umat ini. Dan kalau pak Kyai mau membuka mata dan membaca kitab-kitab para salaf seperti yang disebutkan sebagiannya diatas maka anda akan mengetahui bahwa apa yang didakwahkan oleh salafi sekarang ini tidak lain hanyalah meneruskan tongkat estafet para ulama salaf dalam berdakwah. Jika pak Kyai membenci dakwah salafiyah/salafi berarti pak Kyai secara sadar atau tidak telah membenci pula dakwah ulama salaf bahkan dakwah Syaikh Surkati (pendirimu) yang tercantum dalam karya-karya beliau seperti Al-Masaailuts tsalaats dan yang lainnya. Padahal engkau telah mengatakan : “Generasi salaf ini bukan sekedar pengakuan para ulama, melainkan telah diisyaratkan oleh hadits Rasulullah saw4 : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya dan orang-orang sesudahnya lagi” (HR.Bukhory).

Demikianlah kebatilan yang saling bertolak belakang/bertentangan yang terdapat pada ucapan pak Kyai.

 

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

 

Artinya : ” Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS.An-Nisa’ : 82).

 

Kemudian apa yang engkau maksud dengan khilafiah diatas ? Apakah membicarakan bid’ah dan syirik itu dianggap khilafiah dan dilarang ? Coba jelaskan kepada kami secara detail apa yang pak Kyai maksud dengan khilafiah dan jangan hanya disebutkan secara global ! Imam Ibnul Qoyyim v berkata dalam qosidah nuniyahnya :

 

فَعَلَيكَ بِالتَفصِيلِ وَالتَبيِينِ فَال إِطلاَقُ وَالإِجمَالُ دُونَ بَيَانِ

قَد أَفسَدَ هَذَا الوُجُودَ وَخَبَّطا ال أَذهَانَ وَالآراءَ كُلَّ زَمَانِ

Haruslah engkau memperinci dan menjelaskan

Penjelasan global tanpa perincian

Telah merusak alam ini dan membingungkan

Akal pikiran setiap zaman

 

Diantara hal yang membuat kita prihatin kepada pak Kyai adalah penamaan beliau terhadap pembahasan tauhid asma’ dan sifat, bid’ah dan khurafat dengan kata “Isu”. Saya tidak tahu apakah ini salah cetak atau memang inikah figure sang Kyai ?!

 

Pak Kyai berkata : “Mengapa mereka yang mengaku sebagai salafi yang mengikuti manhaj dan fikroh Abdul Wahab, namun anti terhadap organisasi (tanzim), juga dalam pemahaman aqidah secara partial (yaitu sebatas Tauhid Asma, sifat serta pemberantasan bid’ah dan khurafat saja) sekalipun tidak dinafikan bahwa hal ini juga sangat penting. Sesungguhnya mereka telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya.”

Salafi menjawab : Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa salafi adalah pengikut manhaj salafush sholeh dan bukan pengikut perorangan atau individu yang bisa salah dan bisa benar serta tidak pernah salafi fanatik kepada seorangpun selain Rasul yang maksum. Salafi mengikuti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab v karena beliau sesuai dengan manhaj salafuh sholeh terutama dalam masalah aqidah. Maka siapakah yang telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya ? Apakah pak Kyai pernah mempelajari, mengerti dan mengajarkan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab seperti Ushuluts tsalatsah, kasyfusy syubhat, kitabut tauhid dan yang lainnya ?

Pak Kyai telah mengakui sendiri disini bahwa pembahasan tauhid asma, sifat, pemberantasan bid’ah dan khurofat adalah hal yang juga sangat penting, tapi kenapa pak Kyai menyudutkan salafi dalam hal ini ? Mengapa pak Kyai plan-plin ? Sadarkah pak Kyai akan apa yang bapak bicarakan ini ? Bukankah pak Kyai tahu bahwa salafi mengajarkan kepada umat semua masalah agama ini ? coba pak Kyai baca majalah-majalah salafi seperti majalah Al-Furqon (Gresik), majalah As-Sunnah (Solo), Adz-Dzakhiroh dan lain-lain atau bisa hadir juga dipengajian salafi agar pak Kyai tidak menuduh seenaknya tanpa bukti !!!

 

إِن كُنتَ لاَ تَدرِي فَتِلكَ مُصِيبَةٌ وَإِن كُنتَ تَدرِي فَالمُصِيبَةُ أَعظَمُ

 

Jika engkau tidak tahu maka ini musibah

Dan apabila engkau sudah tahu maka musibahnya lebih parah

 

Adapun masalah organisasi, salafi tidak pernah anti selama organisasi tersebut dibangun diatas at-ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong diatas kebaikan dan ketakwaan) bukan diatas hizbiyah (fanatic golongan) yang mengukur kebenaran dengan organisasi. Salafi tidak menjadikan organisasi sebagai tolak ukur kebenaran. Salafi hanya menjadikan organisasi sebagai wadah untuk berdakwah kepada Al-Qur’an dan sunnah serta metode salafush sholeh. Oleh karenanya, jika organisasi tersebut tidak menginginkan dakwah salafi lagi maka salafi akan dengan lapang dada meninggalkan organisasi tersebut dan akan tetap berdakwah seperti semula. Dakwah salafiyah tidak disempitkan oleh ruang dan waktu maupun organisasi.

 

Pak Kyai berkata : “Pemahaman keislaman yang dianut Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut, sama dengan yang dipahami oleh Ibnu Taimiyah dan Hasan Albanna”.

 

Salafi menjawab : Apakah pak Kyai berbicara seperti ini dalam keadaan sadar atau bermimpi ? Apakah pak Kyai sedang mengingau ? Pernahkah pak Kyai membaca buku-buku mereka dan mengerti apa isinya ? Tahukah pak Kyai siapa Hasan Albanna sebenarnya ? Bukankah Hasan Albanna sendiri mengaku bahwa dirinya adalah seorang sufi hasofi ?5 Bukankah Said Hawa murid Hasan Albanna sendiri yang lebih tahu tentang gurunya mengakui Hasan Albanna sebagai seorang sufi ?6 Bukankah telah tersohor ucapan Hasan Albanna bahwa Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyah, tarekat sunniyah dan hakikat sufiyah ? 7 Bagaimana mungkin bisa bersatu antara haq dan batil, antara tauhid dan syirik, antara sunnah dan bid’ah, antara salafi sunni dengan sufi ?

 

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

” Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. “ (QS.Al-Baqarah : 42)

رَاحَت مُشَرِّقَة وَرُحتُ مُغَرِّبًا فَمَتَى لِقَاءُ مُشَرِّقٍ وَمُغَرِّبِ

 

Dia berjalan ke arah timur dan aku berjalan ke arah barat

Kapankah akan bertemu yang ke timur dengan yang ke barat ?!

 

Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (seorang anggota kibarul ulama Saudi Arabiah) –hafidzahullahu- pernah ditanya : Apakah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab merupakan dakwah Islamiyah Hizbiyah seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Tabligh ? Apa nasehat anda bagi orang yang mengatakan seperti ini dan menyebarluaskannya dalam buku-buku ? Beliau menjawab : “Sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab v diatas manhaj salafush sholeh baik dalam bidang ushul/pokok (agama) maupun cabangnya. Dakwah beliau tidak lain hanyalah menelusuri metode ahlu sunnah baik yang terdahulu maupun yang terakhir dan bukan sebuah hizbiyah/kelompok. Adapun Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Tabligh dan yang lainnya maka kita seru mereka semua untuk mengembalikan metode mereka kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta petunjuk dan pemahaman salafush sholeh serta menimbangnya dengan hal tersebut. Jika sesuai maka –alhamdulillah- dan jika menyelisihi maka harus diluruskan.8


Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi –hafidzahullahu- menambahkan atas ucapan Syaikh Sholeh diatas dengan ucapan beliau : “Kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab v masih ada dihadapan kita dan isinya penuh dengan pembahasan aqidah shohihah (tauhid) yang merupakan hak Allah atas hamba-Nya dan sekaligus penuh dengan bantahan terhadap yang menyelisihi tauhid. Sejarah emas beliau dalam menyeru manusia kepada ibadah hanya kepada Allah saja serta memerangi kesyirikan (sudah diketahui oleh semua orang-pent) dan itulah dakwah para Rasul. Inilah dakwah Imam Al-Mujaddid/pembaharu yang Allah hidupkan dengannya negri ini dan kita –alhamdulillah- masih merasakan manisnya dakwah beliau yang mubarokah.

 

Adapun dakwah Ikhwanul muslimin, maka kita perlu bertanya, apakah pendirinya (Hasan Albanna) menulis suatu kitab tentang tauhid yang menjelaskan aqidah shohihah ataupun muridnya sampai hari ini ? Apakah Hasan Albanna menyeru manusia untuk beribdah hanya kepada Allah saja dan memerangi kesyirikan dengan segala macam bentuknya ? Apakah dia pernah menghilangkan kubah-kubah (yang dibangun diatas kuburan-pent) ? Ataukah pernah dia menghancurkan pesarean-pesarean (makam-makam yang dikeramatkan) serta melarang dari tawassul kepada kuburan-kuburan para wali dan orang-orang sholeh ? Dan apakah dia telah menghidupkan sunnah Nabi ?

 

Semua pertanyaan ini tidak akan ada jawabannya, bahkan jawaban orang yang tahu aqidah salafiyah lalu membandingkannya dengan dakwah Ikhwanul muslimin yang dipelopori oleh pendirinya Hasan Albanna serta membaca bukunya (dia akan tahu) bahwa Ikhwanul muslimin tidak berada diatas dakwah kepada pemberantasan syirik dan bid’ah. Hasan Albanna berkata : ” Aku mengambil tarekat Hasofiyah Syadziliyah darinya (Sayyid Abdul Wahab seorang pemberi rekomendasi dalam tarekat Hasofiyah) “.9 Dia juga berkata : “Aku masih teringat bahwa kebiasaan kami dulu adalah pergi berombongan ke acara peringatan maulid Nabi setelah hadroh setiap malam, mulai tanggal 1-12 rabiul awal. Kami secara bersama-sama menyenandungkan qosidah dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan.10 Diantara bunyi qosidah tersebut adalah

 

هَدَا الحَبيبُ مَعَ الأَحبَاب قَد حَضَرَ وَسَامَحَ الكُل فيما قد مضى وجرى

 

Inilah Al-Habib (Rasul ) telah hadir bersama orang-orang yang dicintainya

Beliau mengampuni semuanya dari dosa yang telah lalu dan lampau

 

Dan didalam kitab “Majmu’ rosail Hasan Albanna” hal. 392 dia berkata : “Doa kepada Allah apabila diselingi tawassul dengan salah satu makhluk-Nya merupakan masalah khilafiyah11 yang berkaitan dengan cara berdoa dan bukan termasuk masalah aqidah”.

 

Syaikh Jamal berkata : Semua ini tidak perlu banyak dikomentari. Kesimpulannya bahwa Hasan Albanna adalah seorang sufi hasofi, pengkultus kuburan. Dia telah memberikan sifat Al-Kholik (Allah) kepada Nabi yaitu sifat pengampunan dan tidak tersisa bagi Allah sedikitpun, Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

 

Dari penjelasan diatas, masih adakah orang yang memiliki sedikit ilmu atau akal yang ingin menyamakan antara dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan dakwah pembaharu bidah mereka (Hasan Albanna) ? Sungguh berbeda antara emas dan tanah.

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz v pernah ditanya tentang Ikhwanul muslimin di majalah “Al-Majallah” edisi 806 tertanggal 25/2/1416 H hal.24. Inilah soal dan jawaban beliau :

 

Pertanyaan : Wahai Samahatus syaikh, gerakan Ikhwanul muslimin telah masuk ke Saudi Arabiah sejak beberapa waktu yang lalu dan memiliki kegiatan di tengah para penuntut ilmu. Bagaimana pendapat anda tentang gerakan mereka ini ? Seberapa besar kesamaan mereka dengan manhaj ahlu sunnah wal jama’ah ?

 

Jawaban : “Gerakan Ikhwanul muslimin banyak dikritik/dibantah oleh para ulama karena ketidak adanya kesungguhan mereka dalam menyeru umat kepada tauhid serta memberantas kesyirikan dan bid’ah. Mereka memiliki metode tersendiri dan diantara kekurangannya adalah tidak adanya kesungguhan dalam menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah dalam beribadah) serta kepada aqidah shohihah yang dipegang oleh ahlu sunnah wal jama’ah.

 

Selayaknya bagi Ikhwanul muslimin untuk berpegang teguh dengan dakwah salafiyah yaitu dakwah kepada tauhidullah, mengingkari ibadah kepada kuburan-kuburan keramat, para wali yang telah mati atau beritighotsah kepada orang-orang yang telah dikubur seperti Hasan, Husein, Badawi dan selainnya. Wajib bagi mereka untuk menfokuskan dakwah kepada makna laa ilaha illallahu yang merupakan pondasi Islam serta seruan pertama Nabi ketika di kota Mekah. Banyak sekali para ulama yang mengkritik mereka dalam masalah ini. Begitu juga mereka mengkritik Ikhwanul muslimin tentang ketidak adanya keperdulian mereka terhadap sunnah/hadits serta metode salaf dalam hukum-hukum syariat. Dan masih banyak lagi yang pernah saya dengar dari kritikan-kritikan ulama terhadap mereka. Semoga Allah memberi mereka hidayah.”12


Pak Kyai berkata : “Tentang kembali ke salaf, Imam Syahid Hassan Albanna berpesan bahwa metode salaf adalah aula bil ittiba’ (lebih utama diikuti). Kaum salaf kata Albanna, secara akal lebih cerdas, secara hati lebih luas, secara bahasa lebih paham, secara jarak lebih dekat dengan Rasulullah. Itulah keutamaan salaf.”

 

Salafi menjawab : Dimanakah Hasan Albanna mengatakan seperti ini ? Kalau toh benar ini adalah ucapannya, lalu mana bukti kongkritnya ? apakah pernah salaf merayakan maulid, mengkultuskan kuburan serta bertarekat sufi hasofi ?

 

[قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ]

Artinya : Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.” (QS.Al-Baqoroh : 111)

 

Sesungguhnya diantara aqidah ahlu sunnah wal jama’ah sejak dahulu sampai sekarang yang banyak diselisihi oleh para aktivis harokah/gerakan dan juga oleh pak Kyai adalah pemberian gelar Syahid kepada tokoh-tokoh idola mereka seperti yang dikatakan oleh pak Kyai diatas (Syahid Hassan Albanna) atau Asy-Syahid Sayyid Quttub, Asy-Syahid Abdullah Azzam dan lain-lain. Tidakkah mereka pernah membaca shohih Bukhori terutama kitab Jihad was sair di bab “laa yuqoolu fulaanun syahiid” (Tidak boleh mengatakan fulan itu syahid) ?! Ibnu Hajar Al-Asqolaani v menjelaskan ucapan imam Bukhori diatas dengan ucapan beliau : “Maksudnya (tidak boleh) memastikan bahwa si fulan itu Syahid melainkan kalau ada wahyu yang turun. Seolah-olah Imam Bukhori mengisyaratkan kepada hadits Umar yang mengatakan dalam khutbah beliau : “Kalian mengatakan dalam peperangan, si fulan itu syahid atau si fulan meninggal dalam keadaan syahid…Ingatlah, jangan kalian mengatakan seperti itu akan tetapi katakan (secara umum) seperti yang Rasulullah sabdakan : “Barangsiapa yang mati atau terbunuh dijalan Allah maka dia syahid“.” (Hadits ini derajatnya hasan diriwayatkan oleh Ahmad, Said bin Manshur dan selain keduanya)”.13

 

Perlu juga kita pertanyakan, siapakah yang dimaksud dengan salaf menurut Hasan Albanna ? karena sebagian orang yang getol melakukan bid’ah seperti perayaan maulid nabi juga memiliki semboyan “Salaf pembimbingku”14, tapi maksudnya adalah nenek moyang mereka dari kalangan sufi.

 

Pak Kyai berkata : “Kemudian yang menjadi masalah kini, terdapat sekelompok yang menisbatkan dirinya sebagai satu-satunya pewaris salaf, adapun segala sesuatu yang berbeda pendapat dengannya berarti bukan lagi tergolong dalam Thaifah Al-Manshuroh. Dalam kelompok ini juga terdapat orang-orang yang diakui sebagai ulama-ulama kondang yang menurut fatwa, pendapat dan analisanya, menyimpulkan selain golongannya adalah aliran bid’ah”.

 

Salafi menjawab : Tolong tunjukkan buktinya bahwa salafi mengatakan seperti yang pak Kyai tuduhkan ini ? Tidak takutkah pak Kyai dengan ancaman Allah ta’ala :

 

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

 

Artinya : “ (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS.An-Nuur : 15). Nabi juga bersabda :

 

هَل يَكُب النَاسَ عَلَى وجوههم في النار إلا حصائد ألسنتهم

 

Artinya : “Bukankah yang menelungkupkan manusia diatas wajah mereka di neraka adalah hasil ucapan lisan mereka ?!” (HR.Tirmidzi)

Siapakah yang pak Kyai maksud dengan “ulama-ulama kondang” diatas ? Tolong sebutkan nama-nama mereka dan buktikan bahwa tuduhan ini benar-benar nyata dan bukan hasil rekayasa ?

Salafi hanya mengatakan barangsiapa yang menyimpang dari jalannya Rasul serta metode salafush sholeh khususnya dalam masalah aqidah maka dialah orang yang tersesat dan bukan termasuk Thoifah Manshuroh, Firqotun najiyah ataupun Ahlu sunnah wal jama’ah. Dan ini salafi warisi dari Nabi serta dari para ulama salaf. Nabi bersabda :

 

مَن رَغبَ عَن سُنتي فَلَيسَ مني

Artinya : “Barangsiapa yang tidak suka sunnahku (metodeku) maka dia bukan dari golonganku” (HR.Bukhori).

 

Dan beliau juga bersabda :

 

تَفَرَّقَت اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ فِرقَةً أَوثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً, وَالنَصَارَى مِثلَ ذَلِكَ, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ فِرقَةً) وَفِي رِوَايَةٍ (إِنَّ بَنِي إِسرَائِيلَ تَفَرَّقَت عَلَى ثِنتَينِ وَسَبعِينَ مِلَّةً, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ مِلَّةً, كُلُّهُم فِي النَارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَن هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : (مَا أَنَا عَلَيهِ وَأَصحَابِي)

 

Artinya : “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan” didalam riwayat lain disebutkan : “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah ? beliau menjawab : (Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Imam Al-Barbahaari seorang imam ahlu sunnah dan pembasmi bid’ah v berkata dalam kitab Syarhus sunnah : “Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah maka ketahuilah bahwa dia pemilik ucapan jelek dan pengekor hawa nafsu”. Beliau juga berkata : “Apabila anda mendengar seseorang mencela atsar (hadits) atau menolak atsar atau menginginkan selain hadits maka pertanyakan keislamannya dan jangan diragukan lagi bahwa dia adalah pengekor hawa nafsu dan mubtadi'”. Beliau juga berkata : “Apabila anda melihat seseorang melaknat pemimpin (kaum muslimin) maka ketahuilah dia adalah pengekor hawa nafsu”.

Qutaibah bin Sa’id v berkata : “Apabila anda melihat seseorang mencintai ahli hadits seperti Yahya bin Sa’id, Abdurrohman bin Mahdi, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih dan yang lainnya maka dia berada diatas sunnah. Dan baransiapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah dia adalah seorang mubtadi’“.15


Imam Ahmad v berkata dalam ushulus sunnah : “Tidak boleh bagi siapapun memerangi pemimpin (kaum muslimin) ataupun memberontak kepadanya dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka dia adalah mubtadi’ dan tidak diatas sunnah atau jalan yang lurus”.16


Pak Kyai berkata : “Sikap kehidupan dan pergaulan mereka dikenal dengan spesifikasi sbb : – Mengelompok pada sesama komunitasnya sendiri (uzlah) dengan menganggap muslim yang lain bukan saudaranya. Sebagai contoh kepada selain kelompoknya mereka enggan memberi salam atau menyambut salam, bahkan memalingkan muka”.

 

Salafi menjawab : Lagi-lagi pak Kyai berbicara dengan seenaknya tanpa bukti. Dari mana pak Kyai bisa menyimpulkan bahwa salafi menganggap muslim yang lain bukan saudaranya ? Apakah pak Kyai menuduh bahwa salafi mengkafirkan saudaranya sesama muslim ? Salafi adalah orang yang paling jauh dari mengkafirkan seorang muslim. Mau bukti ? Coba pak Kyai baca buku Al-Hukmu bighoiri maa anzalallahu oleh Syaikh Kholid Al-Anbari As-Salafi–hafidzahullahu- atau bisa juga baca terjemahannya Kafirkah orang yang berhukum dengan selain hukum Allah ? atau bisa juga baca majalah Adz-Dzakhiroh edisi 11 dengan judul Begitu teganya kau kafirkan saudaramu muslim !

 

Adapun tidak memberi salam kepada seorang muslim maka tidak harus berarti orang tersebut dianggap bukan saudara (Kafir). Bukankah dahulu Nabi pernah tidak memberi salam kepada Ka’ab bin Malik dan kepada sebagian sahabatnya yang lain serta tidak mengajaknya berbicara 17? Bukankah dalam shohih Bukhori kitab Adab ada bab yang berjudul “Bolehnya menghajr/memboikot (tidak memberi salam/mengajak bicara/memalingkan muka-pent) kepada yang berbuat maksiat” dan di dalam kitab Isti’dzan ada bab “Orang yang tidak memberi salam kepada pelaku dosa dan tidak menjawab salamnya sampai dia bertobat”.

 

Menghajr dibolehkan dalam syariat selama memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan oleh para ulama. Dalam masalah hajr ini silahkan baca : Hajr Al-Mubtadi’ oleh Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid –hafidzahullahu- dan Mauqif Ahli sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa’ wal bida’ oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili –hafidzahullahu-.

 

Apakah pak Kyai dengan kesimpulan tadi telah mengadakan sensus (melihat sendiri dengan kedua mata) bahwa salafi tidak pernah memberi salam atau menjawab salam saudaranya sesama muslim ? Kalau seandainya ada diantara yang menamakan dirinya salafi namun tidak memberi salam atau menjawab salam dari saudaranya muslim tanpa alasan yang disyariatkan, maka ini adalah suatu kesalahan yang wajib untuk diluruskan tapi jangan disama ratakan dan dijadikan kesimpulan seperti yang dikatakan oleh pak Kyai ! Hal ini semisal dengan salah seorang dari kaum muslimin menjadi teroris, apakah bisa disimpulkan bahwa ciri seorang muslim itu adalah teroris ???

 

Pak Kyai berkata : “Dalam majlis taklim apabila sang penceramah bukan dari kelompoknya atau tidak berjenggot maka mereka akan meninggalkan majlis tersebut…”

 

Salafi menjawab : Salafi bukan tong sampah yang mengambil ilmu agama dari setiap orang yang mengaku sebagai ustadz atau Kyai haji atau Syaikh baik mubtadi’, orang yang bodoh atau yang menyimpang manhajnya dari manhaj salafush sholeh. Salafi bak lebah yang hanya mengambil makanannya dari yang baik saja (sari bunga).

 

Bukankah Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu dari orang yang alim saja ?! Allah berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Artinya : “maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS.Al-Anbiya’ : 7) Dan bukankah Nabi memperingatkan kita dari mengambil ilmu kepada orang bodoh atau mubtadi’ ?! Nabi bersabda :

 

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد , ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إدا لم يبق عالم اتخد الناس رؤوسا جهالا فأفتوا بغيرعلم فضلوا وأضلوا

 

Artinya : “Sesungguhya Allah tidak mencabut ilmu ini secara langsung dari para hamba-Nya akan tetapi Dia mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama hingga ketika tidak tersisa seorang alim maka manusia mengambil pemimpin dari orang-orang yang jahil, mereka berfatwa tanpa ilmu hingga sesat dan menyesatkan” (HR.Bukhori)

 

Dan Nabi juga bersabda :

من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

Artinya : “Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari al-ashoghir (orang yang bodoh atau ahli bid’ah)”. (Ash-Shohihah 695)

 

Menuntut ilmu haruslah dari orang yang berilmu dan memiliki aqidah serta metode yang benar dan jelas yaitu metode salafush sholeh dimana saja orang itu berada baik di Indonesia, Saudi Arabiah, Yordania, Yaman, Pakistan, India atau di tempat yang lainnya. Salafi membolehkan menuntut ilmu di mana saja dan dari siapa saja selama sang guru berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan as-sunnah serta pemahaman salaf. Salafi melarang untuk belajar dari orang yang bodoh, yang menyimpang aqidah dan manhajnya atau yang mengolok-ngolokkan sunnah Nabi . Dan ini adalah warisan serta wasiat ulama salaf seperti Muhammad bin Sirin v seorang tabi’in yang mulia. Beliau berkata : “Ilmu ini adalah agama itu sendiri maka lihatlah darimana kamu mengambil ilmu tersebut” dan dari ucapan beliau juga : “Dahulu para salaf (sahabat) tidak pernah bertanya tentang isnad tapi ketika terjadi fitnah, mereka bertanya : Siapa guru-gurumu ? Jika guru tersebut dari ahli sunnah maka diambil haditsnya tapi jika dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya”18


Hasan Al-Basri v dan Muhammad bin Sirin v juga mengatakan : “Jangan kalian duduk dengan pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah), dan jangan pula berdebat kusir dengan mereka serta jangan mendengar dari mereka.” 19


Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzahullahu- berkata : “Tidak boleh mengambil (ilmu agama) dari orang-orang bodoh meskipun dia mengaku pintar (Kyai, ustadz atau doctor dan lainnya-pent), tidak juga dari orang yang menyimpang aqidahnya dan tidak boleh dari ahli bid’ah meskipun menyandang gelar ulama.” 20

 

Di dalam ucapan pak Kyai diatas ada nada aneh kedengarannya yaitu (tidak berjenggot). Apakah karena pak Kyai tidak suka dengan orang yang berjenggot ? Apakah karena pak Kyai tidak laku ceramahnya dikalangan salafi karena pak Kyai tidak berjenggot seperti dalam foto di majalah ? Mengapa orang-orang Al-Irsyad (sebuah organisasi yang berasaskan Islam) yang tergambar fotonya di Mabadi’ tidak ada satu pun yang berjenggot ? Bukankah mereka semua adalah pria ? Apakah memang belum tumbuh atau sengaja membuatnya tidak tumbuh ? Tahukah mereka hukum memelihara jenggot ? Dan tahukah mereka hukum mengolok-olokkan (sunnah) memelihara jenggot ? Bukankah Nabi dan para khulafa’ rosyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah orang-orang yang berjenggot ?!21 Bukankah Nabi pernah bersabda :

خَالف المُشركين , احفُوا الشَوَارب وَأَوفوا اللحى

 

Artinya : “Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah kumis dan peliharalah jenggot” (HR.Bukhori dan Muslim)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : “Haram memotong jenggot.”22. Ibnu Abdil Bar v berkata : “Diharamkan mencukur jenggot dan tidak ada orang yang mencukurnya kecuali orang laki-laki yang banci.”23


Kemanakah semangat kalian untuk kembali ke salaf ? Apakah hal ini hanya sekedar semboyan dan kebanggaan belaka tanpa ada wujud kongkrit dalam kehidupan kalian beragama ? Maka siapakah yang telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya ? Bertobatlah kepada Allah wahai orang-orang yang suka mengolok-olok sunnah Nabi ! Takutlah kalian dari firman Allah :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

 

Artinya : ” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. “ (QS.At-Taubah : 65-66)

Kalau kalian belum bisa melaksanakan, maka perbanyaklah istighfar dan taubat kepada Allah tapi jangan kalian mengolok-olok agama Allah.

 

Pak Kyai berkata : “Semua sikap dan prilaku diatas bukanlah wujud akhlak islami yang baik, apalagi dengan mengklaim sebagai orang-orang salafi, padahal Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak dan rahmah bagi seru sekalian alam.”

 

Salafi menjawab : Ya beginilah akhir zaman, orang yang mengikuti jejak salaf dikatakan tidak berakhlak. Subhanallahu, ternyata pak Kyai pandai memutar balikkan fakta !!! Apakah pak Kyai sudah berakhlak dengan menuduh dan menfitnah salafi tanpa bukti seperti yang tertera diatas ? Berakhlakkah Mabadi’ yang bapak pimpin yang mencaci maki salafi dengan mengatakan “gerakan yang bekerja ala mafia dengan para sindikatnya…” ?! Apakah termasuk akhlak orang yang menyamakan antara ulama ahli sunnah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab) dengan orang sufi (Hasan Albanna) ?!

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Artinya : “Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS.Al-Qolam :35-36)

 

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ. وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ. وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ

 

Artinya : “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.” (QS.Fathir : 19-21).

 

Apakah mencampur adukkan antara yang haq dan batil termasuk akhlak ?! Apakah menyelisihi Nabi dengan mencukur jenggot termasuk akhlak ?!

Bukankah para Nabi sejak Nabi Nuh sampai Nabi kita Muhammad inti dakwah mereka adalah tauhid ?! Allah berfirman :

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS.An-Nahl : 36)

 

Dan fiarmannya :

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak) disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS.Al-Anbiya’ : 25)

 

Allah juga berfirman tentang inti dakwah Nuh :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

 

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan (yang hak) bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS.Al-A’roof : 59)

 

Allah juga menceritakan inti dakwah Hud :

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya : “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada (sesembahan yang hak) bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”” (QS.Al-A’roof : 65) dan masih banyak lagi ayat yang semisal dengan ini.

 

Pak Kyai berkata : “Mereka menghujat, mengecam, dan merendahkan martabat tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan tokoh pergerakan Islam terkemuka seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, Yusuf Qordhowi, Hasan Albanna, Muhammad Ghozali dll. Padahal seberapa takaran yang mereka perbuat dibandingkan dengan jasa tokoh-tokoh Islam seperti tersebut diatas.”

 

Salafi menjawab : Sebagaimana yang telah dijelaskan diawal pembahasan bahwa para ulama terdahulu ketika membantah kesalahan atau kebatilan yang disampaikan oleh orang-orang yang menyimpang manhajnya, hanyalah dalam rangka nasehat-menasehati serta amar ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar serta memperingatkan orang-orang awam dari kesalahan tersebut. Dan mereka juga ketika membantah, langsung menyebutkan nama orangnya serta kesesatannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : “Wajib memperingatkan dari bid’ah meskipun harus menyebutkan (nama) pelakunya.” 24

Abdurrohman bin Mahdi pernah menemui Imam Malik v dan disamping beliau ada seseorang yang bertanya tentang Al-Qu’ran. Lalu Imam Malik berkata : “Mungkin engkau ini termasuk teman Amru bin Ubeid, semoga Allah melaknat Amru karena dialah yang membuat bid’ah ini.”25

Demikian pula salafi ketika membantah pelaku kebatilan hanyalah untuk menyelamatkan umat dari kesesatan mereka bukan untuk mengecam, menghujat ataupun merendahkan martabat. Dan bantahan salafi tersebut didasari oleh dalil-dalil serta bukti-bukti yang nyata bukan seperti yang pak Kyai lakukan terhadap Salafi. Perlu pak Kyai ketahui bahwa jasa atau ketenaran seseorang tidak menghalangi para ulama untuk menyingkap kebatilan orang tersebut, terlebih lagi kebatilannya melebihi kebenaran atau kebaikannya. Lihatlah kisah Abdurrohman bin Muljam yang membunuh sahabat Rasul kholifah yang mulia Ali bin Abi Tholib . Abdurrohman juga memiliki jasa-jasa serta ketenaran dikalangan sahabat tapi karena dia menyimpang maka harus dihukum berat.26


1 Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi –hafidzhahullahu- murid senior ahli hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam footnote kitab “Miftah daaris sa’adah” oleh Ibnu Qoyyim rahimahullahu 1/500.

2 Majmu’ fatawa 35/414. Lihat pembahasan ini dalam kitab ” Sittu duror min ushuli ahlil atsar” oleh Syaikh Abdul Malik Romadhooni Al-Jazaairi –hafidzahullahu- point yang kelima.

3 Lihat “Fathul Majid syarhu kitabit tauhid” hal 17 oleh Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu.

4 Penulisan saw ini tidaklah sejalan dengan manhaj salaf. Lihat kembali Adz-Dzakhiroh edisi 15 hal.4-5

5 Lihat Mudzakkiroh dakwah wad daa’iyah hal 19.

6 Lihat Jaulatun fil fiqhain Hal.154.

7 Lihat Majmu’atur rosaail Hasan Albanna hal.362.

8 Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an as-ilatil manaahij al-jadiidah hal.69-73 oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan.

9 Mudzakkiroh ad-dakwah wad daa’iyah hal.24.

10 Idem hal.52.

11 Apakah ini juga yang dimaksud oleh pak Kyai tentang masalah khilafiyah ?

12 Footnote Al-Ajwibah Al-Mufiidah hal.69-72.

13 Lihat penjelasan lebih lanjut di Fathul Baari 6/110.

14 Seperti yang dikatakan oleh buletin sunni (seharusnya bid’I bukan sunni) yang pernah kita bantah pada edisi 15 hal.10.

 

15 Syarhu ushul I’tiqod ahli sunnah wal jama’ah 1/74 no.59 oleh Imam Al-Lalikai.

16 Idem 1/181.

17 HR.Bukhori.

18 Lihat Muqqoddimah Shohih Muslim dalam bab Annal Isnad Minad Diin.

19 Al-Ibanah ‘an syari’ati firqotin najiyah no.395 oleh Ibnu Baththoh Al-Akburi.

20 Al-ajwibah Al-mufidah hal.146.

21 Lihat kitab Hukmud diin fil lihya wat tadkhiin hal.26-27 oleh Syaikh Ali bin Hasan –hafidzahullahu-Dan Tahrim halqil lihya oleh Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim Al- Hambali.

22 Al-Ikhtiyaaroot Al-‘Ilmiyah hal.6

23 At-Tamhiid dalam bab “Adillatu tahriimi halqil lihya” 96.

24 Majmu fatawa 28/233.

25 Lihat pembahasan ini dalam kitab Ijma ulama ‘alal hajr wat tahdzir min ahlil ahwa’ hal.27 oleh Kholid bin Dhohawi Azh-Zhufairi.

26 Lihat pembahasannya dalam Adz-Dzakhiroh edisi 12 hal.8-9.


 Comments 3 comments

  • musafirlaut says:

    Semoga Alloh SWT senantiasa meluruskan kekeliruan kita dalam memahami dien ini dan mengampuni dosa-dosa kita karenanya.

    Sejak kecil, saya mengenal Ustadz Abdullah Djaidi adalah orang yang baik akhlaqnya terhadap siapapun, karena kami bertetangga.

    Menurut hemat saya, alangkah baiknya kita juga menempuh jalan silaturahim dan dialog secara langsung untuk menjembatani adanya perbedaan pemahaman. Insya Alloh, banyak hikmah dan barokah yang dapat kita raih.

  • rayyanmaretan says:

    Afwan, saya mau tanya beberapa hal.
    1. Pada bagian judul tertulis “Dialog bersama Kyai Jaidi”. Apakah benar terjadi dialog (tatap muka, berhadapan langsung) antara Abdullah Jaidi dengan pembantah? Apakah itu hanya judul saja?
    2. Sumber kutipan adalah majalah MABADI. Apakah anda masih mempunyai majalah MABADI edisi tersebut? Kalau masih punya, saya ingin antum mengirimkan ke email ana.
    Syukron, mohon segera dibalas

  • […] KENAPA ALERGI DENGAN SALAFI ?! […]

  • Silakan berikan tanggapan...

    %d bloggers like this: